![]() |
| BUFS |
![]() |
| BUFS |
Saya,
Annisa Istiqa Suwondo dari jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas adalah
seorang mahasiswi yang tidak begitu populer dalam banyak hal dalam dunia
pendidikan. Saya tidak begitu pintar hingga IPK saya bisa mencapai sempurna.
Tidak, saya bukan salah satu mahasiswi seperti itu. Saya hanya seorang
mahasiswi yang gemar mempelajari bahasa-bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Sejauh
ini saya hanya bisa bahasa Inggris dan Jerman. Ibu saya selalu bilang, jika
kita bisa menguasai bahasa asing kita bisa kemana saja untuk memberikan ilmu
yang sedang kita pelajari. Dalam hal ini, saya tidak ingin katakan bahwa saya
mempelajari seluk beluk bahasa asing. Saya hanya gemar mendengar, menulis dan
berbicara agar saya tidak lupa. Karena bahasa jika tidak sering digunakan ia
akan lupa.
31
Agustus 2018 sampai 30 September 2018 saya berkesempatan untuk belajar selama
satu bulan di Busan University of Foreign
Studies, Korea Selatan. Kenapa saya bisa sampai belajar di Busan?
Berikut akan saya jabarkan beberapa syarat dan bagaimana saya menjalani proses
student mobility ini sampai saya kembali ke tanah air.
Saya tipikal mahasiswa yang suka membaca mading, lalu suatu hari saya
mendapatkan pengumuman tentang beasiswa ke luar negeri di mading jurusan saya.
Tepatnya program tersebut adalah Student
Mobility. Program ini sudah ada sejak tahun 2014, namun mahasiswa yang
berkesempatan ikut hanya terbatas. Jadi dalam pengumuman itu, banyaklah
persyaratan yang harus dipenuhi. Program ini adalah program pertukaran pelajar
ke luar negeri yang dinaugi oleh Internasional Office Universitas Andalas. Semua
mahasiswa yang ingin mengikuti program ini haruslah mempunya skor toefl minimum
yang diberikan pada syarat sekitar 450. Namun, alangkah lebih baik jika lebih dari itu
karena kita tidak tahu bagaimana rekan-rekan yang lain. Jika mereka memiliki
skor yang lebih tinggi, bukan tidak mungkin nama kita akan dengan mudah
tersingkir. waktu itu saya alhamdulillah mendapatkan skor sekitar 500. Itulah alasan utama mengapa saya selalu belajar bahasa Inggris
meski belum sepenuhnya bagus tapi saya selalu sadar, kemampuan berbahasa akan
hilang jika tidak pernah dipraktikan.
Syarat
lainnya adalah IPK. Mungkin ini adalah syarat yang sangat umum bagi semua
program beasiswa yang ada. IPK minimum adalah 3.0 jadi jika ada yang lebih tinggi
mungkin nama kita juga akan tersingkir. Jadi, mulailah dari sekarang
memperhatikan nilai-nilai kuliah untuk bisa mengikuti program student mobility
ini.
Selanjutnya
adalah LOA (Letter of Acceptance). Syarat ini bisa disebut seperti surat
rekomendasi dari Universitas yang ada di Luar negeri. Cara mendapatkan LOA
inipun bermacam-macam. Ada yang langsung mengirimkan email kepada universitas
di luar negeri atau kepada dosen luar negeri yang bersangkutan mengenai alasan
mengapa ingin belajar di sana dan apa yang akan dilakukan di sana. Namun dalam
proses yang saya jalani, saya harus membuat surat petisi (Letter of Petition)
yang dibantu oleh dekan atau wakil dekan untuk menyatakan bahwa saya memang
mahasiswa yang ingin ikut belajar di universitas tersebut. Dan dosen dari
jurusan saya yang sedang mengajar di sana ikut merekomendasikan saya. Lalu, pihak universitas dari Busan akan
mengirimkan LOA tadi. Semua tergantung dari universitas yang dipilih. Kepana
saya memilih Korea Selatan? Karena kebetulan saya mahasiswi jurusan sastra
Indonesia dan Universitas yang saya datangi juga memiliki jurusan yang sama.
Hal ini yang menjadikannya menarik, dimana orang asing sangat tertarik dalam
pelajaran bahasa Indonesia.
Kemudian
setelah syarat-syarat besar telah terpenuhi, saya melanjutkan syarat lain.
Seperti surat keterangan aktif kuliah dalam bahasa Inggris, Curiculum Vitae,
Agenda kegiatan dalam bentuk tabel, juga surat izin dan jaminan dari ketua
jurusan. Setelah semua berkas diserahkan pada waktunya, kita hanya menunggu
proses seleksi. Biasanya, Internasional Office hanya memilih dua orang dari
tiap jurusan. Setelah dinyatakan lulus, akan dilakukan beberapa wawancara
singkat seputar kegiatan yang akan kita lakukan.
Nah, setelah berbagai rangkaian tadi sebenarnya masih ada tahapan yang lebih rumit, yaitu membuat visa. karena saat itu saya sedang dalam masa KKN jadi saya tidak bisa pergi bolak-balik Padang-Jakarta jadi saya memutuskan untuk menggunakan agen visa. pengurusan visa juga memerlukan banyak syarat, seperti pasport aktif, surat keterangan aktif kuliah dalam bahasa Inggris, lalu surat pernyataan beasiswa dari Universitas Andalas, rekening koran orang tua, lalu LOA pastinya dan syarat lain yang akan dijelaskan oleh agen visa nantinya.
Dalam pengurusan administrasi sampai visa, saya mengalami banyak kesulitan. dari hal ini saya bisa belajar bagaimana mengendalikan emosi dan sabar. tidak perlu saya tuliskan bagaimana kesulitan yang saya rasakan, untuk adik-adik saya terutama yang akan mengikuti program ini tahun depan, saya sudah menambahkan syarat-syarat tersebut ke fakultas. kemungkinan kalian nanti tidak akan terkendala lagi seperti saya. tapi, jika masih ada kesulitan yang kalian rasakan, silahkan tanya pada saya karena semua dokumen saya simpan di arsip pribadi saya. terima kasih :)
![]() |
| ketua jurusan Southeast Asia |
![]() |
| Busan Tower |
to be continued ....




Komentar
Ditunggu lanjutan story part II nya��