Langsung ke konten utama

this is my journey #1

gadis itu berlari-lari kecil ketika sang papa datang membunyikan klakson mobilnya. ia berlari kencang menuju sumber suara. membuka pintu mobil dan duduk disebelah papanya. bercerita apa saja yang ia alami seharian penuh ini. dan turun dengan di gendong sang papa. gadis itu saya, Adeline. dalam usia yang sangat muda saya bergerak kemana saya ingin, melakukan apa yang saya suka. tak henti berbuat semau saya, toh tidak ada yang melarang. saya ingin ini saya ingin itu, mereka memenuhi tanpa berkomentar panjang. lautan boneka memenuhi kamar saya. aneka jenis permainan tersusun rapi dalam lemari kecil yang memang tersedia untuk menyimpan segala milik saya.
bagi saya, menjadi anak pertama dan satu-satunya adalah hal yang paling indah. saat itu. walaupun, mama dan papa tak terlalu sering ada di samping saya, tapi sahabat saya yang berserakan di atas tempat tidur sudah mewakili keheningan rumah yang tidak terlalu besar itu.

setiap malam, saya terbiasa dengan papa begadang, hanya untuk menonton acara 'smackdown' itu acara favorit kami, dengan semangkok Mie Instan. dalam keheningan malam, kami berteriak. pemain favorit kami saat itu adalah the rock dan john cena. papa kerap kali menemani saya, karena kebiasaan saya yang sulit tidur cepat. hingga kami membuat mama terbangun. atau setiap malam sebelum tidur, papa tidak pernah berhenti berdongeng. menceritakan ribuan kisah kancil yang sudah begitu banyak beliau revisi. yang saya heran kenapa, papa tidak pernah menceritakan kancil dalam versi mencuri ketimun.
atau jika papa pulang larut, mamalah yang bersedia mengganti papa, walau cerita mama tidak sebagus cerita papa. tapi, itu hal yang sangat menyenangkan bisa mendegar dongeng sebelum tidur.

ini waktunya saya berkunjung ke kampung halaman mama. menurut saya ini jauh dari rumah, dan saya yang saat itu tidak mengerti. saya tinggal disana bersama saudara dan nenek saya. lama saya tak melihat kedua orang tua saya. ulang tahun kedua sayapun terlewat tanpa mereka. saya tak merasa ada yang hilang saat itu. kelakuan bocah tengil seperti saya saat itu hanya tau bermain, berlari kesana kemari, makan dan tertidur. tak ada satu haripun saya lewatkan dengan bermenung. 
sebisa saya bisa, berlari keluar setidaknya duduk diatas pohon, atau sekedar mengganggu kakak-kakak saya yang sedang mengaji di pondok dekat rumah nenek. melepas rok dan menggantinya dengan celana. meminta uang dengan nenek hanya karena ingin mencoba membeli chiki di warung depan. sampai-sampai nenek kerap kali memarahi saya.

lama sudah berada di kampung, akhirnya kedua orang tua saya menjemput saya kembali pulang. mereka telah selesai melaksanakan tugas dengan baik. ini pengalaman pertama saya menaiki pesawat. sewaktu dulu, papa sering bercerita tentang cerita anak si kancil yang selalu dirubah-rubah. kali ini saya mengingat salah satu cerita papa, 'kancil naik kapal terbang'. 
waktu kecil saya tidak tahu apa itu kapal terbang, yang saya tahu hanya kapal di atas air. seperti banyak kapal air yang ada di kantor papa. saya melonjak setinggi saya bisa menarik ujung celana papa sambil mengatakan 'kapal terbang hore!!' mama dan papa hanya tertawa.
di sepanjang perjalanan Medan-Padang yang kira-kira ditempuh selama 45 menit membuat saya tak henti-hentinya menatap kebawah jendela sambil mengoceh seberapa tinggi kita dari atas sini. papa terus bercerita bagaimana pesawat itu terbang, kenapa pesawat itu lebih cepat. papa menggunakan bahasa yang mungkin kala itu saya tidak mengerti.

saya kembali menemui istana boneka saya. para sahabat-sahabat saya ternyata telah menunggu. sudah lama sekali saya tidak melihat muka mereka. mereka ada tiga orang. sebut saja Rani, Dea dan Zizi. mereka adalah teman pertama saya, berhubung kami tinggal berdekatan. dan mulailah kejahilan demi kejahilan saya lakukan.
mulai dari membuang sendal Rani, memasukkan kecoa kedalam sepatu Zizi atau mengacaukan kamar Dea. tidak hanya itu, mulai dari memecahkan gelas hias rumah orang, dikejar-kejar anjing, main hujan hingga lupa waktu, hingga saya tidak di perbolehkan mengaji di mesjid oleh mama saya karena saya sudah keterlaluan. katanya. jika diingat waktu itu mungkin, saat guru ngaji saya sedang mengepel mesjid, dengan sengaja dan tersenyum manis ember itu saya tendang dan alhasil lantai menjadi basah sekali. tapi itu menyenangkan bukan? 

dan tepat dihari berikutnya, kakak sepupu saya datang untuk menjaga saya. namanya kak Soni dan setelah kak Soni datang, saya selalu bertemu dengan masakan enak dan dimanja dengan sangat menyenangkan walau terkadang kak Soni pusing dengan kelakuan saya yang suka bermain panas-panasan diluar tapi dia tak pernah mengeluh menjaga saya. kenakalan saya semakin bertambah sejak saya memasuki sekolah dasar.

