pada pukul dua dini hari, rembulan memilih bersembunyi di balik mendung yang dingin. jendela yang sengaja ku buka agar angin bersedia menggulung malam ku dengan kesejukan. aku memperhatikan jalanan yang remang dan hening. yang terdengar hanya suara jangkrik sesekali, juga suara air kolam ikan di depan kamar ku. suasana hening ini mengirim ku pada miliyaran renungan. dua dini hari adalah waktu yang tepat segala resah dan gelisah berkumpul di puncak kepala. ku putar lagu-lagu yang baru saja ku tambahkan dalam daftar favorit ku baru-baru ini, sambil menyeruput coklat hangat dan meletakkan kursi menghadap jendela kamar yang terbuka.
bagaimana bisa segala resah itu berkumpul di waktu semua manusia harusnya dengan mimpi terbaik mereka? aku selalu menghela nafas berat. kenapa, dua dini hari menjadi teman yang salalu handal jika diajak berdiskusi. walaupun, terlalu sering aku memeriksa ponsel ku, untuk melihat adakah seseorang yang masih terjaga agar dapat menemaniku memikirkan perihal kehidupan ini. ya, lagi-lagi tidak ada. kebanyakan, lebih memilih untuk mengejar mimpi mereka dalam tidur atau sama seperti ku, menatap jendela kamar atau mungkin langit-langit kamar mereka dalam diam.
dua dini hari adalah waktu yang tepat untuk mengulas diri sendiri. sudah sejauh apa aku melangkah, sudah seberapa banyak kesalahan yang aku perbuat, sudah berapa kali aku patah hati, sudah seberapa sering aku berusaha pulih dan masih banyak lagi. adakah orang lain melakukan hal yang sama? mencoba mengoreksi diri sendiri lebih tajam dari koreksi orang lain.
selain itu, dua dini hari juga merupakan waktu yang tepat untuk merindukan seseorang. ya, sepertinya, topik merindukan adalah topik paling hangat yang dimiliki manusia saat ini. sejak adanya kehidupan berjarak dua tahun terakhir, segala celengan rindu setiap orang sudah mulai penuh, meminta segera dikeluarkan. tapi tak apa, tabung lebih banyak lagi, hal itu akan membuatmu merasakan jatuh cinta setiap hari. begitulah selama ini aku mengelola rinduku terhadap apapun. aku tak pernah katakan, aku tak pernah menganggapnya berat, tapi semuanya ku rasakan sendiri hingga rasa rindu yang tumbuh di dalam hatiku malah membuatku jatuh cinta padanya berkali-kali. sudahlah, membahas rindu, hatiku mulai berdebar kencang. hatiku dengan teganya memberi sinyal ke otak untuk menampilkan wajahnya di layar langit yang gulita ini.
sepertinya pembahasan pukul dua dini hari ini, kita sudahi saja. aku takut, jika semakin larut, aku semakin jatuh cinta padanya.
with love, itijonas
Komentar