Langsung ke konten utama

Berita Burukmu

Aku ingin mengajakmu mengelilingi dunia di dalam kepalaku. Agar kau tahu, segala rasa yang bercampur dalam hidupku begitu rumit. Setiap kali aku menjelaskan, kau sulit mengerti. aku pun sulit memberitahumu. Aku ingin mengajakmu menelusuri labirin hatiku yang penuh duri. Tapi, hati-hati terluka aku tidak bisa menyelamatkanmu. Setiap hari aku selalu berdarah, mengering lalu berdarah lagi. Apa kau siap?

Menjalani kehidupan yang sulit sepertinya tidak cocok untukmu. Namun, bagiku menjadi sulit adalah biasa yang ingin aku hilangkan. ingin rasanya, bercanda dan tertawa tanpa ada beban di kepala. Rasanya, ingin sekali mengelilingi kota dengan riang tanpa harus menangis. Ingin berhenti merasakan pahitnya kopi dan menikmati coklat dingin di tepi pantai bersamamu. Ingin sekali bernyanyi bersamamu dan menuliskan asmara kita dalam narasi. Semua adalah mimpi yang inginku wujudkan denganmu. Sekali lagi tapi, aku sulit mengajakmu untuk mengerti karena kau tak benar-benar ingin mencoba menyelam bersamaku.
 
Semua cinta dan kasih sayang yang kau berikan semata-mata seperti password untuk kita dapat berbicara membahas basi-basi yang sebenarnya ingin sekali ku hargai dengan baik. lagi-lagi aku tetap tidak bisa menerima segala basi yang kita bayangkan. Semua percakapan seolah memenuhi perasaanku dan menjadikannya sesak, percakapan dan hubungan ini seperti menarikku semakin terbiasa dengan kesepian. Padahal, sejak awal aku memilihmu adalah karena membutuhkan bantuan. Bantuan untuk menarikku dari candu sepi yang semakin membunuhku. Rasanya sulit sekali membuatmu memahami dan aku lelah berusaha.

Semua kegilaan ini berbentur di kepalaku. Sehingga, namamu, wajahmu, kisahmu memudar dan perihnya hati semakin menjadi-jadi. Aku enggan katakan lagi apa yang ku inginkan selain menyendiri. Aku enggan lagi melihat kebelakang, karena setiap malam aku selalu kehilangan diriku sendiri dan aku selalu sulit bernafas. Aku enggan mengajakmu lagi untuk menjalani hari denganku.
 

Dari awal sebenarnya kau sudah tau, bahwa aku adalah berita buruk untukmu. Dan akan selalu menjadi berita burukmu.

Dari awal sebenarnya kau tak harus paksakan menyelamati jiwa-jiwa kosong ini, karena aku akan sulit melihatnya bahkan dengan hatipun akan memakan waktu yang begitu lama. Hati ini, perasaan ini, terlalu tajam untuk kau masuki lebih dalam.


with love, 
 
 
itijonas





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...