tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat.
depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sampai-sampai aku melupakan diriku dan tergantung padamu.
padahal sebelumnya, aku takkan pernah menoleh jika tak kau bujuk. aku takkan pernah berbalik jika kau tak tarik tanganku lebih keras. tapi pada saat itu, aku sudah terlanjur jatuh cinta untuk kesekian kalinya namun kali ini tanpa akal. aku menumpahkan semua perasaanku di relungmu yang kau beri hangat. ku dengarkan lagu-lagu dari LANY salah satunya one minute left to live, meromantisasikan apa-apa yang telah kau perbuat, agar aku punya kekuatan lebih untuk bertahan. aku selalu mengingat waktu remaja, teman-temanmu mengatakan aku adalah penyebab segala kekacauan yang kau buat, aku adalah bentuk dari trauma yang kau rasakan. aku berusaha sebaik mungkin, tidak lagi mengeluh, tidak lagi mengacau. meski kau dan teman-temanmu tidak tahu, apa yang terjadi dibalik kekacauanmu itu. perlu ku garis bawahi, bukan hanya kau yang kacau, akupun demikian. aku hanya tak pernah ceritakan padamu dan teman-temanku tidak pernah memberitahumu. ku kesampingkan itu semua, aku mulai merakit masa depan di dalam kepalamu, melihat semua sisi terbaikmu tanpa perdulikan apapun. aku masuki duniamu, aku bersandar di sana bahkan saat kau tak ada.
aku menjadi perempuan yang tak pernah terbayangkan oleh ku akan begini. menahan air mata setiap kali kau tak mendengarkan ceritaku, menahan ucapanku ketika kau merubah waktu pertemuan kita, menahanku bercerita kepada sahabat tentang betapa rindu dan butuhnya aku padamu saat itu. aku selalu menahan diri untuk membuka sisiku yang lain kepadamu. karena saat itu, kau terlihat sangat tertarik untuk memperlihatkan duniamu dengan segala isinya yang aku sebenarnya tidak nyaman. aku bahkan tak sempat mengenalkanmu bagaimana dunia ku yang baru ini, bagaimana teman-temanku, bagaimana aku mulai beradaptasi, dan kau juga tak bertanya perihal itu.
terlalu banyak hal baru yang kau berikan padaku, tanpa kompromi dan membuatku kesulitan menyesuaikan diri lagi. mereka, orang-orang baru yang masuk dalam hidupmu pelan-pelan menggeser keberadaanku. para gadis yang merangkulmu, yang bercerita denganmu tentang hubungannya dengan lelaki lain, kursi mobilnya yang kau tumpangi, lawakanmu untuk mereka, baju serupa yang kau pakai, rumah yang nyaman untukmu menjadi dirimu sendiri ketika tidak bersamaku. aku melihat kau lebih bahagia di sana. walau berkali-kali ku katakan, namun kau selalu tak dengar. kau selalu katakan, mereka adalah sahabat sedang aku adalah cinta. tidak ada lagi aku yang menjadi peran utama. tidak ada aku lagi dalam dunia itu, semakin hari aku berada dipinggir. tidak ada lagi aku yang merasa menjadi perempuan paling dicintai di muka bumi. tidak ada lagi aku perempuan yang kau nyanyikan setiap hari. dan semua hal yang terjadi diantara kita, membuat aku mengerti aku tidak lagi dicintai seperti dulu. atau mungkin sebenarnya tidak pernah sama sekali.
kau yang biasa merangkulku, membantuku masuk dalam duniamu, saat itu tak bisa kau lakukan lagi. aku belajar sendiri, namun aku tetap tidak bisa ada di sana. kau bilang, ini adalah masa-masa kau merasakan dunia baru sejak terpurukknya kau saat itu. kau bilang, bersama mereka, ada di sana membuatmu merasa hidup kembali. padahal, periode itu adalah periode dimana kita berdua sama-sama kembali
merasa hidup dari kegagalan kita masing-masing di luar hubungan ini.
kita berdua sama-sama bangkit dari masa lalu yang mendekam hidup kita
bertahun-tahun. harusnya, periode ini kita rayakan bersama. bukan
masing-masing. aku yang selalu mendukungmu, berusaha membuatmu nyaman berada di sana. namun siapa sangka, ketidak nyamananmu berubah menjadi aku. setiap aku mengeluhkan sesuatu, kau selalu katakan semua itu hanya ada dalam kepalaku dan seharusnya pertanyaan ku bukan aku yang patut menjawabnya. harusnya kau yang menjawab. namun, menunggu jawabanmu atas keluhan itu tak menjadikan jawabanmu bisa diterima logika. semakin umur kita bertambah, aku melihat aku tak ada lagi dalam rencana masa depanmu. aku semakin turun, aku semakin tak membahagiakan, dan bukan lagi prioritas. meskipun kau katakan, kau merubah prioritasmu karena aku melangkah pergi. tapi sebenarnya kau sudah membuangku lebih awal dengan perilakumu yang tidak kau sadari.
sejak hari itu, aku tak lagi melihat masa depan denganmu. aku lebih memilih untuk tidak menghubungimu. aku tidak ingin ada lagi di hari-hari pentingmu. karena kau terlihat baik-baik saja tanpa kehadiranku. aku melihat kau menjadi pria minus seribu dari awalnya plus seratus. aku yang dulu selalu menjadikanmu contoh terbaik untuk ku ceritakan kepada sahabatku, kini nilaimu semakin hari semakin berkurang. aku berusaha semaksimal mungkin mempertahankan nilai itu, namun kau buat aku berperang sendirian dengan kelakuanmu. aku tidak pernah berhohong dengan apa yang selama ini aku katakan tentang bermasa depan, tapi kita memang butuh waktu untuk melihat kemana arah hubungan ini berjalan, dan aku sudah berubah pikiran. karena aku ternyata tidak sanggup berada di antara, terombang-ambing dalam ketidak jelasan. meskipun tulisan ini akan menjadikan ku orang jahat, menjadi bahan nasehat sahabat-sahabatmu yang menilai aku keterlaluan, setidaknya mereka harus tau, apa faktor yang menyebabkan kejahatan ini bermula. being with you and your fucking friends are so traumatizing.
aku memilih berubah pikiran, menjauh dan menutup buku.
kau memang lebih baik tanpa aku. karena aku selalu melihat kau lebih bahagia ketika tidak bersama denganku. semoga bahagia menyertaimu.
aku, satu dekade mu, pamit.
with love, iti.
Komentar