Langsung ke konten utama

apa yang aku fikirkan, itu tentangmu (lagi)

Saat rintikan hujan pertama aku menuliskan sebuah nama
Tertulis dengan jelas ku ukir namamu dengan tinta hitamku di sudut ruang
Dari awalnya hingga akhirnya mengenaimu, dirimu, dan senyummu
Mengepakkan sayap hatiku dengan indah, karena mu

 Satu detik sudah cukup bagiku, memandangi wajahmu dari khayalku
Menunggu kabarmu sudah menjadi kebiasaanku
Menepikan sepi yang berbalut rindu dari jarak yang membentang jenuh
Langit-langit hati memendung hingga hujan di ujung mataku turun

Entah harus berapa lama waktu akan berpihak
Entah harus berapa lagu dan puisi yang ku tuliskan tuk menepikan sepi
Kau bagai simfoni hati yang menyahut dari kegelapan
Rinduku meronta kehadiranmu, tapi kita tak berdaya ini bukan waktunya

Dahulunya saat mata masih bisa saling memandang
Tak ada yang bisa terucap, tak ada kalimat hanya senyum simpul
Perwakilan hati tak kunjung berbalik memberi kabar
Enyah kah perasaan dengan luka lama?

Tidak, rasaku belum selesai, tidak sama sekali
Sudah sekian lama ku menjaganya dalam titipan rindu
Kau tak akan tau, karena kau tak pernah ingin mengetahui
Betapa duka itu sekian lama berkutat erat bahkan dalam

Sudahlah, masalah kini hanya ´aku merinduimu`
Layaknya rasa yang tak pernah ada habisnya
Tak ada yang mengerti tentang perasaan yang terlanjur bersabar
Kau, akan tetap menjadi yang terindah

Walaupun kau menjadi yang tersulit sekalipun
Walaupun duka ketika menantimu menajam pada akhirnya
Ataupun jika ribuan duri menusuki relung-relungku
Kau adalah satu dan satunya yang akan tetap utuh


Jika diwaktu yang berbeda kau masih bertanya
Mau di katakan bagaimanapun itu sebuah perasaan yang belum usai
Meskipun waktu takkan memberiku kesempatan
Tapi kenanganmu, selalu membuatku sulit untuk lupa

"tentang kamu, tentang aku, tentang kita yang singkat namun .... "



late post,


write by @istiqasuwondo

Komentar

Anonim mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...