Langsung ke konten utama

pendapat perempuan itu

ketika Tuhan meminta kita mundur sejenak, seharusnya yang dilakukan adalah terus berdoa bahwa pilihan Tuhan lebih tepat dari pengharapan.
siapa yang mengerti dengan hati seseorang, apa yang ia rasakan, apa yang ia simpan, bagaimana ia menghadapinya ataupun sebagainya. jika, salah satu pertanyaan terlontar mengenai perasaan, banyak pendapat yang berbeda bermunculan. saat duniamu membentang lemah didepan, tak pernah ada yang bisa membuatmu kuat, yakini hatimu bahwa perasaanmu lebih berharga di banding apapun. dan disaat kau di hadapkan pada dua pilihan yang mungkin tak bisa kau katakan dalam waktu yang singkat, ingatlah apa yang membuatmu berfikir pertama kali.

saat ini, ada seorang perempuan yang mungkin dikatakan ia sedang pasrah pada hatinya. ia merasakan banyak beban di kepalanya. mengenai perasaannya, terbengkalai sejak lama. yang dia lakukan hanya bermain pada masa lalunya, berhadapan dengan masa depannya. ia mengatakan bahwa apa yang ia rasakan sepenuhnya bukanlah yang terlihat dari apa yang ia perlihatkan.
ia pernah mengatakan, bahwa hatinya sulit bermuara dengan cepat. ia juga pernah mengatakan bahwa jika perahunya sudah berlayar di satu dermaga, ia akan tetap tinggal di sana. entah ia bermaksud apa, menurutku hatinya sudah berlarut-larut patah. 

waktu itu, aku menanyakan hal yang membuatnya berfikiran tentang tinggal di sebuah dermaga, ia hanya mengatakan "aku diciptakan Tuhan untuk sekali menyangi seseorang, dan aku sudah memberinya pada satu orang yang menurutku dialah orangnya". aku bertanya lagi untuk apa menentukan hal itu, sedangkan waktu belum tentu berpihak pada setiap orang, dan Tuhan juga belum tentu memilih lelaki yang ia pilih menjadi belahan jiwa yang selalu ia sebutkan. lagi-lagi dia mengatakan "aku tau hatiku, aka tau bagaimana rasaku, aku tau apa yang seharusnya aku lakukan, aku memilih dia bukan karena aku tidak memiliki tujuan dan terus berkutat dengan hal yang sama, tapi untuk apa mencari jika kau sudah yakin? Tuhanmu akan mempertimbangkan usahamu, jika kau memintanya setulus yang kau bisa. aku berkata seperti ini bukan berarti aku bodoh seperti banyak orang yang memikirkannya, aku membuatnya menjadi hal positif, bukan untuk terus-terusan memaksa. aku hanya melakukan hal yang sudah di wajibkan kepada manusia; bersabar dan ikhlas." 
aku terdiam, perempuan ini benar-benar berfikiran aneh, aku bertanya lagi jika seandainya lelaki yang ia harapkan bukan sebaik yang ia fikirkan ataupun tidak memiliki rasa sebesar yang ia persembahkan. dan ia hanya menjawab "jika, orang mengatakan mustahil jika tidak pernah ada rasa memiliki ketika kau menyayangi seseorang, mungkin benar. tapi selama aku menyimpan lelaki itu, aku belum berfikir memilikinya sebesar aku menyayanginya. bagiku, jika ia ingin bertukar kabar itu sudah lebih dari cukup. jika ini masalah tentang apakah dia memiliki rasa sebesar apa yang aku rasakan, maaf jangan tanya aku, aku tidak berhak menjawab pertanyaan itu. bagiku, perasaaku untuk dia saat ini adalah sesuatu yang berharga yang harus aku simpan, jika dia tidak memilikinya, dia tidak akan ingin berada di samping ku dan bertanya bagaimana kabarku. simple kan? apa yang harus kamu fikirkan jika kamu menjalankannya dengan ikhlas?"

"satu lagi, ada kata-kata yang sempat aku kutip dari sebuah film ´embun tidak butuh warna untuk membuat daun jatuh cinta´ dan begitulah bagiku, dunia ku masih terlalu panjang untuk berganti-ganti perasaan jika perasaanku pada satu orang saja masih tiada habisnya. kisah yang dialami manusia beragam, aku dan kamu juga pasti berbeda apalagi dengan mereka yang lain. banyak yang indah dan yang buruk, jika aku salah satu yang buruk, kembali pada pepatah semua akan indah pada waktunya. memberi jangan pernah pamrih begitu juga dengan perasaan."

lalu aku memutuskan menerima alsan perempuan keras kepala itu. aku menimbang kembali pemikirannya, ternyata memang benar tentang perasaan pemikiran seseorang akan terus berbeda. dan sebelum aku meninggalkannya dia tersenyum padaku dan berkata

"tidak semua orang memiliki perasaan utuh dan memiliki rasa untuk bertahan. hanya saja, dunia mereka yang bersikeras pada perasaannya. bagi mereka cinta itu tanpa syarat dan tanpa alasan mengapa ia bertahan begitu lama"




write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...