Langsung ke konten utama

hari itu membuat saya lebih bersyukur

"diatas langit masih ada langit. melihat kebawah membuat kita merasa lebih bersyukur dengan nikmat Tuhan"

 Ada waktu itu, saya ingat betul, 30 Juni 2013. entah apa yang saya pikirkan hari itu, hanya ingin berlalu dari manusia-manusia yang ada. saya memutuskan untuk keluar rumah, meminta izin sekedar untuk mencari angin keluar. saya bangun lebih pagi, membersihkan segala yang kiranya wajib saya bersihkan. lalu, sehabis waktu zhuhur berlalu, saya berpamitan dengan orang tua untuk keluar. walaupun hari itu terik sekali, tidak mengurungkan niat saya untuk keluar, entah apa yang saya cari, saya hanya tidak ingin bertemu siapapun hari itu. menggunakan angkutan umum saya menelusuri jalanan yang sepi.

saya berhenti, tepat di pusat kota saya tinggal. Padang. pasar raya yang sudah tidak terurus lagi, sistem kendaraan yang kacau, saya keluar. saya kembali berjalan, hanya berjalan tanpa tahu apa yang akan saya lakukan. disepanjang Permindo, masyarakat Padang menyebutnya, saya terus berjalan dengan rambut yang masih di ikat dengan rapi. sepatu kets hitam, celana jeans hitam, dan hanya kaus oblong biru gelap saya terus berjalan. saya tidak melirik apapun yang dijajakan para penjual, yang saya tau saya hanya berjalan. lurus. sampai akhirnya saya berhenti, di depan seorang pelukis di depan emperan toko. saya melihat pria muda itu melukis dengan lincah, menari-narikan pensil ukuran sedangnya di atas kanvas putih. saya berhenti, bertanya dan mengambil lukisan saya. dan, saya terlibat beberapa percakapan dengan pria itu, saya duduk di sampingnya mendengarkan sedikit ceritanya. 
pria itu, menceritakan sedikit kisahnya dengan saya, karena entah ada angin apa saya ingin bertanya, dia pria yang baik ingin menjawab pertanyaan saya dengan ramah dan saya menyimak dengan seksama. dari percakapan kami saya mengambil kesimpulan dari kata-katanya yang dalam tulisan ini saya tulis dengan bahasa yang lebih baik. seperti ini 'kalau saya tidak bangkit hari itu, mungkin sampai hari ini saya tidak bisa menghidupi ibu saya'. saya kagum, walaupun terlihat sulit, pria itu masih tersenyum, saya tidak mengada-ngada saya kagum akan keteguhannya. lalu, kami mengakhiri percakapan yang berlangsung kira-kira 30 menit itu. saya berpamitan, sambil menjenjeng lukisan yang sudah saya pesan 2 minggu lalu.

saya berjalan lagi, dan memberhentikan angkutan umum menaikinya lalu menuju sekolah lama saya. sekolah menengah pertama yang terletak di jalan Sawahan. saya berhenti. kembali menyusuri jalan menuju sekolah lama saya yang terletak jauh dari jalanan raya. saya terus berjalan sambil menjenjeng lukisan itu. lalu saya tepat berdiri di depan gerbang sekolah lama saya. memasukinya tanpa permisi, sampai saya melihat beberapa anak-anak sedang sibuk berlarian membawa map ke ruang guru. suasana hari itu, sepertinya habis perkenalan untuk masa orientasi siswa yang akan di laksanakan keesokan harinya. saya duduk di bangku pertama, kelas pertama salah satu gedung sekolah itu. saya hanya duduk di kursi bercat putih yang sudah tidak lagi terawat. saya membuka pintu salah satu kelas itu, menyentuh satu per satu kursi dan meja yang sedikit berabu. tidak ada yang berubah dari ruangan ini, saya kembali memutar memori lama, kala saya masih duduk dan menghabiskan hari di kelas ini, saya mengingat kembali deretan kursi-kursi yang dulunya saya dan teman-teman duduki.
sampai ada satu orang murid bertanya kepada saya, saya hanya ingin bernostalgia. dia bertanya dengan sangat sopan dan pamit perlahan. saya duduk di bangku nomer dua, tepat dimana saya dahulunya duduk dan belajar. tertawa sebentar lalu saya memutuskan untuk pergi dan kembali berjalan mengelilingi sekolah itu. banyak sekali perubahan, tapi atmosfir yang saya rasakan tetap sama. ini sekolah saya. lalu saya kembali keluar dan berjalan menuju jalanan raya.

