Langsung ke konten utama

yang bukan dan yang akan


kenangan yang datang akan menutupi segala kemungkinan yang ada. apakah seperti itu? mereka bilang tidak mungkin, tapi kenyataan yang menghapiri malah kebalikan dari segalanya. segala hal yang sempat di simpan rapat, ketika sosok itu datang kembali tersenyum sambil berseru riang dapat meluluhkan dinding-dinding yang belum usai di bangun. adakah kesalahan setelah ini? bukan, masalahnya penyayat hati itu berubah menjadi jinak, tersenyum indah sambil berkata `jangan membenciku´ akupun terluluh lantah, tak berdaya dan kembali membongkar habis segala yang tersimpan rapat. aku terus merindukannya.


ada yang mengatakan, bagaimana kah perasaanmu? seharusnya kau mengingat dia, bukan yang satu ini. adakah harus ku jelaskan tentang apa yang ku simpan tanpa banyak orang mengetahui? liku-liku menjalani hari dengan berpura di depan yang satu ini memang sudah membuat ku belajar setengah mati, mencari jalan yang tak pernah terfikirkan, menahan segala hal yang dapat diketahui orang-orang. apakah aku harus berbelit-belit lagi, mencari masalah agar yang satu ini terlupakan dan oran-orang tak mengingatnya lagi? macam skenario yang disusun sutradara. haruskah aku mengulangnya? membuat hati orang-orang terluka hanya untuk menyembuhkan luka ku yang belum habis kering? haruskah lagi aku menyayat hati wanita lain untuk merasakan penderitaan ku? tidakkah aku begitu kejam? adakah balasan untukku yang memilih jalan egois dalam menutupi rasa lelah yang menyakitkan jiwa? ini pertanyaan yang takkan ada jawaban untuk penyelesaiannya. 

aku berhenti dalam segala hal merebutkan hal yang seharusnya tidak pernah pantas untuk ku rebut. tidak, bukan karena ingin mengalah, karena itu bukan hal yang seharusnya aku lakukan, bukan lelaki itu yang ku simpan begitu dalam, bukan dan bukan. ia hanya lelaki yang benar-benar merubah ku, entahlah hanya dia yang tau apa yang membuatnya merubahku. bukan dia lelaki yang tercatat dalam pikiranku bertahun-tahun. bukan dan bukan. sebelum dia hadir untuk ke tiga kalinya, ada satu yang tidak pernah bisa mengambil posisi lelaki yang sudah ku simpan dalam. bukan dia lelaki yang ku harapkan datang saat kepulanganku, bukan dia yang ku tulis namanya dalam setiap lembaran buku harianku, bukan dia, bukan dia. dia bukan satu hal yang ingin ku perjuangkan, seharusnya mereka tahu itu. tapi, mereka terus berfikir bahwa aku terus menariknya dalam ceritaku, bukan dia, bukan. 

aku ingin lari, lari dan lari dari segala hal yang mengejarku di belakang, mereka membuatku seolah ada sesuatu yang ku buat terluka begitu dalam, memang ada tapi itu bukan lah seorang lelaki melainkan seorang wanita yang mungkin hatinya lebih rapuh melebihiku, tapi seharusnya jika di pertanyakan, kemana pemikiran kalian tentang luka hatiku yang begitu luar biasa sakit karena sebuah penghianatan dan kebohongan seorang bermulut manis? apakah tidak berfikir sedikitpun, tentang jiwaku yang sempat hening dalam beberapa waktu. penyesalanku benar-benar diluar dugaan, bahkan untuk memaafkan tidak bisa terucap dengan mudah, seperti kata mereka, luapkan biarkan mereka banjir seperti air hujan. tidak, aku tidak bisa.

aku lari, lari dari kenyataan, bukan tidak menyelesaikan masalah, aku sudah menyelesaikan semuanya. hanya saja, tidak bisakah aku hidup dalam dunia baruku dengan tenang tanpa kehadiran lelaki sepertimu lagi? ataupun tanpa perempuanmu lagi? aku ingin jauh dari segala hal yang dapat menyakiti hati banyak orang. memang aku sudah kebal akan sakit, aku sudah tidak peduli lagi dengan sakit yang banyak orang berikan selama ini. aku, hidup bukan untuk membuatmu menjadi tujuanku, ataupun berebut mendapatkanmu. hidup yang ku inginkan, tolong izinkan aku berjalan dengan pemikiranku, jangan hadir dan jangan mencoba menjadikanku objek rasa bersalahmu. karena kau bukan satu-satunya cerita yang ada dalam hidupku.

