Langsung ke konten utama

Rasa dan Kau

Nobody's ever loved anybody as much as I love you - Breaking Dawn-

Kali ketiga, mengarungi kisah bersamamu adalah pilihan terbaik setelah menjalani rangkaian jalan yang berbatu. namun, bersamamupun aku diterjal batu yang lebih besar. tapi, tak masalah asal denganmu semua terasa baik-baik saja. kalimat cinta tak henti-hentinya tumpah dalam isi kepala ku, memaksa untuk terus menulis dan menulis untukmu. dikatakan itu-itu saja, tetap kau menjadi pilihan teratas dari sekian banyak opsi untuk ku tulis. namamu bernaung indah dalam dekap hangat yang disebut rasa sayang.  saat waktu menjadi penghalangku untuk bertemu, gundah-gundah ku cair bersama indah suara beratmu. kadang, bercanda adalah penikmat hari dalam rindu yang terkepung. selalu kau menegaskan tiada hari selain rindu, bahkan sekalipun telah disampingku. 

Disaat rasa adalah pisau yang suatu saat mampu melukai, namun hari ini kau ajari aku untuk memilih mencegah luka. dengan segala lelucon burukmu, dengan segala raut bodohmu, ataupun sekedar suara manjamu melemparkan aku pada imajinasi, yang didalamnya hanya ada kita. Disaat dinginnya hujan menggigilkan, kau memilih untuk hangat bersama dengan berlari kesana-kemari. bagaimana jika kita waktu itu membantah pada takdir? sungguhlah kita tidak akan ada sampai saat ini. sungguhlah takkan ada romansa mengenai kau dan aku saat ini. bagaimana jika waktu itu aku memilih berlari saja setelah dihantam badai? mungkin kini kita sudah lupa pernah saling cinta. tapi, alangkah indah nikmat Tuhan memberi sinyal pada kita untuk saling menatap. entah untuk berapa lama beliau hendak meninta kita untuk berkisah, sekiranya bisa kita usahakan berlanjut hingga Tuhan memberi putusan terbaik.

Kau bisa lihat, masa lalu hanyalah sekedar angka untuk bisa menghitung seberapa lama aku mengenalmu atau seberapa lama kita pernah jatuh cinta. namun, sekiranya tak ada hitungan kau dan aku akan bernilai selamanya. 

Untuk hati yang tak pernah cukup mencintaimu, aku dengan senang hati menumpahkan segalanya bersama meski aku akan dijuluki sang pleonasme, tidak apa. karena  dengan begitulah aku mampu berbagi bahagia denganmu. karena setiap orang memiliki cara sendiri untuk mencintai, begitupun caraku mencintaimu yang sulit di terjemahkan bahasa jika hanya berbatas penglihatan.


with love, iti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...