Langsung ke konten utama

kamu belum tau rasanya menjadi aku

purnama indah mengintip dari gulitanya malam kemarin. purnama itu, membuat aku merinding kesakitan. bukan tubuhku, tapi jeritan batinku yang kian lama merontakan namamu. kian lama kian menggerogoti relung jiwaku. aku mungkin yang terlalu lama menyikapi, kau hanyalah bualan senja kemarin yang sudah tertelan mentari. aku dengan segala upayaku menopang kaki, untuk berdiri. aku sudah jatuh sejak lama dan kau penyebabnya.

untuk apa aku mempertahankan rasa aneh ini selama bertahun-tahun? kau tak pernah menggubris kesakitanku, apalagi penantianku. kau datang dan pergi sesukamu, menyematkan pelangi lalu memberikan badai setelahnya, begitu berulang-ulang. dan dengan keseringan, aku memaafkan dan terus menunggu kepulanganmu.

aku, menuai luka hari demi hari, melihatmu dengan mudah berganti hati. sukma kalbu suci yang selalu kau ceritakan padaku tempo dulu, apa seperti itu? kau yang mengajariku tentang ketulusan tapi malah kau yang tak terbiasa pada ucapanmu. dengan mentah kau ucapkan, aku tak berarti, kau pergi lalu menarikku kembali. untuk berapa lama lagi kau akan seperti ini?

pernahkah sedikit saja di pikiranmu merasakan menjadi aku?

aku yang rela menghabiskan waktu untuk menunggu kepulanganmu, menggenggam seluruh harapan bahwa kau akan menyematkan jemarimu di sela-sela jemari kecilku, aku yang terus berusaha menjadi lebih baik untukmu, aku yang terbiasa kau buang, aku yang selalu bergegas menghampirimu ketika tak ada satupun manusia yang ingin mendengarkan jeritanmu, aku. aku yang selalu ikhlas kau tinggalkan setiap saat.

adakah batinmu bisa bertahan lebih lama seperti ini? jangan kau pikir menunggu itu tidak sakit. seperti dua mata pisau yang siap menusuk ubun-ubunmu kapanpun ia ingin. dan aku? bertahan karena besarnya cinta itu.

jika, kau berfikir aku terlalu berlebihan biar ku katakan satu hal padamu, 'kau tak akan pernah merasakannya sebelum itu terjadi pada hidupmu'. 

aku mengerti kebodohan itu semakin menyelimuti, aku tak pernah meminta rasa ini berlama-lama menetap, hanya saja kecintaanku terlalu mengharapkan sosokmu mengisi labirin kosong yang telah lama usang. bukan aku tak berniat pergi, tapi hatiku terus memanggilmu, hatiku terus meminta untuk mendampingi sosokmu yang sudah jauh melupakan rumahnya semula. ada yang salah dengan jalanku?

apa kau tau dalam heningnya malam aku menjeritkan namamu dalam isakan tangis? isakan tangis yang tak pernah kau hapus walau kau kerap kali melihatnya jatuh berlinang saat tanganmu melepas jemariku? meraung kesakitan sendiri, lalu menyadari kau tak lagi peduli.

seandainya waktu bisa membuatmu menyadari, akulah selama ini gadis yang tetap utuh mencintaimu, akankah kau kembali berpaling padaku lagi?
seandainya waktu bisa membuatmu tersadar, betapa sulitnya aku mencintaimu, karena kamu belum tau rasanya menjadi aku yang mencintaimu tanpa dendam.

write by @aistiqasuwondo

Komentar

Anonim mengatakan…
(y)

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...