Langsung ke konten utama

prolog diwaktu sore

aku melamunkan sebuah kenangan lama; lagi-lagi itu dia

jendala kubuka tanpa batas, ku biarkan angin menerpa wajahku, ku hirup mereka dengan perlahan, ah betapa aku merindukan hal yang sepantasnya terlupa sejenak. ah tidaklah, mana mungkin aku bisa melupakan segalanya. kenangan itu ada bukan untuk di lupakan bukan? ku lirik arloji yang melingkar  di tangan kiriku, sore ini cuaca bersahabat membuatku ingin berjalan sebentar. membawa buku tua kecil ini, ku ceritakan kembali kisah sepi di Negeri yang entah harus bagaimana aku sebutkan. lagi-lagi aku bercerita denganmu. maksudku tidak dengan nyatamu, yang ku maksud bayanganmu. bayangan yang selama ini menemani sepiku, dan hanya buku tua ini saksi jelas yang menemaniku selama ini.

hai, Negeri ini begitu indah, cantik, rupawan serta menawan. tapi bagiku apa gunanya kau tak disini menemaniku bercerita, walau sesekali kita sempat bertukar cerita, rasanya tak nyata itu memang menyulitkan. Kutulis lembarannya, mereka terisi lagi. Coklat putih pemberianmu ini, entah sudah berapa lama tersimpan dalam balutan buku kecil ini. Aku tak berani membukanya. Tidak berani.

"Ngapain maghrib-maghrib duduk disini Bel? Sendiri lagi" teriakan Nata menghentikan aktivitasku.
"Ah ganggu aja deh lo" balasku singkat
"Was ist passiert? Galau ni yee" sambil mendekati ku lalu duduk di sebelahku
"Nein, emang jaman lagi yang begituan?"
"Ah sudahlah Bela kita pulang yuk" dengan paksaan Nata menarik tanganku.

ini sudah sebulan yang menyebalkan dimana permainan perasaan terus-menerus memanggilku. figura kaca yang berdiri gagah di sebelah tempat tidurku membuat atmosfir kenangan tumpah bahkan banjir. Negeri ini begitu padat, tapi masih mengalahkan kepadatan hatiku akan rindu.

dua tahun, atau delapan tahun lagi? Kesenyapan bertanya. Entah bagaimana perlajanan selanjutnya sejelas apapun aku mengkhayal tentu saja itu hanya pemikiran pendek seorang 'aku'. Berjuta harapan menumpuk, kau hadir dengan tiba-tiba bertanya.
"Wie geht's?" (Apa kabar?)
"Es geht danke" (biasa aja)
"Warum?" (Kenapa?)
"Ich vermisse dich" kujawab singat pertanyaannya. Tak ada balasan, ataupun ketikan. Hening lalu tetesan hangat ini tumpah.

'Entschuldigung, ich habe dich gefallen und ich wieß nicht genau, aber ich vermisse dich, nur' (maaf, aku sudah menyayangimu, aku tidak tau pasti tapi aku rindu, hanya itu)

Percakapan singkat itu menghasilkan jutaan kupu-kupu di hatiku. Badai yang selama ini terhasil, sekejap mereka sirna. Entah bagaimana bisa ini terjadi.

hai, sudah ku sebutkan berulang kali, betapapun sulitnya keadaan yang menghampiriku, hadirmu yang tak lama dapat mengubah segalanya menjadi lebih baik. 

Aku sudah terbiasa berdiri menghadang badai sendiri, kau lihat aku tak goyah, bahkan tak jatuh. Kau tau mengapa? Karena kau membantuku kuat lewat kenangan yang sedikit itu.

"Dari awal dan kembali ke awal; kau ku simpan dan terus tersimpan" #Annisa Istiqa



Write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...