Langsung ke konten utama

Sudah seharusnya

Aku sudah melupakannya. Dari sejak aku meminta untuk pergi. Dan dari sejak ia berlalu. Aku sudah melupakan segala tentangnya. Tentang senyumnya yang memikat. Tentang semua cerita yang pernah ia sampaikan. Tentang semua kebaikan yang sudah ia berikan. Tentang kami yang telah lama mencari tahu perasaan masing-masing. Aku sudah melupakannya. Aku sudah berpindah dengan baik.

Aku tak lagi memimpikan membangun istana yang indah dengannya. Aku tak lagi mendengar namanya dalam hidupku. Dan aku sudah menutup rapat lembar hatiku.

Tak ada kata selamat datang kembali, seharusnya. Karena aku sudah siap, melalui hari sendirian tanpa perlu kesepian. Aku sudah tak apa-apa sejak ia berlalu dan menghilang tanpa jejak.

Aku sudah terbiasa tanpa dia.

Seharusnya, aku tak pernah mencintainya, hingga aku tak perlu berpura mengatakan aku baik-baik saja setelah kita selesai.

***

Sangat mudah untuk terlihat baik-baik saja. Aku membuka mataku dan kembali membuka percakapan tadi malam. Ini bukan mimpi. Ini nyata. Dalam kehidupan ini, patah hati adalah hal biasa yang dialami manusia. Namun, bagaimana jika lukanya sulit untuk sembuh? Mengingat dia adalah sosok yang selama ini ada dalam hidupmu? Mengingat selama ini ia tak pernah berpaling? Aku ingat, banyak yang mengatakan hati manusia sulit sekali ditebak. Hati manusia mudah sekali berubah. Kita takkan pernah tau apa isi hatinya. Bisa saja ia berbohong, bisa saja ia sungguh-sungguh.

Aku tak mengerti bagaimana mendeskripsikan pagiku hari ini. Ku tutup kembali mukaku dalam balutan selimut. Aku tak bisa menangis lagi, lalu mengapa seluruh badanku lemas. Aku tak merasa ada yang salah dengan badanku, tapi aku tak sanggup melakukan apapun. Ku buka lagi percakapan terakhir malam itu berulang-ulang berharap ini adalah kesalahan atau seperti biasa dia hanya bercanda dan kembali lagi padaku.

Tidak, ini nyata.

Aku bangkit, mengawali hari pertama patah hatiku dengan sikap biasa saja. Dika bukanlah satu-satunya Luti! Aku memantapkan langkahku menuju kampus. Ini hari pertamaku, aku takkan membiarkan dia merusaknya. Tidak.

Aku tidak sanggup melawan lamanya waktu yang berjalan. Semua orang sibuk pada hidupnya, aku tak berusaha melupakan kejadian semalam. Hanya hal ini selalu membuatku bertanya-tanya. Adakah yang salah padaku selama ini, mengapa semua terjadi begitu saja tanpa aba-aba. Apakah begitu dekatnya cinta dan kehilangan sehingga mereka selalu terjadi dengan tanpa sengaja?

Tidak, pasti ia punya alasan mengapa melakukan ini. Pasti dia punya alasan. Dika takkan membiarkan aku bertanya-tanya dalam waktu yang begitu lama. Aku mulai meragukan. Ku buka ranselku mengambil earphone lalu ku putar lagu untuk mencoba meringankan isi kepala hari ini. Suara J. Rice memasuki pikiranku, aku mulai bernyanyi dengan air mata yang tergantung.

thank you for the broken heart…“ kataku sambil menenggelamkan kepala ke atas meja.

Suasana kampus yang tetap terik meski rindang membuatku betah. Ku cari gazebo terdekat dari gedung belajarku, ku telentangkan badan sambil melirik ke atas. Ku coba cek sekali lagi isi percakapan tadi malam. Masih sama dan belum ada tanda-tanda ini semua akan terjawab.

“Dika what’s wrong with us?“ aku bergumam sendiri lagi.

“Luti, lo ngapain?“ tiba-tiba Sally datang membangunkan lamunanku.

“aduh lo ngagetin aja deh. Gue lagi nunggu kelas statistik males di dalam kelas ribut.“ seruku 

"dari tadi lo gue perhatiin sendiri-sendiri aja. gue jadi kepo lu kenapa“ tanyanya sambil membuka botol minuman.

“wah ada orang kepo. Gue nggak kenapa-kenapa Sally. Cuma kelas kita ribut banget. Gue gak bisa di ruangan yang ribut begitu.“ jelasku

“oh begitu ya. Pantesan aja lo kerjaannya tidur aja. eh iya btw lu kok masuk jurusan ini? Gue denger lo lebih tua dari gue ya?“

“lo penasaran banget sama gue kayaknya. Hahaha iya, gue tua setahun apa dua tahun ya dari kalian semua. Emang kenapa buk? Gue lulusnya di sini ya mau gimana dong.“ Jawabku asal.

“gue kira lo emang mau di sini gitu.“

“sebenernya gue memang mau di sini ya karena gue udah janji sama dia buat lulus di sini. Di kampus ini yang dia juga sebenarnya ada di sini. Biar gue dan dia makin mudah ketemu…“ jawab ku dalam hati.

***

Aku ingin berlari jauh dari keadaan asing ini, Dik. Aku bahkan tak tahu harus berbuat apa setelah kau memilih untuk tak lagi ada. Aku belum terbiasa mengais hari-hari sendiri tanpa canda-canda garingmu yang kerap membuatku tertawa. Aku belum siap kehilangan begitu cepat. Enam tahun aku mengenalmu lebih dari pria-pria disekitarku hari ini. Aku tak tertarik dengan lucu-lucuan meraka. Aku merasa ada yang kurang dari hari-hariku kini, apa itu karena kamu tak lagi muncul?

Aku sudah melewati ini setahun lebih, tapi tetap saja aku tak mampu dan belum mampu untuk bergerak. Aku tak tahu lagi bagaimana kabarmu di sana. Apakah kau sedang sibuk, ataukah kau sedang lelah hari ini, banyakkah tugas yang kau emban, sudah makankah kau hari ini. Aku tak sanggup menepiskan diri bahwa aku tak memikirkanmu. Aku hanya takut memulai Dik. Aku takut memulai dengan sesuatu yang sudah meminta untuk pergi.

Dika, apa aku akan sanggup menjalani hari-hari dengan bebas seperti biasanya? Karena hampir setahun lebih ini aku sudah setengah gila kehilangan kesadaranku.

Dika, apa kabar?

 ***

 Februari, 2016


with love, 

itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...