Langsung ke konten utama

Intuisi

Untuk yang terkasih, kau bagai kaset rusak yang seharusnya tak ku putar lagi.

Sudah berapa lama kau bersemayam dengan diam dalam doaku? Apa kau tidak lelah melukai perasaanku tiap kali aku memikirkanmu. Apa kau tidak bosan membuat ku sulit bernafas setiap malam? Apakah kau tidak berniat untuk menyudahi perasaan yang berat ini dan mengeluarkanku dengan lega?

Tapi, sebenarnya ini bukan sepenuhnya salahmu. Kau sudah benar, dengan menghilang bagai ditelan bumi. Aku saja yang selalu sibuk mencari tau keberadaanmu. 

 

Benar kasih, ini sepenuhnya salahku yang selalu berlari kearahmu setiap kali aku bertemu banyak pria baru. Aku selalu berusaha berkali-kali meyakinkan hati bahwa aku hanya menyukai mereka tapi cinta dan perasaanku masih untukmu. Seharusnya, aku tak perlu melibatkanmu lagi dalam perasaan yang diberikan orang lain terhadapku kan?

 

Aku selalu jatuh dan salah dalam menerka hatiku sendiri.

 

Bagiku intuisiku adalah yang paling benar. Mereka mengatakan bahwa, kau masih layak ada dan berkembang dalam renjana hatiku. Intuisi ini selalu memutar rekaman cinta itu bagai baru saja terjadi kemarin. Intuisi ini memberiku dopamin yang selalu membuatku jatuh cinta setiap kali namamu terlintas. Intuisi ini seperti barang rongsokan yang harusnya ku ganti. Karena semua hal yang ia berikan malah membuatku beribu-ribu kali kesepian dan menyadari bahwa kau tak pernah ada lagi sejak bertahun-tahun lalu.


Ketahuilah kasih, sejak kau memilih menghilang dari hidupku. Aku tak pernah benar menjalani hidup. Maksudku, aku melewatinya dengan baik tapi semua terasa hambar. Aku tertawa hanya untuk memberi gula kepada mereka yang sepi, namun di dalam sini, aku sudah kacau tak karuan. Tertawa adalah satu-satunya yang bisa menutupi patah hati yang tak berkesudahan ini. Namun saat malam menjelang, dadaku lebih sering kesakitan ketika mengingatmu. Rasa sesak yang bertahun-tahun tak bisa ku keluarkan. Rasa cinta yang tak sempat aku berikan ini menumpuk dan menyakiti fisikku lebih parah daripada jatuh di tangga. Apa kamu bisa bayangkan, betapa sulit aku berusaha baik-baik saja menjalani hari dan bertemu orang banyak selama ini?

 

Tapi kasih,

Aku percaya Tuhan memberikan rasa sebesar ini untuk ku pelajari. Walau sampai hari ini aku belum menenukan tujuan apa yang dimaksud-Nya. Sayang sekali, cinta pertama ini harus jatuh kepadamu. Pria yang selama ini menjadi satu-satunya daftar laki-laki baik yang tak pernah bisa ku miliki. Satu-satunya pria yang tutur katanya tak pernah menyinggung namun hangat, yang selalu menempatkanku sebagai perempuan yang baik dan menghargai setiap cerita yang mengalir dalam perjalanan hidupku. Aku tidak ingin membandingkanmu dengan orang yang akan mengambil alih posisimu kelak, hanya saja saat ini orang itu belum datang. Aku belum menemukan, orang yang membuatku hangat hanya dengan melihat senyumnya. Aku belum menemukan, orang yang membuatku merasa percaya diri untuk memperkenalkan diriku yang sebenarnya. 


Namun jika kau berubah pikiran, datanglah sebelum terlambat. Begitulah intuisi ku mengarahkan doa kepada-Nya di sepertiga malam.




with love, itijonas

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...