Langsung ke konten utama

sementara meninggalkan kenangan

sudah tidak terasa, waktu ku ternyata berbatas. selang, hari-hariku akan menemui sosok-sosok baru. apa aku akan bisa bertahan lebih lama? tapi mereka meminta aku untuk kuat. aku pasti sukses!

4 tahun silam, aku masih mengenakan seragam putih-biru. masih bocah ingusan yang baru mengenal cinta. masih anak kecil yang suka bersuara keras. masih gadis berkacamata yang tak bisa diam. lanjut aku mulai mengenakan putih abu-abu. jalanku, ternyata disini lebih singkat namun kenangan di dalamnya membuat aku meremang. aku dilanda kerinduan mendalam.

aku mengenal keluargaku disini;  mereka semua
betapa banyak yang mengukir dijalan hidupku, melukiskan memori yang akan kuingat dan kubawa selalu. sadarku, memintaku membuka mata bahwa getaran jiwa ku menggema dari kalbu, menyeru bahwa aku tak siap meninggalkan mereka disini.

kemarin, senyumku merekah, melihat wajah-wajah makhluk Tuhan yang selalu kurindui. Papa, Mama, Yuqi. isakan tangis yang tak terbendung ini, ku lampiaskan dengan memeluk mereka lama sekali. mendaratkan kecupan dipipi masing-masing mereka. aku tak sanggup lagi menyembunyikan rasa sedih ini. aku selalu, dan akan terus berharap kepulanganku lebih cepat dari apa yang di targetkan. berharap berlama-lama mengukir kenangan bersama keluarga kecil ini, yang sempat terlupa.

kemarin, di ambang gerbang sekolah, jantungku berdebar lebih kencang. SMAN 3 PADANG. kusalami semua guru dan para staff bahkan ibu kantin. bergetar saja jemari ini, mendengar nasihat-nasihat yang mereka beri. ku simak dengan teliti, mereka guru yang berarti. ku sadar, mereka yang terbaik. terima kasih Bapak, terima kasih Ibu guru.

hari ini, senyumku merekah lagi, melihat wajah sahabat-sahabatku hadir memunculkan diri di depan pintu rumahku. mereka ramai, membuat nafasku menderu lebih cepat. aku ingin menangis, benar! ingin menangis. rasa miris di dadaku membuatnya sedikit nyeri. aku akan merindukan makhluk-makhluk Tuhan yang telah menghabiskan masa-masa remaja bersamaku ini.
mereka bercanda seperti biasa, membuat lelucon keakraban. menyatu layaknya hari itu atmosfer kelabuku bersembunyi sementara. aku meminta salah satu dari mereka menyanyikan sebuah lagu perpisahan. hatiku lagi-lagi serasa di hantam. apa aku bisa menemukan yang seperti ini lagi? mereka sudah seperti keluarga besar yang menyatu dalam hemoglobin ku.

renyah tawa mereka membuat sudut-sudut hatiku meronta. aku mengiba terlalu lama. kubaca helai demi helai tulisan tangan mereka. yang menuliskan harapan mereka untukku. membaca dengan linangan air mata ini benar-benar takkan terlupa. dan tak tertinggal, pemberian-pemberian yang mereka bungkus dalam kertas kado, pemberian mereka dalam wujud buku untuk  terus kubaca. aku menggila luar biasa! aku jatuh cinta pada setiap kenangan yang menggores jalanku. mereka SAHABATKU.

dentuman waktu mulai mempercepat geraknya. waktuku kini sudah selesai, untuk sementara meninggalkan kenangan di kota kelahiran. aku bersama kenangan, membawa mereka sejauh aku berpetualang. menuntut ilmu, itu yang mereka harapkan. kepulangan yang mereka nantikan. dan pertemuan yang akan ku rindukan.

bersama dengan malam ini, aku menghembuskan nafas, aku siap sementara meninggalkan kenangan. jarak mungkin akan memisahkan, tapi aku yakin, kenangan selama ini masih tersimpan rapat dalam memori yang terkunci. aku dengan jalanku. mereka masing-masing dengan harapannya pula.

terima kasih untuk segala persahabatan ini. segala yang membuat aku belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa. dengan kata lain, disuatu hari tanpa nama aku akan hadir mengumpulkan semua kenangan. apapun takkan ada lagi yang tertinggal. selamat tinggal semua, aku akan merindukan ini semua. sampai jumpa di masa yang akan datang.



salam hangat


Annisa Istiqa Suwondo
6 juli 2013

Komentar

tyaribrahim mengatakan…
Biarkan hati membidik apa yg dia cari..sesungguhnya mereka tak akan hilang begitu saja ketika kau pergi..

Takdir hidup akan terus berjalan..tak ada larangan ketika kau ingin melihat ke belakang..namun ingatlah apa yg ada di depan adalah sebuah batu loncatan dlm hidupmu..mereka tak ingin melihat kau gagal melewatinya..

Salam hangat mu buat mereka akan selalu membuncah apa lg ketika mereka merindumu..begitupun dengan mu

Tetap semangat iti,doa mereka (pasti) selalu ada di sisimu

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...