Langsung ke konten utama

aku lelah


Pagi ini aku terbangun, alunan musik dari semalam masih terdengar sama. Ku ambil Handphone ku yang terletak tepat di samping bantal. Sejenak ku pandangi judul lagu tersebut, lirik dengan penuh emosi kerinduan. Aku mengerti itu hanya sebuah lirik lagu, tapi setidaknya pada setiap liriknya mengandung kesamaan dengan perwakilan hatiku saat ini. Aku kembali berbaring sejenak, merasakan ruang ini seperti berputar terlalu kencang. Dengan paksaan aku berdiri, bercermin, kulihat kantung mata yang terlihat begitu jelas bahkan lingkaran panda tercipta begitu pekat. Aku melihat mata ini begitu lelah. Bagaimana tidak, seminggu penuh aku hanya tidur kurang lebih dua jam, makan seadanya itu pun tidak dengan nasi, aku merasa aku tidak berada di tempat ku lagi. Tidak sama sekali

Aku melihat tiga foto lelaki kecil tergantung di dinding kamar ku, tiga foto yang di ambil di tahun yang berbeda. Aku memandanginya sekali lagi, menyentuh ujung-ujung foto itu, terlalu lama aku berkutat memandanginya, aku tak bisa berhenti menangis. Sembab di mataku seminggu ini, sudah membuat pertanyaan bertubi-tubi menghampiriku. Aku hanya bisa tersenyum dan berkata ‘aku hanya lelah, kurang tidur’

Aku kembali duduk di depan jendela kamar, tempat yang selalu menjadi hal utama. Memandangi hijaunya kebun di depan kamarku, aku mengambil gitarku yang terletak di sebelah kanan jendela, aku memainkannya, benar-benar memainkannya dengan seksama, pertama kali ini lah aku bermain gitar dengan air mata yang tak kunjung berhenti bercucuran, ku alunkan melodi dari lagu yang ku putar semalaman, aku benar-benar menangis dan terhanyut bersama lagu ini. Aku berhenti bermain. Aku benar-benar menghentikannya. Aku berpindah, duduk di depan kolam ikan dengan membawa sebuah buku, aku menulis seperti biasanya, tapi kali ini air mataku benar-benar tidak bisa di hentikan. Aku mencoba menulis hal lain, benar-benar berbeda, ku pikir ini bisa mengurangi beban tapi, kali ini benar-benar tak ada gunanya. Aku membuang buku itu jauh dari hadapanku. Tak ingin ku pungut. Aku lelah menjadi seperti ini. Disetiap sudut ruangan rumah ku, aku merasakan hadirmu disana. Aku benci. Aku lelah melihat sosokmu yang tertawa disana, aku menutup mata, kau pelan menampakkan diri. Aku lelah, benar-benar lelah mengingatmu.

Aku lelah mencintaimu seperti ini, aku lelah dicintai seperti ini. Aku tidak meminta apapun dalam keadaan ini, hanya saja pergilah, menghilang sajalah sebentar. Aku benar-benar lelah. Mengingatmu saja, aku sudah sakit, apalagi bertemu lagi dengan mu. Tidak. Tidak lagi. 

Aku menyimpanmu, cukup menyimpanmu saja. Aku mencintaimu, cukup mencintai saja. Aku lelah berbahagia karena kebohonganmu. Aku lelah berada di sampingmu disaat kau benar-benar membutuhkan penopang. Aku lelah berkutat dengan perasaan iba dan sakit setiap kali aku menutupkan mata. Aku lelah membuang banyak waktuku hanya untuk mengingatmu. Aku lelah merasakan seperti ini. Kita sudah sama-sama terluka. Tidak kamu ataupun dia merasakan luka. Akupun begitu. Aku tidak memintamu melihat luka ini bukan? akupun tidak mengajakmu untuk menyembuhkannya. Aku masih bisa tertawa didepanmu, bahkan di depan manusia-manusia yang saat itu memperhatikan kita bertiga duduk terdiam. Aku sudah terlalu lama meradam semua perasaan ini. Aku tidak meminta dicintai seperti ini., sama sekali tidak. 

Aku tidak menyesali apapun disini. Aku hanya lelah. Aku tidak marah, aku hanya ingin berhenti. Aku tak ingin lagi memperjuangkanmu, atau menarikmu. Aku tak ingin berdebat mengenai siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku tidak ingin memperebutkan ‘seorang’ kamu. Aku tidak ingin. Benar-benar tidak ingin. Yang sudah ku sadari kini, aku lelah. Aku ingin kembali memegang prinsip yang sudah pasti kau tau. Aku ingin kembali pada prinsip yang sudah lama ku junjung. Aku lelah seperti ini, merasakan baik-baik saja tetapi aku sama sekali tidak. 

Aku hanya ingin bersikap lebih dewasa, tidak lagi membuatmu sebagai tujuan utama dalam pencapaian target kedepanku, atau tidak lagi membatinkan rasa yang terlalu dalam. Aku sudah tidak ingin lagi mencari tau kabarmu ataupun hubunganmu. Tidak lagi. Aku benar-benar sudah berhenti. Aku benar-benar lelah.
Aku tidak ingin berhenti menulis hanya karena kau pergi dari sini. Tidak sama sekali. Sebelum kau hadir aku sudah terbiasa menulis. Aku tidak ingin mematikan hal yang seharusnya itu sebagai kebutuhanku. Tapi sejenak, aku berhenti menulis tentangmu. Apapun itu. Mengungkitnya seperti ini, cukuplah ini yang terakhir. Aku tidak akan lagi mencoba menghubungimu, sama sekali tidak. Aku sudah mengganti semuanya, semua hal yang kau ketahui, kini sudah ku tukar. Aku benar-benar lelah menjadi perempuan lemah. Aku ingin kembali, benar-benar kembali, tanpa ada yang mengisi. Kau ataupun pria lain saat ini.

how much do I tried pretending like everything is gonna be okay
in the end I can't. so the simple ways that I ever take,
I'm out for a while


Annisa Istiqa Suwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...