Banyak hal yang terlalui setelah kepergian kita waktu itu. Aku beranjak dari kursi yang masih ingin diduduki, merasa terusir dari gema-gema merdumu. Entah, amarah yang ku tumpahkan membuncah begitu saja. Segala hal mengenaimu memberi luka yang tak bersudah. Berkali-kali ku maki namamu dan berusaha mengendapkan segalanya dalam erat. Ternyata, selama ini aku takut jika jatuh cinta padamu. Ku tutupi segala hal mengenai perasaan. Ku lebur segala rindu yang membara. Luka-luka bekas dusta masih mengiris tanpa ampun. Jika luka hanyalah simbol bagi hati yang patah, lantas bagaimana dengan bahagia yang terlajur ku rasa?
Hanyut dalam gelisah. Memeperhatikan setiap jalan, berharap tak temui dirimu. Berlari lebih kencang, seakan dikejar. Waktu yang berjalan cepat dari biasanya, melumerkan segala bara yang menumpuk. Sepotong cinta yang membeku, meleleh meminta alasan. Sekali, dua kali, tiga kali dapat tertahan. Untuk seterusnya, meminta penjelasan.
Aku tak perlu berkoar bahwa aku mencintaimu, bahkan kau tak perlu tau bagaimana perasaan itu tumbuh dalam hening yang ku sematkan doa didalamnya. Aku bahkan tak bisa jujur untuk berkata kebenaran pada setiap orang. Bahkan Tuhan, hanya mampu menuliskan aksaramu dalam lembar waktu ku. Entah hanya untuk waktu lalu, hari ini atau untuk waktu esok.
Selagi embun masih membasahi subuh, perasaan ini akan tetap basah meski kering selalu meminta jatah untuk datang. Saat ku gusar tentangmu, aku hanya ingat setiap detail lingkar cinta yang sempat jadi milikku. Namun kini rahasiaku sudah tergantung dalam memorimu, jika esok hari kita saling menghilang. Kenanglah bahwa kau dan aku pernah jatuh cinta berdua.
with love,
itijonas
Komentar