kau suruh aku menunggu
menitipkan janji pada puing kenangan lalu
kau mohonkan padaku untuk tidak jemu
memintaku bersabar terlebih dahulu
kau katakan cintamu nyata untukku
merangkak bimbang kau pada ucapanmu
kini kau berlalu
meninggalkan segenggam harapan palsu
ada dusta setiap menatap mata sayu itu
tersuguh ragu bergelimpung
seperti inikah cinta yang kau agung-agungkan?
kau saja, berjanji tidak bisa! apalagi menjagaku!
kau selalu berkata kaulah yang paling mengerti aku
toh, kini apa?!
kau malah yang membuatku kian menjauh
omong kosongmu terlalu mudah terbaca
hatiku masih bisa meraba
siapa yang benar dan siapa yang salah
sudah jelas! kau tidak menyelipkan namaku dalam doa
ucapanmu palsu!
penuh semu yang tak berguna
kau pengecut!
yang hanya berkata 'iya' namun berlalu
kau memang tak memiliki arti
menyuguhkan tetesan rindu katamu?
mulutmu terlalu besar sayang!
teorimu terlalu panjang
hingga dusta mengelilingi hidupmu
ucapanmu mentah!
tak terjamah oleh pemikiran kerdilku
kau pendusta!
yang selalu bergeming cinta saat hatimu berubah
kau berkata 'mempertahankan'
sedang nyatamu berusaha 'melepaskan'
belajarlah untuk lebih terbuka sayang!
aku bukan boneka yang bisa kau permainkan
lihatlah dirimu dahulu
berkacalah sebelum menilaiku!
duka ku jauh melebihi kapasitas lukamu
api yang kau hadirkan kini padam sayang!
kepercayaanku sirna termakan sumpah serapah
aku muak sayang!
tingkahmu menggila bak binatang kelaparan
aku berhenti sayang!
rinduku yang dulu memuncak kini entah kemana
dan lagi-lagi aku tidak peduli sayang!
hidupmu bukan lagi urusanku
bahagiamu tak lagi jadi bahagiaku
silahkan kau pergi
bukankah aku tak memintamu untuk kembali?
masa lain yang kau idamkan kini, pupuskan saja
tak guna kau berceloteh lagi
aku takkan kembali
sama seperti pertama kali ku membenci
ragaku mati untukmu
otakku rusak mengingatmu
puing rasaku, jangan kau tanya lagi
aku tak tau kemana ia pergi
cintamu hitam, rindumu gelap
kau tak terlihat, tak terduga
tertutup sudah semua angan
hilang tertelan sang malam
seperti yang kau sebutkan
kau pecinta hitam!!
menitipkan janji pada puing kenangan lalu
kau mohonkan padaku untuk tidak jemu
memintaku bersabar terlebih dahulu
kau katakan cintamu nyata untukku
merangkak bimbang kau pada ucapanmu
kini kau berlalu
meninggalkan segenggam harapan palsu
ada dusta setiap menatap mata sayu itu
tersuguh ragu bergelimpung
seperti inikah cinta yang kau agung-agungkan?
kau saja, berjanji tidak bisa! apalagi menjagaku!
kau selalu berkata kaulah yang paling mengerti aku
toh, kini apa?!
kau malah yang membuatku kian menjauh
omong kosongmu terlalu mudah terbaca
hatiku masih bisa meraba
siapa yang benar dan siapa yang salah
sudah jelas! kau tidak menyelipkan namaku dalam doa
ucapanmu palsu!
penuh semu yang tak berguna
kau pengecut!
yang hanya berkata 'iya' namun berlalu
kau memang tak memiliki arti
menyuguhkan tetesan rindu katamu?
mulutmu terlalu besar sayang!
teorimu terlalu panjang
hingga dusta mengelilingi hidupmu
ucapanmu mentah!
tak terjamah oleh pemikiran kerdilku
kau pendusta!
yang selalu bergeming cinta saat hatimu berubah
kau berkata 'mempertahankan'
sedang nyatamu berusaha 'melepaskan'
belajarlah untuk lebih terbuka sayang!
aku bukan boneka yang bisa kau permainkan
lihatlah dirimu dahulu
berkacalah sebelum menilaiku!
duka ku jauh melebihi kapasitas lukamu
api yang kau hadirkan kini padam sayang!
kepercayaanku sirna termakan sumpah serapah
aku muak sayang!
tingkahmu menggila bak binatang kelaparan
aku berhenti sayang!
rinduku yang dulu memuncak kini entah kemana
dan lagi-lagi aku tidak peduli sayang!
hidupmu bukan lagi urusanku
bahagiamu tak lagi jadi bahagiaku
silahkan kau pergi
bukankah aku tak memintamu untuk kembali?
masa lain yang kau idamkan kini, pupuskan saja
tak guna kau berceloteh lagi
aku takkan kembali
sama seperti pertama kali ku membenci
ragaku mati untukmu
otakku rusak mengingatmu
puing rasaku, jangan kau tanya lagi
aku tak tau kemana ia pergi
cintamu hitam, rindumu gelap
kau tak terlihat, tak terduga
tertutup sudah semua angan
hilang tertelan sang malam
seperti yang kau sebutkan
kau pecinta hitam!!
true story from n.a.s
write by @istiqasuwondo
Komentar