tahun pertama yang mungkin jika di kenang sangat lucu, bagaimana saya berjalan seperti orang sombong sambil memamerkan uang 2 ribu rupiah yang dulu mungkin sudah banyak sekali. menatap tajam anak-anak yang saya rasa aneh. hingga melemparkan batu kepada mereka yang melihat saya dengan tatapan yang tidak bersahabat.
beruntung, kepala sekolah saya adalah beliau yang sering kali menjaga saya ketika dulu mama dan papa saya terlambat pulang. jadi saya tidak pernah takut selama kepala sekolah itu adalah orang yang saya kenal. dalam tahun pertama, saya sudah banyak membuat kekacauan. lebih dari apa yang sudah tertulis tadi, hingga saya di panggil kepala sekolah untuk belajar bersikap lebih sopan. dan pada saat itu akhirnya saya mencoba. hingga satu hari, saat pelajaran matematika, ibu guru menjelaskan tentang pertambahan dan pengurangan. saya ingat betul bagaimana saya dulu sulit sekali melakukannya. sampai saya di jitak berkali-kali. dan akhirnya saya menangis sambil mengomel kepada sang guru. 
tidak peduli, yang saya rasakan saat itu sakit sekali di jitak berkali-kali.

masuk pada tahun kedua, kepala sekolah berganti. dan saya tidak bisa lagi berkelakuan ektrim. paling tidak saya hanya menyandung salah satu siswa yang melempar saya dengan kacang goreng, hingga dia jatuh dari tangga dan saya tertawa dengan terbahak-bahak. teman, saat itu saya punya.

dan ditahun ketiga, setelah selama 9 tahun saya sendiri tanpa seorang saudara, akhirnya adik saya lahir! ini tahun yang membahagiakan untuk saya, adik saya lahir dan nilai saya bagus. adik saya bernama Yuqi. dalam situasi membahagiakan seperti ini saja, sempat-sempatnya saya membuat sedikit kekacauan di rumah sakit.
ceritanya begini, karena ini pertama kalinya saya naik lift. saya dan teman-teman saya Rani, Dea dan Zizi lasak ingin berjalan-jalan dirumah sakit yang besar itu dengan alasan 'aku mau liat adek di dalam tabung' kami berlari dan menaiki lift. silih berganti orang didalamnya tapi kami masih berada di dalamnya, hingga sang suster yang melihat tingkah kami, marah. akhirnya kami masuk dengan asal memencet angka dan akhirnya kami tersesat. sekian lama berputar akhirnya kamar mama ketemu juga.

hingga hari-hari yang saya lalui sebagai kakak berlangsung sangat menyenangkan. melihat adik kecil saya yang begitu lucu membuat saya betah berlama-lama dirumah. karena orang dirumah saya ramai dikunjungi oleh tentangga dan saudara-saudara. betapa saya ingin menggendongnya tapi, tidak pernah dibolehkan.

'ini sudah waktunya kita pindah rumah' ucapan papa terngiang di kepala saya.



bersambung

write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kau pantas mencari penggantinya

“kamu bertahan untuk apa? Memutar waktu? Membalikkan hati manusia yang sudah tak mengingatmu?” seru Anita  Dalam rintikan hujan, Dinda termenung memikirkan setiap rangkaian kata dari Anita. Dalam pikirannya hanya bermain-main satu orang laki-laki yang sejak dulu tak ingin ia lupakan.   Ia bertahan karena ia percaya bahwa keajaiban akan mengembalikan hati lelaki itu. Ia tak pernah bosan untuk bertahan menanti, walau ia tau bagaimana rasanya di abaikan berkali-kali. Andai waktu dapat menjawab hati manusia lebih cepat, penantian mungkin takkan pernah berujung lama dan penuh tanda tanya seperti yang terjadi pada setiap manusia saat ini. Andai rasa bisa di hapus dengan lebih cepat tanpa harus menunggu waktu, pasti tak banyak manusia yang merasakan luka dan rasa iba setiap saat. Tapi, waktu terlalu sering bermain-main hingga ia berlama-lama mengguncang hati manusia setiap kali manusia terluka. *** “bagaimana sudah berfikiran jernih?” tanya Anita tiba-tiba “ti...

saya bercerita sedikit

  hello semua para pembaca, ini cerita saya kemarin 8. Oktober 2013 selamat membaca dan melihat beberapa foto yang tertera :)   cerita kemarin, kemarau sudah mulai menampakkan jati dirinya. pepohonan mulai menguning dan gugur satu per satu. udara yang begitu dingin membuat tubuh sedikit menggigil. namun tidak menghalangi niat saya untuk terus berjalan dan mencari tahu seluk-beluk kota ini. ini dia salah satu taman kota yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya.  -Ronaldstrasse- haltestelle berkunjung kesana untuk pertama kalinya, dengan modal nekat tanpa tau tempat lebih tepatnya. berjalan bersama seorang teman sehabis pulang kursus, setidaknya melupakan sedikit beban kepala yang begitu menumpuk. balik lagi, taman ini sewaktu saya berkunjung tidak begitu ramai, mungkin di karenakan masih terlalu siang, banyaknya pohon membuat rindang taman ini, saya tidak banyak memotret tapi coba lihat beginilah kira-kira keadaan taman yang saya kunju...

kau biarkan aku berperang sendirian

tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat. depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sa...