dan entah mengapa lagi, saya tidak memutuskan pulang menaiki angkutan umum itu, saya duduk sebentar di trotoar membaca sedikit buku yang diberi papa saya. lalu berjalan lagi, melewati stasiun kereta api, berjalan terus hingga jembatan yang mereka kenal dengan jembatan Andalas. saya berhenti, menemui seorang pria paruh baya yang terlihat panik. saya bertanya, ternyata sepeda yang di naiki pria paruh baya itu bocor. saya menawarkan diri untuk membantu mencari tukang tambalan ban, ia bersedia, kami berjalan sambil berbincang. sekali lagi, saya mengenal manusia baru, sebut saja namanya bapak J. 
bapak J seorang, penjual kain kasur keliling. menggunakan sepeda ontel tua, air muka yang saya tangkap, saya mengerti bapak itu lelah. bapak itu, berasal dari kota kelahiran nenek saya, Purworejo. membuat saya semakin tertarik berbicara dengan beliau. saya bertanya banyak hal, dan banyak hal yang saya petik dari beliau. dan ini sedikit percakapan kami :
"saya neng, kalau punya duit banyak mah pasti nggak mau kerja beginian. tapi, wong saya udah di lahirin jadi rakyat kecil ya mau gimana saya terima aja"
"tapi apa nggak mau cari kerja yang lain pak?"
"oalah ndok, wong orang tamatan smp kayak saya mau di terima di perusahaan mana? saya mah udah bisa kasih makan anak istri saya udah cukup. enggaklah minta banyak-banyak"
"anak bapak emang berapa?"
"anak saya 3. semuanya masih sekolah. jadi saya harus kerja apa aja buat sekolahin mereka. uang sekolah sekarang mahal. apa-apa mahal"
sampai ada ucapan bapak itu yang membuat saya sadar betapa harusnya saya bersyukur kepada Tuhan atas nikmatnya. "Hidup mati, rejeki semuanya saya seharin sama gusti Allah aja. tapi, saya tetap ndak mau malas-malasan. saya idup sama keluarga neng udah kerja beginian aja saya udah bersyukur neng yang penting keluarga saya terus makan dan mendampingi saya"

sampai akhirnya jauh kami berjalan bersama debu kota dan terik matahari sore itu, kami menemukan tukang tambalan. saya meminta untuk menggantinya dengan yang baru, karena saya lihat sudah banyak tambalan pada roda itu. sambil menunggu kami bercerita lagi, dalam tulisan ini saya tidak menjelaskan secara detail apa percakapan kami, tapi sehari itu, membuat saya memiliki pengalaman yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. sampai akhirnya bapak J berpamitan, saya terus berjalan hingga menemui mini market dan membeli sebotol air mineral. lalu saya memutuskan untuk pulang kerumah.

saya, mungkin banyak menemui dua orang seperti mas pelukis dan bapak J tadi. tapi mungkin hari itu, kesempatan saya untuk tau, dan belajar mengerti tentang arti bersyukur. dalam kesendirian saya, Tuhan masih menunjukkan bahwa segala permasalahan ada jalan, segala penyakit ada obat dan segala kegelisahan ada penenang. di saat kesendirian saya, Tuhan masih menghadirkan bahkan mengenalkan saya pada beberapa orang makhluk ciptaan-Nya yang masih terus bersyukur atas apa yang ia berikan.

membuat saya mengerti, semua kegelisahan yang menyeriut dalam benak saya tak serumit apa yang tengah orang lain rasakan. karena pemikiran 'rumit' hanya berlaku, untuk mereka yang tidak pernah ingin mencari jalan keluar. 'rumit' dan segala jenis macamnya yang menghampiri hidup seseorang, adalah bentuk suatu pendewasaan dalam menyikapi keadaan. dan saya paham, jalan keluar yang tak pernah mustahil adalah, IKHLAS, BERUSAHA DAN BERSYUKUR. setelah kejadian itu, saya lebih banyak bersyukur atas segala yang di karunia kan.

Tuhan lebih mengenal apa itu rasa sakit. itu mengapa Tuhan memberi berbagai macam luka pada jalan hidup manusia, hanya untuk membuat manusia sadar, MEREKA TIDAK PERNAH SENDIRI. dan di saat kamu bersyukur Tuhan disampingmu.



terima kasih untuk pengalaman sehari itu, saya bersyukur


write by @istiqasuwondo

Komentar

tyaribrahim mengatakan…
What a moment ti!!!!!!
Salah satu bagian dari roda kehidupan yg patut kita beri perhatian lebih ;)

Keep say "hamdalah"
itijonas mengatakan…
:') beneeer kaak :D

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...