Langsung ke konten utama

aksaramu

 

Banyak hal yang terlalui setelah kepergian kita waktu itu. Aku beranjak dari kursi yang masih ingin diduduki, merasa terusir dari gema-gema merdumu. Entah, amarah yang ku tumpahkan membuncah begitu saja. Segala hal mengenaimu memberi luka yang tak bersudah. Berkali-kali ku maki namamu dan berusaha mengendapkan segalanya dalam erat. Ternyata, selama ini aku takut jika jatuh cinta padamu. Ku tutupi segala hal mengenai perasaan. Ku lebur segala rindu yang membara. Luka-luka bekas dusta masih mengiris tanpa ampun. Jika luka hanyalah simbol bagi hati yang patah, lantas bagaimana dengan bahagia yang terlajur ku rasa?

Hanyut dalam gelisah. Memeperhatikan setiap jalan, berharap tak temui dirimu. Berlari lebih kencang, seakan dikejar. Waktu yang berjalan cepat dari biasanya, melumerkan segala bara yang menumpuk. Sepotong cinta yang membeku, meleleh meminta alasan. Sekali, dua kali, tiga kali dapat tertahan. Untuk seterusnya, meminta penjelasan.

Aku tak perlu berkoar bahwa aku mencintaimu, bahkan kau tak perlu tau bagaimana perasaan itu tumbuh dalam hening yang ku sematkan doa didalamnya. Aku bahkan tak bisa jujur untuk berkata kebenaran pada setiap orang. Bahkan Tuhan, hanya mampu menuliskan aksaramu dalam lembar waktu ku. Entah hanya untuk waktu lalu, hari ini atau untuk waktu esok.

Selagi embun masih membasahi subuh, perasaan ini akan tetap basah meski kering selalu meminta jatah untuk datang. Saat ku gusar tentangmu, aku hanya ingat setiap detail lingkar cinta yang sempat jadi milikku. Namun kini rahasiaku sudah tergantung dalam memorimu, jika esok hari kita saling menghilang. Kenanglah bahwa kau dan aku pernah jatuh cinta berdua.

 

with love,

 

itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...