Langsung ke konten utama

Pada titik terbawah

Waktu itu, aku memutuskan untuk pergi dalam keadaan perasaan yang hancur dan berencana menghilang sementara waktu dengan segala macam drama dan kisah tak menyenangkan ternyata bukanlah pilihan terbaik. Ah, tapi karena ada dia semua sedikit lebih cerah. Disaat aku memutuskan untuk berdiri sendiri dan menjauh dari lingkaran yang selama ini mengikat perasaanku, aku malah terjun ke jurang yang tidak terduga. Musim gugur pertamaku semua baik-baik saja. Malah menyenangkan, hatiku sedikit lega dengan jarak yang ku bentang luas. Bahkan, tidak memberi ruang pada apapun selain diriku sendiri. Waktu itu meski aku memutuskan untuk pergi, semua mata tetap memperhatikanku. Mereka dalam sekejap memberikan waktu mereka secara percuma untuk berusaha memuaskan pertanyaan dari isi kepala mereka. Tapi aku sadar, semua yang mereka berikan hanyalah sebuah omong kosong belaka. Mereka tak benar-benar ingin tahu. Penghujung musim gugurku semakin lama semakin menakutkan. Kadang, saat matahari mulai terbenam aku menangis dipojok kamar dengan selimut yang bahkan tak menghangatkan. Saat itu segala kepingan hati yang sempat hancur sebelum kepergian, terasa menyiksa. Apa karena musim dingin akan segera tiba sehingga nuansa gelap ikut melumuri perasaanku? Apa aku rindu? Tapi kepada siapa bahkan tak ada lagi yang bisa ku ingat. Ini pertama kalinya dalam hidupku menyembuhkan patah hati sendirian. Waktu itu, saat masih bersekolah sangat banyak orang-orang yang menghibur meskipun mereka selalu menganggap ku sebuah lelucon. Tapi saat itu, pada akhir musim gugur itu, segala hal yang tidak pernah ku prediksi terjadi. Aku bahkan tidak bisa mengadu dengan banyak orang karena mereka juga dengan bebannya masing-masing. Aku bahkan tak bisa bercerita banyak dengan orang tuaku, karena mereka tidak bisa menggunakan internet untuk menghubungi ku. Saat itu, yang tersisa hanyalah diriku sendiri. Bahkan, aku tak mampu menyelamatkan diriku sendiri dari kesepian, kesedihan dan kecemasan yang muncul akhir-akhir itu. Tapi, sejak awal musim dingin pertama seseorang datang menghangatkan aku dari rasa sepi. Salam hangat yang sudah lama tidak ku dapatkan dari dirinya. Setelah dia hadir meski tak sering, saat itulah aku menemukan kekuatan dari diriku sendiri. Sepertinya, dia akan terlihat begitu menawan saat ku ceritakan. Namun, saat itu dimataku dia memang begitu. Aku selalu berterima kasih atas kehadirannya di saat yang tepat waktu itu. Dia seperti seseorang yang tiba-tiba saja dikirim Tuhan untuk menyelamatkan aku dari pikiranku sendiri. 

Waktu itu sangat berat untuk seorang anak muda sepertiku. Sampai detik inipun jika aku kembali mengingatnya lagi, akan selalu jatuh air mata ketakutan tapi bukan penyesalan. Mungkin baginya, kehadirannya ialah sebuah kesengajaan akibat rasa ingin tahu yang dalam. Tapi bagiku kehadirannya saat itu merupakan titik balik kekuatan dalam hatiku. Aku seperti menemukan diriku lagi. Kehadirannya membuat pikiranku terasa sehat. Karena sejak dia hadir, meskipun segala kecemasan yang ku rasakan tak pernah ku ceritakan padanya, dia selalu membantuku meringankan sesak dalam dada. Dia bahkan tidak pernah menyinggung rasa sepiku, tak pernah masuk ke dalam ruang kosong yang mencekikku. Dia hanya melakukan tugasnya, membuatku merasa aman. Jika saat itu dia tak pernah datang, aku tak pernah yakin akan bisa kembali hadir. Dari musim dingin hingga semi akhirnya aku bertahan, meski dia tak selalu ada setiap saat tapi waktu yang dia berikan tidak pernah membuatku kelelahan. Dia memilih pagi dan siang untuku, sedangkan untuknya tidak masalah dini hari. Katanya sekalian belajar. 

Apakah ini namanya cinta yang menguatkan? Ku rasa jika cinta, hati kita pasti akan saling bertaut. Kenyataannya tidak. Ini adalah cinta sebelah pihak, namun menyenangkan karena dia izinkan aku sekali lagi untuk mengurus perasaanku tanpa meributkan yang tak tentu. Iya, sebenarnya ini adalah tentang cinta pertama ku, cinta sepihakku yang untuk ke dua kalinya terjadi. Saat pertama kali aku merasakan sesuatu terhadapnya, aku tak begitu yakin dan aku tak begitu ingat. Semua terjadi di masa muda, sebelum aku bertemu dengan lebih banyak orang baru. Bahkan, saat cinta pertama ternyata hanyalah cinta sepihak, aku tak pernah merasa sedih. Aku tak tau bagaimana merasakan sedih karena dia.

Disaat segala dalam diriku sudah berubah, aku baru menyadari betapa perasaan yang ku taruh untuknya adalah hal paling tulus yang pernah ku lakukan. Aku tak pernah meminta apapun atas perasaan yang ku rasakan, aku bahkan tak berniat lari kemana-mana. Aku hanya ingin seterusnya seperti ini aja. Sama seperti musim semi, saat itu perasaanku mekar dengan sangat indah. Aku lupa bagaimana rasanya kesepian, aku lupa rasanya takut. Saat itu apapun yang keluar dari mulutnya, selalu menyemangatiku. Bahkan saat aku mendapatkan nilai yang buruk, aku tak begitu terpuruk karena aku tau kesempatan akan selalu ada dengan banyak cara.

