Langsung ke konten utama

Sudahkah kita dewasa

kita sudah sama-sama dewasa, sebelumnya bertindak seperti anak-anak. kita sudah melewati banyak fase untuk menjadi lebih baik. jadi, kenapa masih saja kita menyimpan dingin di antara keduanya. bukankah lebih nyaman jika kita bisa bertatap muka dan berbagi cerita dari masing-masing. bukankah lebih arif jika kita bisa saling peduli satu sama lain. bukankah sebelumnya pun kita begitu. atau adakah sisi lain yang membuat kita harus membentang jarak begitu jauh dan membangun dinding yang begitu luas. bukan kah sebelumnya kita terbiasa bercakap hingga larut malam. Ada waktu dimana kita ingin menjarak, lalu berganti haluan mencari yang lebih tepat. bukan hati, tapi ingin. haruskah kita memendam tanya setiap hari untuk tau bagaimana. lebih tepatnya, kita peduli meski harus diam-diam. tidakkah lebih bijaksana jika kita mampu mengutarakan dan bertanya. 

jika kita memilih mundur, siapa lagi yang akan memulai memperbaiki semuanya. manakah yang lebih baik selain belajar bertanya dahulu ketimbang menunggu di tanyai. bukankah kita sudah besar bersama walau dalam keadaan yang berbeda. bukankah dewasa itu mampu menyelaraskan masa lalu dengan hari ini. apa yang lebih baik dari bertahan mengagumi ketimbang berpura tak peduli. apa yang ada dalam pikiran jika sesekali terlintas kenangan tentang keakraban kita. apa lebih baik begini, saya melihatmu dari jauh dan berkata "wah dia baik-baik saja ternyata", ketimbang "hai, apa kabar?" bukankah lebih manis jika kita mampu dewasa untuk menyembunyikan segala rasa dalam senyum. 

rasanya salah saja, jika harus begini kita menyikapi keadaan. mengacuh pada setiap hal dan peduli dalam angan. bagaimana?


with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...