Untuk yang terkasih, kau bagai kaset rusak yang seharusnya tak ku putar lagi.
Sudah berapa lama kau bersemayam dengan diam dalam doaku? Apa kau tidak lelah melukai perasaanku tiap kali aku memikirkanmu. Apa kau tidak bosan membuat ku sulit bernafas setiap malam? Apakah kau tidak berniat untuk menyudahi perasaan yang berat ini dan mengeluarkanku dengan lega?
Tapi, sebenarnya ini bukan sepenuhnya salahmu. Kau sudah benar, dengan menghilang bagai ditelan bumi. Aku saja yang selalu sibuk mencari tau keberadaanmu.
Benar kasih, ini sepenuhnya salahku yang selalu berlari kearahmu setiap kali aku bertemu banyak pria baru. Aku selalu berusaha berkali-kali meyakinkan hati bahwa aku hanya menyukai mereka tapi cinta dan perasaanku masih untukmu. Seharusnya, aku tak perlu melibatkanmu lagi dalam perasaan yang diberikan orang lain terhadapku kan?
Aku selalu jatuh dan salah dalam menerka hatiku sendiri.
Bagiku intuisiku adalah yang paling benar. Mereka mengatakan bahwa, kau masih layak ada dan berkembang dalam renjana hatiku. Intuisi ini selalu memutar rekaman cinta itu bagai baru saja terjadi kemarin. Intuisi ini memberiku dopamin yang selalu membuatku jatuh cinta setiap kali namamu terlintas. Intuisi ini seperti barang rongsokan yang harusnya ku ganti. Karena semua hal yang ia berikan malah membuatku beribu-ribu kali kesepian dan menyadari bahwa kau tak pernah ada lagi sejak bertahun-tahun lalu.
Ketahuilah kasih, sejak kau memilih menghilang dari hidupku. Aku tak pernah benar menjalani hidup. Maksudku, aku melewatinya dengan baik tapi semua terasa hambar. Aku tertawa hanya untuk memberi gula kepada mereka yang sepi, namun di dalam sini, aku sudah kacau tak karuan. Tertawa adalah satu-satunya yang bisa menutupi patah hati yang tak berkesudahan ini. Namun saat malam menjelang, dadaku lebih sering kesakitan ketika mengingatmu. Rasa sesak yang bertahun-tahun tak bisa ku keluarkan. Rasa cinta yang tak sempat aku berikan ini menumpuk dan menyakiti fisikku lebih parah daripada jatuh di tangga. Apa kamu bisa bayangkan, betapa sulit aku berusaha baik-baik saja menjalani hari dan bertemu orang banyak selama ini?
Tapi kasih,
Aku percaya Tuhan memberikan rasa sebesar ini untuk ku pelajari. Walau sampai hari ini aku belum menenukan tujuan apa yang dimaksud-Nya. Sayang sekali, cinta pertama ini harus jatuh kepadamu. Pria yang selama ini menjadi satu-satunya daftar laki-laki baik yang tak pernah bisa ku miliki. Satu-satunya pria yang tutur katanya tak pernah menyinggung namun hangat, yang selalu menempatkanku sebagai perempuan yang baik dan menghargai setiap cerita yang mengalir dalam perjalanan hidupku. Aku tidak ingin membandingkanmu dengan orang yang akan mengambil alih posisimu kelak, hanya saja saat ini orang itu belum datang. Aku belum menemukan, orang yang membuatku hangat hanya dengan melihat senyumnya. Aku belum menemukan, orang yang membuatku merasa percaya diri untuk memperkenalkan diriku yang sebenarnya.
Namun jika kau berubah pikiran, datanglah sebelum terlambat. Begitulah intuisi ku mengarahkan doa kepada-Nya di sepertiga malam.
with love, itijonas
Komentar