debaranku masih terasa ketika ku tau kau menyapaku. bukan karena aku masih mengingatmu, aku bahkan sudah bisa dan bahkan terbiasa mengenyampingkan rasaku. tapi, karena hatiku terlalu senstif akan hadirmu, detaknya masih terus menggebu ketika sosokmu perlahan muncul dan berhadapan langsung denganku. kuasa siapa yang membuat debaran ini masih ada? bahkan aku telah menginginkan seseorang yang jauh lebih baik darimu masuk dalam hidupku, tapi tetap saja kau selalu memiliki debaran hebat untuk jantungku, atau apa karena jantungku yang masih mencintaimu? aku tak menyangka saja, kelupaanku padamu tak berfungsi lagi ketika, kau hadir. berjuta kupu-kupu berterbangan diperutku. kau tahu, telah lama aku mencintaimu. kau pun juga tahu, begitu banyak waktu yang ku sia-siakan untuk menanti gejolak hatimu. ketika dulu kau tak bisa membalas satu per satu besarnya perasaanku. bagiku dulu, tak pernah ada salahnya jika menantimu begitu lama, bahkan aku tidak sadar hingga detik ini rasa itu masih ada saja. ada, karena kau tak pernah pergi.
kebodohan adalah dimana aku memang selalu membodohi perasaanku karena terlalu mengingat dan mengelu-elukan kenangan yang tak seberapa menjadi miliyaran cerita indah yang kufantasikan bersamamu dalam khayal. mungkin banyak perkiraan lain, yang diluar sana menyangka bahwa hatiku mulai memudar. mungkin kedengarannya itu benar. karena kau yang memudarkan segalanya, termasuk segala harapan yang selalu pupus. kau yang memudarkan rasamu terlebih dahulu, pergi menjauh dan meninggalkanku. mungkin ada saat dimana sendi-sendi cinta yang dulunya tetancap hebat, setelah sekian lama meminta untuk terlepas.
coba kau ingat lagi, seberapa sering aku menyebutkan namamu di hadapan orang-orang? coba kau perhatikan lagi, selama apakah aku tak berkedip melihatmu tersenyum. coba kau kenang lagi, seberapa sering aku mencoba membuatmu terkesan dengan apa yang kulakukan. kau tahu, aku begitu menaruh hati padamu, dan terkadang kau berbuat seakan-akan aku adalah perempuan yang akan terus menunggumu. kalau boleh bertanya, apakah kau begitu senang melihat perempuan bergantian menanti cintamu?
kau tahu, dulu aku sempat berlari kencang, lebih kencang dari yang pernah terbanyangkan, berharap kau akan keluar dan mengejarku dengan segala kekuatanmu. tapi aku salah, akulah yang mengejarmu terus-menerus hingga aku lupa berhenti dan menoleh kebelakang bahwa masih ada yang berlari mengejarku untuk menarikku pulang.
sepertinya aku terus dan menerus menyalahkanmu bukan? maaf, bukan maksudku. aku hanya semua kembali normal, saat kita sama-sama tidak saling mengenal. memang, pengharapan seperti itu selalu muncul dalam sel-sel otakku. aku bahkan sudah mencoba membiarkannya mengalir bersama waktu, tapi tetap saja banyanganmu itu memang sesuatu yang sulit untuk hilang. kata orang-orang "kenangan itu pada akhrinya akan hilang bersama zaman bahkan terlupa", sepertinya itu belum tentu berlaku untukku. tapi, siapa yang tau?
hingga pada akhirnya waktu menjawab, aku dan kamu harus menghilangkan semuanya. menghilangkan apa yang seharusnya bisa dimulai kembali. tapi kita, ditakdirkan untuk benar-benar terpisah dengan menemukan sosok baru dari masing-masingnya. apakah seperti ini? iya memang seharusnya begini.
inspired story from 'nobody'
write by @aistiqasuwondo
Komentar