Ilustrasi 1
***
hatiku berdegup kencang, ketika menunggu dari ujung jalan sana kau berjalan. aku melirik lagi pada kaca, apakah hari ini sudah terlihat lebih baik. ku perhatikan setelan ku, ku rasa sudah baik-baik saja. aku menunggu di balik pohon yang besar. aku sibuk menunggumu menghampiri. ujung rambutmu sudah terlihat, jantung ku semakin berdebar. entah mengapa, ia berdegup setiap kali mengingatmu. ku ikatkan tali sepatu yang sudah lepas, menunduk dan duduk lagi.
tapi, tak kulihat batang hidungmu. oh baiklah, kau sedang berbincang hangat dengan temanmu. aku mengunyah sebungkus roti dan terus memperhatikan mu berbincang. mataku tak menoleh ke arah lain, kanan dan kiri tak terhiraukan. aku tersenyum sendiri saat memperhatikan. ku buka ponsel ku untuk memberi tahu aku tepat di belakang mu. namun ku urungkan. sepertinya lebih manis jika kau terkejut dan menghampiri.
seorang temanmu melirik ke arahku karna memperhatikan kalian. namun matanya melirik ke sisi lain. saat itu, ku kira ia ingin memberi tahu bahwa ada seseorang yang memperhatikan kalian. namun, salah.
aku masih ada di belakang, menunggu kau menoleh. dan kau menoleh.
aku mulai salah tingkah dan melambaikan tangan kecil, agar kau menyadari aku disana. namun, tak terlihat rupanya. ku soraki dengan nada biasa, tak juga. hingga kau bersalaman dengan mereka pertanda ingin meninggalkan tempat.
dan kau beralu. menghidupkan mesin motormu tanpa menghiraukan lagi kanan dan kiri.
Ilustrasi 2
disisi lain, aku memundurkan perasaan ku untuk memberontak. sedetik, dua detik aku hanya bisa berusaha. namun, aku salah. aku terlalu lemah. aku tak bisa marah.
terlalu lemah untuk mengutarakan keinginan. mungkin jika aku terlahir bukan sebagai orang yang mencintai dunia peran, saat ini pastilah aku yang menghampiri mu dan memberi salam kepada orang-orang sekitarmu.
namun, aku lemah. tak bisa membedakan fiksi dan realita lagi. buku-buku fiksi sudah memenuhi isi kepala ku. hingga menuntun ku pada pikiran yang tak bisa kau seberangi.
aku bernalar sesuai pemahamanku dengan segala riset novel. mereka menggiring kepalaku untuk begini dan begitu. dan kau adalah salah satu yang sulit menggerti dan membacanya. aku suka bermain dengan kode, hingga selalu meloncatkan kepadamu poin-poin yang harus kau tuju untuk mengerti. untuk pertama dan kedua kali kau mudah memahaminya. namun, selanjutnya kau pusing.
mungkin benar, lintasan pemikiran kita yang berbeda membuat landasan kita jadi berpendar.
aku ingin sekali mengerti. namun, sesuatu yang sudah tertanam lama sulit untuk berganti. seperti halnya semua orang dengan pemikirannya. sebenarnya yang di perlukan adalah bertanya, membaca dan memperhatikan.
mungkin perasaan ini melemahkan ku.
atau mungkin juga perasaanmu yang terlalu kuat hingga tak memberi ruang untukku mencoba menjadi kuat?
entahlah, aku masih belum bisa menyelami isi hatimu lebih dalam.
aku belum mahir berenang.
with love, itijonas.
Komentar