Langsung ke konten utama

Sedikit cerita dari kota Aachen

Hallo semua para pembaca setia!! Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini seperti tidak makan sebulan hehe kali ini saya sudah sampai di kota impian Aachen. Saya akan menceritakan sedikit tentang pengalaman disini.

Aachen, Germany
Saat ini sedang musim gugur, gugurnya pepohonan Aachen membuat hati saya bersemangat menjalani hari disini walaupun cuaca disini benar-benar jauh berbeda dengan cuaca indonesia. Walaupun dingin tapi entah apa, saya hanya senang.

Saya disini belum menjalankan kuliah, saya baru menjalankan kursus wajib bahasa untuk mendapatkan sertifikat untuk lanjut ke jenjang berikutnya. Semakin hari pelajaran bahasa ini sangat menyulitkan. Walaupun otak saya standar dalam hal ini, setidaknya belajar adalah jalan satu-satunya. Melihat kebiasaan masyarakat disini membuat saya belajar banyak. Lebih mandiri dan disiplin. Kota bersih dan sangat nyaman.

Saya baru sebulan di kota ini, akan banyak tahun lagi yang akan saya habiskan di negara ini. Dan kota ini terlihat banyak sekali seorang muslim membuat saya tidak canggung. Walaupun seperti itu setidaknya dalam hal makanan tetap harus berhati-hati. Ada lagi pabrik coklat yang membuat saya tergiur setengah mati. Coklat dan ice cream yang begitu lezat membuat dahaga itu tak kunjung lepas hehehe Belum banyak pengalaman saya dapatkan di kota ini tapi saya mendapat kesan yang begitu banyak membuat saya terus belajar .

Dikarenakan perbedaan waktu Indonesia-Jerman yang terpaut jauh sekitar 5 jam membuat saya sulit berkomunikasi lama dengan orang tua membuat rindu itu terkadang memanggil-manggil. Rindu keluarga, tanah air, guru-guru bahkan teman-teman membuat saya ingin cepat-cepat menyelesaikan study dan pulang dengan segera. Tapi itulah tantangan yang harus saya hadapi.

Untuk pembaca setia saya meminta doa agar saya dapat cepat menyelesaikan dan lancar di negri ini. Segitu dulu yang dapat saya ceritakan, berhubung saya hanya menulis lewat handphone saya tidak dapat menampilkan foto-foto di kota ini.

Sekian, salam hangat dari kota Aachen

Annisa Istiqa Suwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...