Langsung ke konten utama

Bertahanlah Sampai Akhir

ini bukan sulit sayang, ini hanya salah satu dari sekian banyak cobaan.

menarik sekali memang jika kita bisa bersama-sama tanpa perlu khawatir apapun. tidak, aku tidak meragukan lagi hatimu. tapi, keadaan kita yang semakin hari semakin sulit ini yang membuat ku kian lemah sayang. terkadang hanya senyum dan keberadaanmu saja yang memberi asupan pada semangatku.  lihatlah, betapa banyak sekali badai yang menerpa jalan kau dan aku. tapi badai kali ini sedikit menyiksa. aku bukannya tidak kuat, namun aku hanya merasa ini bukan seperti harapanku. kita berdua sudah terlalu lama jatuh cinta dan berpisah. banyak puing yang harus kita rapikan lagi, hingga membuat keberadaan kita semakin nyata. tapi, disaat kita semangat sekali membangunnya, badai itu muncul dan nyaris meruntuhkan. tidak, aku tidak akan berhenti membangun sayang. kau tahu bagaimana matamu adalah favoritku. menatapmu beralama-lama adalah kebiasaanku. kerena padanya aku mampu tenang dan sejenak melupakan rangkaian badai ini.

kau sudah tahu bagaimana hatiku, bukan? aku tidak akan mundur lagi. kau hadir menguatkan tekat yang selama ini samar sayang. aku bukan berdalih sempat membenci masa lalu kita, tapi aku sudah belajar memaafkan. karena setiap manusia pasti akanlah berubah menjadi lebih baik. bukankah kita juga dikembalikan untuk memperbaiki segala yang retak?
cerita ini akan terus berlanjut sayang, sampai badai lelah menerpa jalan kita. bukankah itu terdengar lebih baik? kita bisa sayang, menepiskan segala keinginan dan lanjut menjalani segalanya dengan bukti. bukankah mereka hanya memerlukan itu?

bertahanlah sampai akhir, hingga semua badai pergi. atau setidaknya berkurang menerpa hubungan kecil ini. sayang, bertahanlah sampai akhir bersamaku, membangun mimpi dalam nyata yang kita sembunyikan. bukankah menarik jika nanti kita dapat tertawa melihat merekapun ikut serta dalam hubungan kita? meskipun kita hanya sendirian, bukankah hati kita saling bertaut. 
tidak, aku tidak pesimis, hanya saja lebih baik kita bernegosiasi dengan badai. hingga mereka berhenti menggulung semua perasaan yang sedang kita rasakan ini. dengan cara, memberi bukti saja. sayang, berthanlah sampai akhir. bersamaku.

with love, iti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...