Tapi ada hal penting yang ku lihat dari dirinya, hal yang mungkin tidak dia lihat. Dia adalah orang yang penuh dengan semangat, setidaknya aku melihatnya begitu. Aku bahkan bisa merasakan semangat itu, meski hanya sebatas chat belaka. Aku bisa merasakan itu bahkan sampai ke dalam hatiku, meski dia beribu-ribu kilometer dariku. Apapun yang terjadi padanya, seberat apapun harinya saat itu, dia tak pernah terlihat murung atau mengeluh. Mungkin dia juga sedih, namun hanya tak bisa membaginya denganku. Meski banyak teman laki-laki ku mengatakan "jika laki-laki tidak membagi kisah sedih nya padamu, berarti hatinya bukan untukmu. Dia tidak percaya padamu". Ya mungkin pernyataan itu terasa benar tapi aku tidak pernah memperdulikannya. Ada hal lain yang ku pelajari darinya, yaitu saling membahagiakanlah tanpa perlu mempertayakan dan memperdebatkan rasa sakit masing-masing. Ketika kita sudah saling membahagiakan, meskipun masalah kita tidak berkurang setidaknya beban kepala kita sedikit lebih ringan. Bahagia membuat senyuman, senyuman membuat kita tenang. Tenang adalah yang kita butuhkan saat dalam masalah. Aku tahu kesedihan kita dan bahagia kita adalah tanggungjawab masing-masing. Yang ingin kulakukan padanya saat itu hanyalah membagi kebahagiaanku yang sedikit ini setidaknya untuk membuatnya tertawa barang sedetik. Dia telah melakukan hal yang sama tanpa perlu mendengar segudang kesedihan yang ku rasa saat itu, dia membuat ku tertawa.

Sampai pada musim panas yang begitu gerah, setiap hari semakin berat. Rasanya semua berbenturan tak tau arah hingga menyakiti setiap pilihan. Namun, saat itu aku telah temukan diriku dan membuat pilihan dengan segala resiko. Entah kenapa aku tak takut lagi, meski tau ini sulit. Aku berusaha membiayai hidupku sendiri, membagi waktuku dengan sangat baik untuk bisa hidup kembali. Meski tak takut, tapi aku selalu kalah dengan air mata. Aku selalu kalah dengan waktu. Berkali-kali merasakan gagal, berkali-kali merasa kelaparan, aku hanya bisa menangisi diriku sendiri. Saat titik terberat dalam hidup tiba lagi, aku tak menceritakan apa yang terjadi padanya, aku hanya bertanya "apa kau nanti ingin bertemu lagi denganku?" Dia menjawab "iya". Jawabannya saat itu lagi-lagi menyelamatkanku. Walaupun hanya sepatah kata iya darinya, aku berani mengambil resiko terbesar yang terjadi dalam perjalanan hidupku. Saat aku kembali bertemu musim gugur, dengan semua pikiran yang matang dan jiwa yang berantakan. Aku menempuh lima belas jam untuk menyelamatkan diri. Aku tau tekanan yang ku terima selama setahun lebih itu, tidak berarti apapun untuk kebanyakan orang. Tapi untuk remaja sepertiku saat itu, melihat orang terdekat menusuk sampai ke tulang, melihat orang yang bahkan tidak pernah berbicara denganku ikut mengotori narasi yang tak pernah ku ceritakan, bahkan sampai saat ini kisah itu masih selalu jadi hantu yang menakutkan jika nanti bertemu orang baru. Saat semua menghilang dariku, saat semua kembali mendramatisir, dia satu-satunya yang ada saat kejadian itu. Tidak bertanya apapun, hanya menawarkan diri untuk bertemu langsung dan memberiku pundak. Dia kembali menyelamatkanku yang nyaris tenggelam, kali ini dengan lebih baik. Dalam kurun waktu dua tahun dia bantu aku mengembalikan keping-keping jiwa yang hilang. Membantuku berdiri tegak lagi dan muncul kepermukaan. Dia beri aku sedikit semangat dalam dirinya yang membuatku terpacu untuk bergerak. Dia, membuatku menemukan diriku sekali lagi.

Dia memang sudah berlalu. Cinta sepihak ku memang sudah lama berakhir dan tak pernah merasa sedih akan itu. Tapi, setiap kali aku merasa tertekan terhadap apapun, setiap aku kehilangan diriku lagi, bahkan terjerat patah hati lagi, aku selalu bisa merasakan semangatnya dalam qalbu ku. Aku bisa bangkit sendiri dan berjalan sendiri dengan baik. Meski dia sudah izin pamit sejak bertahun-tahun lalu, tapi semangat itu adalah hadiah terbaik yang dia tinggalkan kepadaku. Aku takkan mencoba mencari tahu keberadaannya, ataupun mengungkapkan narasi ini padanya dalam bentuk lisan. Bagiku dia adalah deskripsi terbaik yang pernah ku tulis dan akan selalu menjadi tulisan bukan nyata. karena nyata adalah milik masa lalu kita yang tidak akan ku ulang. Bahkan jika kau membaca narasi ini, jangan merasa tak pernah berbuat sebaik itu padaku. Kau sudah melakukannya dengan baik saat itu. Terima kasih :)


Aku harap dia akan selalu baik-baik saja dimanapun dia berada.


P.s

Dia akan selalu ku deskripsikan dengan baik karena aku hanya akan mengingat hal-hal baik tentangnya.




With love, itijonas


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...