seketika aku sadar, bukan mereka yang menghilang tapi akulah yang melarikan diri.
semua pertemuan adalah sebuah tanda perpisahan. begitulah, selama ini aku menerjemahkan sebuah pertemanan. kita akan begitu dekat dan sangat dekat pada masanya, dan akan saling tak bersentuhan saat waktunya tiba. aku pernah mengalami perpisahan hebat. apa yang ada dalam diriku, terpaksa ku tinggalkan semua. apapun, termasuk diriku yang lama. kata orang, jika ingin menjadi lebih baik, kau harus berani melepaskan hal-hal yang dapat menahanmu. maka, saat itu aku meninggalkan semua hal dalam kotak yang berisi kenangan.
aku meninggalkan mereka, saat mereka berat melepas. setiap hari, aku dikirimi rindu yang bertubi-tubi. setiap hari, aku ditanyai habis-habisan. setiap hari, mereka ada membantuku melupakan kesendirian.
aku bersyukur, mereka memaklumi saat aku harus berusaha kuat. saat itu, aku masih delapan belas tahun, cukup rentan untuk lepas di dunia yang sibuk. cukup berani memang, hidup sendiri sebagai percobaan menjadi dewasa. saat itu aku delapan belas tahun, memikirkan hidup untuk terus bertahan hidup. memikirkan makan untuk terus tak kelaparan. aku menyibukkan diri. dengan kesibukan yang silih berganti agar tidak mudah kembali. dan mereka tak berhenti menyemangati, meski sering kali tak ku tanggapi.
tapi, saat rodaku mulai berputar ia berhenti pada sisi terbawah. aku tak mampu menggerakkannya ke tengah atau bahkan ke atas. aku berada pada posisi yang tak terselamatkan. posisi yang menghentikan kedewasaanku. aku mencari mereka untuk berpegang, namun tak ada selain Tuhan. saat itu aku masih sembilan belas tahun, dan aku sudah pada titik paling rendah. saat itu aku masih sembilan belas tahun, dan aku harus mencari jalan keluar.
ku hubungi mereka, namun tak banyak yang menjawab. sebagian datang karena khawatir. dan sebagian lagi datang karena ingin mencari tahu informasi. tepat pada saat itu, aku merumuskan dua pribadi manusia; pertama, mereka yang peduli sepenuh hati. kedua, mereka yang hanya terlihat peduli.
sejak saat itu, aku tak pernah menerima siapapun orang baru masuk secara dalam ke kehidupanku. aku tak pernah lagi melihat siapapun dengan pandangan terbaik. saat aku berkelana jauh, aku didoktrin untuk mandiri. aku didoktrin untuk berhenti terlalu percaya orang lain. dan paham itu, masih ku anut karena kenyataannya adalah semua itu benar. setidaknya, dalam satu jalan kecil di hidupku. aku tak bisa mempercayai mereka sepenuhnya; lagi. karena pertemuan hanya awal menuju perpisahan. karena aku, tak sanggup lagi menerima perpisahan yang menyebabkanku banyak kehilangan. benar, kehilangan pertemanan. maka, ada baiknya aku tak peduli pada mereka, ada baiknya aku tak terlalu sayang pada mereka dan ada baiknya aku tak percaya pada mereka sehingga aku tak merasa kilangan atas mereka. meski sejatinya, akulah yang menyebabkan perpisahan itu tejadi akibat melarikan diri karena takut terlalu menyayangi.
with love, itijonas.
Komentar