Langsung ke konten utama

STUDENT MOBILITY PART 1

BUFS
BUFS

Ada yang bilang, “jauhlah dari rumah agar kau tahu rasanya melihat rumahmu dalam keadaan rindu. Berpetualanglah sebanyak-banyaknya selagi kau masih muda.” Karena perkataan seperti ini membuat saya menjadi lebih bersemangat untuk mengenal banyak hal di luar dari rutinitas yang selama ini saya lakukan. Untuk bisa mendapatkan kesempatan, kau memang harus mencari peluang yang banyak. Namun sebelum mencari peluang, bekali diri sendiri dulu dengan banyak persiapan. Sejak kecil saya selalu ingin pergi belajar di negara orang. Bukan karena tidak cinta Indonesia, tapi kita pasti sadar bagaimana beberapa negara maju melahirkan banyak para ahli. Dan waktu itu, saya ingin menjadi salah satunya. Mungkin itu mimpi yang sangat besar, tapi tidak ada salahnya jika kita berani mimpi sejauh itu. Karena bagi saya, kesempatan itu akan datang kepada siapa saja yang berniat untuk menemukannya.
Saya, Annisa Istiqa Suwondo dari jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas adalah seorang mahasiswi yang tidak begitu populer dalam banyak hal dalam dunia pendidikan. Saya tidak begitu pintar hingga IPK saya bisa mencapai sempurna. Tidak, saya bukan salah satu mahasiswi seperti itu. Saya hanya seorang mahasiswi yang gemar mempelajari bahasa-bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Sejauh ini saya hanya bisa bahasa Inggris dan Jerman. Ibu saya selalu bilang, jika kita bisa menguasai bahasa asing kita bisa kemana saja untuk memberikan ilmu yang sedang kita pelajari. Dalam hal ini, saya tidak ingin katakan bahwa saya mempelajari seluk beluk bahasa asing. Saya hanya gemar mendengar, menulis dan berbicara agar saya tidak lupa. Karena bahasa jika tidak sering digunakan ia akan lupa.
31 Agustus 2018 sampai 30 September 2018 saya berkesempatan untuk belajar selama satu bulan di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan. Kenapa saya bisa sampai belajar di Busan? Berikut akan saya jabarkan beberapa syarat dan bagaimana saya menjalani proses student mobility ini sampai saya kembali ke tanah air.
Saya tipikal mahasiswa yang suka membaca mading, lalu suatu hari saya mendapatkan pengumuman tentang beasiswa ke luar negeri di mading jurusan saya. Tepatnya program tersebut adalah Student Mobility. Program ini sudah ada sejak tahun 2014, namun mahasiswa yang berkesempatan ikut hanya terbatas. Jadi dalam pengumuman itu, banyaklah persyaratan yang harus dipenuhi. Program ini adalah program pertukaran pelajar ke luar negeri yang dinaugi oleh Internasional Office Universitas Andalas. Semua mahasiswa yang ingin mengikuti program ini haruslah mempunya skor toefl minimum yang diberikan pada syarat sekitar 450. Namun, alangkah lebih baik jika lebih dari itu karena kita tidak tahu bagaimana rekan-rekan yang lain. Jika mereka memiliki skor yang lebih tinggi, bukan tidak mungkin nama kita akan dengan mudah tersingkir. waktu itu saya alhamdulillah mendapatkan skor sekitar 500. Itulah alasan utama mengapa saya selalu belajar bahasa Inggris meski belum sepenuhnya bagus tapi saya selalu sadar, kemampuan berbahasa akan hilang jika tidak pernah dipraktikan.
Syarat lainnya adalah IPK. Mungkin ini adalah syarat yang sangat umum bagi semua program beasiswa yang ada. IPK minimum adalah 3.0 jadi jika ada yang lebih tinggi mungkin nama kita juga akan tersingkir. Jadi, mulailah dari sekarang memperhatikan nilai-nilai kuliah untuk bisa mengikuti program student mobility ini.
Selanjutnya adalah LOA (Letter of Acceptance). Syarat ini bisa disebut seperti surat rekomendasi dari Universitas yang ada di Luar negeri. Cara mendapatkan LOA inipun bermacam-macam. Ada yang langsung mengirimkan email kepada universitas di luar negeri atau kepada dosen luar negeri yang bersangkutan mengenai alasan mengapa ingin belajar di sana dan apa yang akan dilakukan di sana. Namun dalam proses yang saya jalani, saya harus membuat surat petisi (Letter of Petition) yang dibantu oleh dekan atau wakil dekan untuk menyatakan bahwa saya memang mahasiswa yang ingin ikut belajar di universitas tersebut. Dan dosen dari jurusan saya yang sedang mengajar di sana ikut merekomendasikan saya.  Lalu, pihak universitas dari Busan akan mengirimkan LOA tadi. Semua tergantung dari universitas yang dipilih. Kepana saya memilih Korea Selatan? Karena kebetulan saya mahasiswi jurusan sastra Indonesia dan Universitas yang saya datangi juga memiliki jurusan yang sama. Hal ini yang menjadikannya menarik, dimana orang asing sangat tertarik dalam pelajaran bahasa Indonesia.
Kemudian setelah syarat-syarat besar telah terpenuhi, saya melanjutkan syarat lain. Seperti surat keterangan aktif kuliah dalam bahasa Inggris, Curiculum Vitae, Agenda kegiatan dalam bentuk tabel, juga surat izin dan jaminan dari ketua jurusan. Setelah semua berkas diserahkan pada waktunya, kita hanya menunggu proses seleksi. Biasanya, Internasional Office hanya memilih dua orang dari tiap jurusan. Setelah dinyatakan lulus, akan dilakukan beberapa wawancara singkat seputar kegiatan yang akan kita lakukan. 
Nah, setelah berbagai rangkaian tadi sebenarnya masih ada tahapan yang lebih rumit, yaitu membuat visa. karena saat itu saya sedang dalam masa KKN jadi saya tidak bisa pergi bolak-balik Padang-Jakarta jadi saya memutuskan untuk menggunakan agen visa. pengurusan visa juga memerlukan banyak syarat, seperti pasport aktif, surat keterangan aktif kuliah dalam bahasa Inggris, lalu surat pernyataan beasiswa dari Universitas Andalas, rekening koran orang tua, lalu LOA pastinya dan syarat lain yang akan dijelaskan oleh agen visa nantinya. 
Dalam pengurusan administrasi sampai visa, saya mengalami banyak kesulitan. dari hal ini saya bisa belajar bagaimana mengendalikan emosi dan sabar. tidak perlu saya tuliskan bagaimana kesulitan yang saya rasakan, untuk adik-adik saya terutama yang akan mengikuti program ini tahun depan, saya sudah menambahkan syarat-syarat tersebut ke fakultas. kemungkinan kalian nanti tidak akan terkendala lagi seperti saya. tapi, jika masih ada kesulitan yang kalian rasakan, silahkan tanya pada saya karena semua dokumen saya simpan di arsip pribadi saya. terima kasih :)
ketua jurusan Southeast Asia
Busan Tower


to be continued ....

Komentar

Unknown mengatakan…
Eonniii!!! Berminat banget, semoga tari bisa ngikutin jejak kakak yaa tahun depan :")

Ditunggu lanjutan story part II nya��

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...