Langsung ke konten utama

Das heiß "Heimweh"

Dies Artikel nur Text Produktion für lernen. Wenn ich viele Fehler habe, Entschuldige ich mich :)

Ich heiße iti. Ich bin seit 3 Monate in Deutschland. Ich studiere hier. Jetzt, lebe ich in Aachen. Aachen ist kleine Ort von Deutschland. Aachen ist schön, aber meine Heimat ist am schönsten. Deutschland ist kälter als meine Heimat. Ich lebe gern hier, aber es gibt Tage, an denen ich meine Heimat vermisse. Ich vermisse meine Familie, meine Freunde, das Essen, das Wetter und alles in meiner Heimat. 

Ist das "Heimweh?"
Ja, natürlich! Ich war sehr traurig und wenn ich allein bin, manchmal glaube ich dass ich nach Hause zurück würde, aber ich kann nicht. Es gibt mehrere Probleme. Niemand kann mir helfen. Obwohl ich in der Zeit lachen, in andere Zeit möchte ich weinen.

In Deutschland hat viele unterschieden mit Indonesien. zum Beispiel: die Leute. die Leute sind kälter als in Indonesien, aber sie sind freundlich auch. Wenn ich meine Familie oder meine Freunde vermisse, telefoniere oder skype ich mit ihnen. Ob ich Kapitulation muss? Nein! natürlich.
Mein Vater sagte mir, dass ich für meine Studie Konzentration muss, weil er mich nach Indonesien zurück gehen später möchte. 

Indonesien, was ist das? 
Ja, meine Heimat. Wo ich geboren bin, Wo ich gewachsen bin, Wo ich mit meiner Eltern zusammen lebe, Wo ich viele Freunde habe, und wo ich fühle kann. 
Indonesien ist großes Land. Sumatra, Java, Kalimantan (Borneo), Sulawesi, und Jayapura sind fünf großes Land. Ich komme aus Sumatra Barat aus Padang. Ich lebe gern in Padang. Padang ist eine kleine Ort von Indonesien, aber es gibt viele Kultur. Das Essen, wo ich viele essen möchte. zum Beispiel, wenn ich Rendang esse, fühle ich wie Padang.  

Ich werde weiter hart studieren, arbeiten und Geld sparen, denn ich weiß, dass ich irgendwann zurückgehe. Dann werde ich dort bleiben, ein Hause kaufen. Ich werde dort verheiraten mit ´dem Mann´ , eine Familie gründen und glücklich leben. Das wäre alles für mich.

Was kann ich tun? 
Ok, kein Panik. Viel glück und viel lernen muss. Ich kann es tun! Warten auf mich Indonesien!


Liebe grüße,

Annisa Istiqa Suwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...