ingin ku tulis cerita tentang dia. pria tampan, tinggi semampai yang tiba-tiba saja ku kenal seperti angin. dia yang tidak pernah ada dalam rencanaku, baik itu bertemu, berkenalan ataupun berbagi waktu bersama. dia tidak pernah ada dalam daftar keinginan ku. tiba-tiba saja, saat dunia terasa berat, Tuhan seperti menghadirkan sosoknya muncul dalam radarku. begitu dekat, hingga aku berkali-kali harus mematikan sinyal agar tak selalu melihatnya. tak ada yang mudah, ketika jatuh cinta hanya dalam hitungan detik. tidak pernah ada yang mulus jalannya, ketika kau tak punya cukup banyak waktu untuk memperlihatkan sisi terbaik dari dirimu kepadanya.
dia, pria yang sangat dingin.
saat ku perhatikan ia berjalan, selalu ku lihat lesu kerap kali menempel di wajahnya. ingin rasanya, membuat dia tertawa saja. hal itulah yang muncul dalam kepala ku setiap melihatnya berjalan sendirian. entah kenapa, rasa seperti itu muncul pada orang asing yang tak ku kenali asal usulnya. rasanya lucu, melihat diriku saat itu begitu bahagia hanya dengan percikan kecil yang tak disengaja. berbincang dengannya, tertawa bersamanya, rasanya, aku ingin terus membuat dia tertawa dengan keahlian ku yang tak seberapa. mungkin saja, bebannya akan berkurang barang kali seinci. sampai aku sadari, ternyata aku menyayanginya lebih dari yang aku rencanakan.
hingga di suatu malam, aku meramu diriku untuk tidak bertindak terlalu jauh. aku tidak ingin, ada dalam lingkaran setan yang bernama cinta lagi. jika dengan melihatnya, segala tameng yang ku bangun akan runtuh, aku perlu merapikan lagi susunan pikiranku. aku tidak ingin hadirku, dapat merusak semua pola hidupnya. sejak malam itu, ku putuskan untuk mengikat jarak dengan dia, dengan berusaha hanya menjadi teman yang akan selalu ada.
untuk pertama kalinya, aku merasakan bahagia tanpa perlu terbebani oleh sebuah harapan. rasanya, dia dihadirkan memang untuk menguji segala pertahanan yang sudah ku bagun. dia seperti sebuah tes yang akan menentukan, apakah aku akan kembali menerjemahkan banyak rasa atau menjalani segalanya dengan lapang dan baik-baik saja. walaupun sekali-kali pikiranku akan kelewat batas jika melihat wajahnya. ada-ada saja jalan cerita yang dibuat-buat oleh ilusi malamku. tapi, beruntung semua dapat ku lahap cukup dalam imajinasi.
aku tak merasa takut kesepian jika ia memutuskan untuk pergi dari hidupku. aku tak merasa takut akan banyak hal perihal perasaanku padanya, jika nantinya ia menemukan pelabuhan lain untuk berhenti berlayar. sampai saat ini, aku hanya menyayanginya seperlunya. aku hanya ingin hadirku dapat membuatnya melepaskan lega atas segala hal yang melelahkan harinya, aku akan selalu berusaha mengangkat panggilan darinya tanpa tau waktu, hanya ingin mendengar dia tertawa setiap hari dan bersemangat menjalani hari.
aku takkan pertanyakan apa beban yang sedang ia pikul, aku akan berusaha untuk tak ingin tau masalah apa yang tengah ia hadapi, sulitkah harinya, beratkah hatinya, cukupkah tidurnya, teraturkah makannya. bagiku, semua itu bukanlah kapasitasku untuk mempertanyakan semua padanya secara langsung. begitupun aku, aku takkan mendeskripsikan segala hariku, takkan menerjemahkan kesedihan ataupun rasa sepiku. aku hanya ingin dia selalu tahu, aku baik-baik saja dan aku akan selalu mendoakan segala kebaikan serta kesehatan untuknya dari jauh dan dalam diam. Tuhan pasti mendengarkanku, tanpa perlu ku utarakan segala keingintahuan itu padanya. apakah itu bagian dari menjalani segalanya dengan lapang? iya. begitulah caraku saat ini menyayanginya dan menyayangi diriku sendiri.
keputusan yang berat bagiku untuk menahan segala bentuk rasa peduli dengan semua kebiasaanku yang cenderung menumpahkan kepedulian itu sendiri kepada orang-orang yang cukup berarti. tapi, demi kebaikan perasaanku, segala asam dan manis keputusan itu takkan bernilai buruk untuk aku, dia atau siapapun nantinya karena aku takkan menyalakan apiku terlalu besar lagi untuk saat ini. untuk pertama kalinya aku tak letakkan ekspektasi apapun di kepalaku untuknya. aku hanya ingin semua mengalir saja, karena yang baik akan tetap tinggal dan yang buruk akan memilih untuk pergi lebih dulu.
begitulah kisah orang itu dalam asam manis perjalananku saat ini.
with love, itijonas.
Komentar