Langsung ke konten utama

something about you were like ...

For the guy who called himself as dark.

It's been a long years to spent this whole times with you. Seven years ago, we met each other as a strangers. We didn't talk that much. I didn't see you anytime. I didn't even care about what were you doing out there. Since the day, you found me as the girl you fallen in love with. Protected me, made some stupid jokes, cared for me, and every single day payed attention to my life. I never thought that I would be so in love with you. With every fucking bad condition in the past, with every fucking terrible situation in our life, with every fucking barricaded time in our relationship. I was hurt you and so you were. So here we go again.

I told you before, you never fail to make me fall in love. 

I guess, I was in the right choice when I tried to run away from you. And I thought after all this time, we were forget it all the memories. But I was wrong. You showed me what love is. You teached me everything that I don't know. You smile at me even if you feel some pain. You shared everything you need to shared. You gave me anything that I never asked for it. You cooked for me. You sang me a song. You treated me very nice. You never get bored to say good morning and goodnight. You always kissed me before I fall asleep. And you waited for me to realize that.  
You're doing something that everybody don't.

Thank you for saying sorry. Maybe it's too late, but that's okay better than never. And sorry for saying thank you, to still loving and waiting for me. We messed up everything, now it's time to fix it.
I was reckless to make a decision. But for now, I won't make the same mistakes. From now, let me show you what love is. I let you fall in love with me everyday without respite. I won't hear every mouth that talk about your bad habit, with the best I can, I'll respect all your life. I won't make you change your lifestyle because of me, but I want you change into someone better with your own way. Because I won't walking behind you, I just want to walk beside you and holding your hand. I also gonna be your reason to smile everyday.

Just love me.
Don't love the other girl like before.
Just me. I begging you.
Perhaps it is my selfish request, but just love me.

Give me a chance to prove everything that I ever left behind before. It's time to walking together like the first time you were crush on me. I never care again with anyone who tried to block our way, I'll fight for it. We've been face it years by years, so now it's time to be happy.
 
P.s
I'll always love you with every scars that made us stronger. I tattooed them here (in my heart).


With love,
Your chubby cheeks girl.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...