Langsung ke konten utama

perempuan juga bisa berharap

'Datang untuk pergi, memulai untuk di akhiri. tapi kita? berada di tengahnya, aku lelah'

aku terperangkap. benar sekali dalam jeratan mu. yang kau lemparkan tepat di jantung hatiku. saat awal yang tak pernah terduga, saat yang tak pernah aku bayangkan, kau hadir. pelan-pelan mengenalkanku pada sebuah rasa. rasa yang sudah sekian lama tak ku bongkar. kau mengorek pelan, lalu menyembulkannya ke permukaan; aku jatuh cinta. 

waktu lalu, saat mulanya perkenalan itu, kau memberiku satu rasa. kau mengaplikasikannya dalam kadar sederhana. aku tak menuai terlalu banyak, tapi kau menyiramnya dengan sempurna membuat aku, dan hatiku jatuh padamu. tepat sasaran, aku menyayangimu. panggilan unik kita ciptakan, seolah itu hanya kita miliki. perhatian dan pengertian, membuat aku sulit membendung rindu ingin berjumpa. walau tak pernah sempat, kita selalu berusaha meyakinkan. petikan gitar halus dan suara beratmu memenuhi pendengaranku. benar, aku damai setelah mendengarkan lagu yang kau persembahkan itu. seperti katamu 'kau menyayangiku'.
kian janggal, waktu memutar segalanya dengan cepat. kau ceritakan masa lalumu, yang tak henti-hentinya meresahkanmu, membuat kau sulit dalam berbagai hal hingga pelan dalam ketidak berdayaanku, kau lebih  meminta mundur sesaat pada kita yang belum memulai apapun. aku? hanya bisa melepasmu pergi. sesering apapun kau ucapkan 'aku perempuan yang terlalu baik' tetap saja kau tak bisa memilihku bukan?

selang kemudian, pudarmu membuat nyeri ulu hatiku. kita, tak lagi berbagi kisah. kau, ternyata tengah berbahagia dengan kekasih barumu. aku, tersenyum memberi selamat dengan kecut, tak kau tanggapi. kita benar-benar hilang. sulitnya aku percaya, kau pergi untuk menyelam pada lautan indah lain hingga kau memilih menetap disana semenatara. dan akhirnya waktu Tuhan membuka peluang untuk kita berkomunikasi kembali, kau dan aku saling memberi salam canggung. tak hangat lagi, kau masih bersamanya dan aku masih mengerutkan hati yang terus-menerus remuk. sampai pada akhirnya, kita cairkan suasana, kita kembali dengan gelak tawa. hingga dinding rapuh yang sempat ku bangun ketika kepergianmu sirna sudah, runtuh tak bersisa. aku kembali kepada perasaan awal.
kita masih berbagi kisah menarik, rekaman suara dan yang terlebih dengan sengaja ataupun tidak sengaja kau, menceritakan segala hal tentang kekasih barumu, yang telah memilikimu. hingga hemoglobinku memanas, denyutku tak bercelah, aku terluka sekali lagi. kau beri aku nyawa untuk kau matikan sekali lagi. aku menangis. benar aku mengisi ulahmu, untuk apa kau datang kembali setelah rasa lalu kau pudarkan tanpa angin dan hujan?

aku tak mengerti hatiku, kau kerap kali mengecewakan dan bahkan aku dengan segenap hati memaafkanmu kembali. kau kira memiliki perasaan ini tidak sulit? kau yang hanya datang untuk pergi membuat aku menggantungkan setiap cerca harapan pada tiap sudut kepingan waktu. melogiskan fikiran, disaat kontaminasi hati kuat pada memori mu, aku tak berdaya!

jadi, kau datang lagi. aku masih menolerir dengan segenap harapan kau berbalik memilihku. kau bercerita, kau dan dia berakhir. hatiku sedikit lega, bukan aku ingin egois, setidaknya kalimatmu itu membuat relungku sedikit damai dari rasa sakit yang selama ini kurasa. kau kembali, disisiku berbagi cerita lagi. kali ini kau membuatku kian tak bisa menghentikan perasaan ini. benar, aku sudah terlanjur menyayangimu.
hingga hari ini, kita masih bersama tanpa ikatan apapun, membuat aku terus bersabar menunggu kepastianmu. aku tak memaksa apa yang seharusnya aku pertanyakan, aku biarkan kau mengaturnya. selama ini, apa aku meminta banyak? satupun tidak.

lagi-lagi, akhirnya aku lelah pada cerita ini, bukan hatiku, tapi cerita kita. kita tak pernah memulai apapun. tidak sekalipun. kita hanya membiarkannya mengalir. hingga jantungku bergetar, apa benar hatimu untukku? aku yang tak mengerti, terus berpegang teguh pada pondasi harapan sendu yang kian lama tak menepi jua. seperti pada lingkaran yang hanya berkutat diputaran itu saja. 
selayaknya perempuan, aku wajar tidak memulai. aku terlalu menghargaimu, perasaanku dan penantianku yang mengajarkan aku untuk tak meminta banyak. aku terbiasa berharap dan berandai-andai, kau dan aku benar menjadi kita suatu saat. apa mungkin? aku peremuan, aku juga bisa berharap.

kita tak menemui tepian, apa karena samudera terlalu luas, apa yang harus kita lakukan? haruskah aku yang berjuang sendiri? bukankah, semua akan terwujud jika kedua belah pihak sama-sama berjuang?



'it when, i knew what love is = Not Lead'

recommended story by DSP


write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...