kembali kepada paragraf pertama, aku menutupi dia dari banyak hal, dari segala hal yang dapat merusak keberadaannya dalam penglihatanku. menjadikannya inspirasiku untuk terus belajar, mungkin lelaki itu di takdirkan untuk memberikan hal baik dalam hidup manusia di dekatnya. senyumnya yang dapat membuat orang lain tersenyum, sudah cukup. walaupun, dia adalah seseorang yang pertama melukai hatiku, tapi dia tetap menjadi orang pertama yang menyembuhkannya dengan senyumnya, ucapannya, bahkan perilakunya. dia bukan seseorang yang terkenal di mata dunia, dia bukan juga seseorang yang dapat memberikan barang mewah, hanya saja dia selalu mengajarkanku akan kesederhanaan, walaupun tidak pernah diucapkannya aku belajar dari perilakunya. pendapatku tentangnya selalu begitu tak berubah.

akan ada ceritanya, kisahku berhenti pada satu orang yang selama ini kusimpan. akan adakalanya saat itu, mereka berkata aku mendongeng dengan indah, itu menandakan mereka tak berjalan bersama kisahku yang mereka sebut dongeng. akan ada saatnya cintaku meluap sambil mengatakan kejujuran kepada lelaki itu, akan ada saatnya pula ia pergi berlari menghindari kenyataan yang kusebutkan, akan ada saatnya aku lelah menunggu, tapi aku terus menunggunya dengan kelelahanku yang sudah tak memiliki berbatas, akan ada saatnya aku berani mengusap air mataku sendiri, menangisi kelelahanku dan berdiri kembali. akan ada masanya aku terus berjalan pada porosku, sambil memegang teguh segala rasa iba, dan akan tiba saatnya dia datang kembali, menyambutku dengan lembut dan pada akhirnya dia akan menjadi satu-satunya dan akupun akan menjadi satu-satunya pula.

semua masa itu berarti, semua kenangan adalah pembelajaran untuk terus kuat menghadapi badai, rasa sakit tak hanya datang pada satu sisi, tapi buatlah semua sakit dan kesedihan menjadi satu tempat khusus untuk membuatmu belajar untuk terus kuat, dan percaya pada dirimu sendiri, karena apapun bisa terjadi didunia ini.
jika perasaanmu belum usai, jangan usaikan karena hati takkan pernah salah, getaran hanya hati yang bertanggung jawab setelah otak selesai meringkas satu hal yang terpotret. 


write by @istiqasuwondo

Komentar

Anonim mengatakan…
(y)

Postingan populer dari blog ini

Karena kau pantas mencari penggantinya

“kamu bertahan untuk apa? Memutar waktu? Membalikkan hati manusia yang sudah tak mengingatmu?” seru Anita  Dalam rintikan hujan, Dinda termenung memikirkan setiap rangkaian kata dari Anita. Dalam pikirannya hanya bermain-main satu orang laki-laki yang sejak dulu tak ingin ia lupakan.   Ia bertahan karena ia percaya bahwa keajaiban akan mengembalikan hati lelaki itu. Ia tak pernah bosan untuk bertahan menanti, walau ia tau bagaimana rasanya di abaikan berkali-kali. Andai waktu dapat menjawab hati manusia lebih cepat, penantian mungkin takkan pernah berujung lama dan penuh tanda tanya seperti yang terjadi pada setiap manusia saat ini. Andai rasa bisa di hapus dengan lebih cepat tanpa harus menunggu waktu, pasti tak banyak manusia yang merasakan luka dan rasa iba setiap saat. Tapi, waktu terlalu sering bermain-main hingga ia berlama-lama mengguncang hati manusia setiap kali manusia terluka. *** “bagaimana sudah berfikiran jernih?” tanya Anita tiba-tiba “ti...

saya bercerita sedikit

  hello semua para pembaca, ini cerita saya kemarin 8. Oktober 2013 selamat membaca dan melihat beberapa foto yang tertera :)   cerita kemarin, kemarau sudah mulai menampakkan jati dirinya. pepohonan mulai menguning dan gugur satu per satu. udara yang begitu dingin membuat tubuh sedikit menggigil. namun tidak menghalangi niat saya untuk terus berjalan dan mencari tahu seluk-beluk kota ini. ini dia salah satu taman kota yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya.  -Ronaldstrasse- haltestelle berkunjung kesana untuk pertama kalinya, dengan modal nekat tanpa tau tempat lebih tepatnya. berjalan bersama seorang teman sehabis pulang kursus, setidaknya melupakan sedikit beban kepala yang begitu menumpuk. balik lagi, taman ini sewaktu saya berkunjung tidak begitu ramai, mungkin di karenakan masih terlalu siang, banyaknya pohon membuat rindang taman ini, saya tidak banyak memotret tapi coba lihat beginilah kira-kira keadaan taman yang saya kunju...

kau biarkan aku berperang sendirian

tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat. depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sa...