ada hal lain yang perlu ku jelaskan?
sabtu sore berjalan menepi sungai
kulihat lampu neon di seberang jalan
ada ribuan kunang-kunang menghiasi temaram malam
ku ambil kameraku untuk mengabadikan mereka
dari sudut kedua mataku bertanya
adakah kesedihan yang tak terbaca?
lalu ku buang pandangan ini ke rerumputan hijau
mereka menyambutku dengan hangat lalu tertawa
kamuflase dari kehidupanmu adalah air mata
kau hanya berdiam tanpa berencana
kau tak menyadari betapa penting keteguhan sebongkah hati
karang saja akan hancur apalagi potongan hatimu yang rapuh
lagi ku berjalan menyusuri wisteria biru
cantik jelita mereka tergantung dari atas sana
tapi sayang mereka akan hilang ketika salju meminta pulang
itu pertanda kau takkan selalu bersanding dengan tawa
lemari kayu yang berkilau tak lagi terlihat indah
reot dari penampilannya mengalihkan pandangan para pecinta
tak ada yang mendekati melihat saja mungkin tidak
kau tau itu mengapa? dikarenakan mereka tak pernah dirawat
tapi tunggu, semalam aku merintih kesakitan
menggema seluruh ragaku akan penantian
kata mereka yang ku lakukan itu adalah satu kebodohan
bukti apa yang diperuntukkan? kenangan itu kekuatan
mutiara saja akan tetap terlihat indah
walaupun mereka berada di lumpur sekalipun
tak ada badai jika angin tak membantunya bergerak
duniamu hanya kau yang mengatur begitulah aturannya
dari dalam darah manusia terlahir jiwa baja
bagaimana bisa menyalahkan Tuhan atas air matamu yang tumpah
adakah lagi pemikiranmu yang menyalahkan takdir
tolong berhenti menyalahkan sesuatu yang kau kerjakan salah
begitu mereka menyeru
dari api dan air kau takkan temukan siapa yang bersalah
kau tau mengapa? mereka hadir karena hanya sebuah pemicu
yang dengan mudah tertawa menyaksikan kepolosanmu bekerja
berhenti! suruh saja petir ikut serta sekaligus lagi-lagi mereka berkata
jika kau tak temukan makna dari sajakku, kau takkan pernah tau
jika kau tak juga menemukan maksudku, sampai kapan kau akan paham
paham akan berartinya kamu untuk bangkit dari jatuh
paham akan berartinya kamu untuk tertawa dari murungmu
putar lagi apa yang ku sampaikan
kau takkan menemukan yang terbaik
jika, kau selalu menyalahkan apa yang sudah mencoba baik
dan lagi takkan ada hujan tanpa awan
kau, berhak bertanya pada dirimu apa yang telah kau lakukan
kau, berhak mengulang kebaikan yang selama ini kau simpan
kau, tak pantas untuk menjadi seorang pelempar batu
yang terus menyembunyikan tangannya
dibalik senyummu, berkacalah sekali lagi
mereka memintamu melihat tangis yang tersembunyi
lubukmu meronta, kau terpatri mengalahkan api
dari mata hati yang kelam, mereka pasti bersinar
tertulis, dari hati yang terus meronta
tertulis, untuk hati yang bertanya
sudahkah hari ini lebih bermakna?
sabtu sore berjalan menepi sungai
kulihat lampu neon di seberang jalan
ada ribuan kunang-kunang menghiasi temaram malam
ku ambil kameraku untuk mengabadikan mereka
dari sudut kedua mataku bertanya
adakah kesedihan yang tak terbaca?
lalu ku buang pandangan ini ke rerumputan hijau
mereka menyambutku dengan hangat lalu tertawa
kamuflase dari kehidupanmu adalah air mata
kau hanya berdiam tanpa berencana
kau tak menyadari betapa penting keteguhan sebongkah hati
karang saja akan hancur apalagi potongan hatimu yang rapuh
lagi ku berjalan menyusuri wisteria biru
cantik jelita mereka tergantung dari atas sana
tapi sayang mereka akan hilang ketika salju meminta pulang
itu pertanda kau takkan selalu bersanding dengan tawa
lemari kayu yang berkilau tak lagi terlihat indah
reot dari penampilannya mengalihkan pandangan para pecinta
tak ada yang mendekati melihat saja mungkin tidak
kau tau itu mengapa? dikarenakan mereka tak pernah dirawat
tapi tunggu, semalam aku merintih kesakitan
menggema seluruh ragaku akan penantian
kata mereka yang ku lakukan itu adalah satu kebodohan
bukti apa yang diperuntukkan? kenangan itu kekuatan
mutiara saja akan tetap terlihat indah
walaupun mereka berada di lumpur sekalipun
tak ada badai jika angin tak membantunya bergerak
duniamu hanya kau yang mengatur begitulah aturannya
dari dalam darah manusia terlahir jiwa baja
bagaimana bisa menyalahkan Tuhan atas air matamu yang tumpah
adakah lagi pemikiranmu yang menyalahkan takdir
tolong berhenti menyalahkan sesuatu yang kau kerjakan salah
begitu mereka menyeru
dari api dan air kau takkan temukan siapa yang bersalah
kau tau mengapa? mereka hadir karena hanya sebuah pemicu
yang dengan mudah tertawa menyaksikan kepolosanmu bekerja
berhenti! suruh saja petir ikut serta sekaligus lagi-lagi mereka berkata
jika kau tak temukan makna dari sajakku, kau takkan pernah tau
jika kau tak juga menemukan maksudku, sampai kapan kau akan paham
paham akan berartinya kamu untuk bangkit dari jatuh
paham akan berartinya kamu untuk tertawa dari murungmu
putar lagi apa yang ku sampaikan
kau takkan menemukan yang terbaik
jika, kau selalu menyalahkan apa yang sudah mencoba baik
dan lagi takkan ada hujan tanpa awan
kau, berhak bertanya pada dirimu apa yang telah kau lakukan
kau, berhak mengulang kebaikan yang selama ini kau simpan
kau, tak pantas untuk menjadi seorang pelempar batu
yang terus menyembunyikan tangannya
dibalik senyummu, berkacalah sekali lagi
mereka memintamu melihat tangis yang tersembunyi
lubukmu meronta, kau terpatri mengalahkan api
dari mata hati yang kelam, mereka pasti bersinar
tertulis, dari hati yang terus meronta
tertulis, untuk hati yang bertanya
sudahkah hari ini lebih bermakna?
write by @itijonas
Komentar