Langsung ke konten utama

aku padamu...?

"aku padamu sekarat.."

banyak frasa yang sudah ku tulis untukmu. dari mulai cacian hingga kerinduan. satu hal yang menyebalkan adalah menemukan dimana kau dan aku harus dipisah. baik secara jarak maupun hati. banyak hati yang terluka waktu itu, banyak makian yang terlontar. bahkan perwujudan dewasa belum menghampiri. ada aku yang menimpakan semua kesal pada waktu. karena telah dipertemukan dengan seorang kamu di waktu yang selalu saja salah. 

mulanya, degup yang biasa. perhatian kecil yang kita bagi hanya pada waktu malam, dalam sunyi yang kelam. kau dan aku menyatu jadi kita. dari mula aku tak bisa berpakaian dengan baik, hingga kamu yang sibuk kesana-kemari dengan kerumunanmu. mulai  dari cinta segitiga yang hinggap antara aku kau dan laki-laki itu. dipadu lagi dengan banyak tarikan yang menghalangi kesiapanku. 

kau sudah dengan benar meletakkan hatimu dari awal. meski aku sering kali goyah, kau selalu mengingatkan bahwa kau akan selalu ada. meski aku lari berkali-kali, kau masih mencintaiku dengan sabar. dengan semua perkataanku, semua halnya yang terlihat buruk, hingga mematahkan harapan yang sudah kau bangun. dari banyaknya bagian, kau selalu menjelaskan hatimu dengan pelan.

hingga salah yang kita perbuat. menjadikan jarak pada hati makin tak karuan.

kini, aku pelan mulai mengerti menerjemahkan rasa. mengungkapkan degup dengan hati lapang tanpa beban. aku, kau ajari menjadi lebih kuat. menahan air mata dan menjadi dewasa. meski kisah yang ku tulis tentangmu berulang kali adalah hal yang sama. aku tak pernah bosan, menjadikanmu salah satu inspirasi dalam tulisanku. karna berkatmu, aku merangkai morfem per morfem dengan baik



with love, itijonas     

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...