Langsung ke konten utama

Pendusta Hitam

kau suruh aku menunggu
menitipkan janji pada puing kenangan lalu
kau mohonkan padaku untuk tidak jemu
memintaku bersabar terlebih dahulu

kau katakan cintamu nyata untukku
merangkak bimbang kau pada ucapanmu
kini kau berlalu
meninggalkan segenggam harapan palsu
ada dusta setiap menatap mata sayu itu
tersuguh ragu bergelimpung

seperti inikah cinta yang kau agung-agungkan?
kau saja, berjanji tidak bisa! apalagi menjagaku!
kau selalu berkata kaulah yang paling mengerti aku
toh, kini apa?!
kau malah yang membuatku kian menjauh
omong kosongmu terlalu mudah terbaca
hatiku masih bisa meraba
siapa yang benar dan siapa yang salah
sudah jelas! kau tidak menyelipkan namaku dalam doa

ucapanmu palsu!
penuh semu yang tak berguna
kau pengecut!
yang hanya berkata 'iya' namun berlalu
kau memang tak memiliki arti
menyuguhkan tetesan rindu katamu?
mulutmu terlalu besar sayang!
teorimu terlalu panjang
hingga dusta mengelilingi hidupmu

ucapanmu mentah!
tak terjamah oleh pemikiran kerdilku
kau pendusta!
yang selalu bergeming cinta saat hatimu berubah
kau berkata 'mempertahankan'
sedang nyatamu berusaha 'melepaskan'

belajarlah untuk lebih terbuka sayang!
aku bukan boneka yang bisa kau permainkan
lihatlah dirimu dahulu
berkacalah sebelum menilaiku!
duka ku jauh melebihi kapasitas lukamu

api yang kau hadirkan kini padam sayang!
kepercayaanku sirna termakan sumpah serapah
aku muak sayang!
tingkahmu menggila bak binatang kelaparan
aku berhenti sayang!
rinduku yang dulu memuncak kini entah kemana
dan lagi-lagi aku tidak peduli sayang!
hidupmu bukan lagi urusanku
bahagiamu tak lagi jadi bahagiaku

silahkan kau pergi
bukankah aku tak memintamu untuk kembali?
masa lain yang kau idamkan kini, pupuskan saja
tak guna kau berceloteh lagi
aku takkan kembali
sama seperti pertama kali ku membenci
ragaku mati untukmu
otakku rusak mengingatmu
puing rasaku, jangan kau tanya lagi
aku tak tau kemana ia pergi

cintamu hitam, rindumu gelap
kau tak terlihat, tak terduga
tertutup sudah semua angan
hilang tertelan sang malam
seperti yang kau sebutkan
kau pecinta hitam!!


true story from n.a.s

write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...