Langsung ke konten utama

#surat untuk awan kelabu

mereka menghitam bercampur putih. mereka tak terik tapi berangin. mereka si awan kelabu. cuaca yang begitu sejuk namun terlihat samar dari balik jendela kamarku. warna favorit ku. kau tau kan? pada kesempatan ini aku ingin menceritakan sedikit banyak tentang percintaan teman sebangku ku. kau tau siapa bukan?

hari ini kutulis kembali sepucuk surat untuk mu, kali ini di awan kelabu yang begitu kurindukan.mengenai cerita dari seorang teman. teman ini adalah gadis yang paling tenang yang pernah ku temui. pemikiran yang dewasa dan di modif dengan paras yang indah. rasa sakit yang ia pendam setiap harinya kadang menjadi tanda tanya bagiku. entah kenapa dalam hal menutupi luka, dia memang sangat handal. kau tau bukan bagaimana lelakinya yang dulu sempat beberapa kali ku ceritakan padamu, lelaki yang mempermainkan teman ini? menjanjikan banyak hal di masa depan. berikrar untuk menjadikan teman ini satu-satunya di akhir cerita. lelaki yang kini entah kemana telah bermuara, hilang bak tertelan sang kegelapan. lelaki yang sudah berkali-kali menyerangnya dengan ribuan dugaan-dugaan tak bernilai. iya, lelaki yang sering teman ini puja di kala setrum cinta tengah menyengat asanya. teman ini kerap kali membayangkan mimpi-mimpi yang tengah membanjiri logikanya. bahkan dengan senyum manisnya yang selalu melekung itu, ternyata luka telah lama bersemayam. cinta yang telah ia sematkan, mati di tempat seketika. begitulah opiniku tentang teman ini.

"aku harap dia tidak datang padaku lagi disaat rasaku telah habis"
begitulah yang pernah ia katakan padaku di sela-sela pelajaran yang membosankan. aku mengerti sekarang mengapa ia begitu menyimpan rasanya. rasa yang manusia lain tak mengetahui bagaimana posisi yang tengah ia mainkan. ia begitu menyimpannya dengan rapi. lubuk hatinya masih merajalela luka yang belum kering. pengharapannya untuk khayal yang selama ini ia bukukan dalam memori luka sekelebat ia sirnakan. walaupun air matanya tak pernah berwujud nyata, tapi mataku bisa melihat ada setumpuk rindu serta amarah yang tersirat dari pelupuk mata sayunya itu. dia memang wanita tegar. berjalan layaknya ia menang dari perang, walau luka telah melilit seluruh denyut raganya. teman ini begitu sabar, berpura dialah yang tidak pernah terluka akan hilangnya sebelah keping hatinya. selalu berkata "aku tidak mementingkan lelaki itu lagi" jelas bagiku, ia begitu merindukan sosok pemuda yang pernah mengisi hari-harinya dengan cinta. entah kemana lelaki itu berkelana, aku pun tak tau. yang ku tau saat ini, teman ini sedang tertawa atas keberhasilannya yang dapat mengkelabui banyak mata atas rasa sakit, luka memar, hingga kebuncahan amarahnya yang ia redam sendirian tanpa ingin berbagi kepada siapa pun.

ini surat kedua yang ku tulis untukmu, mengisahkan cerita cinta berbeda namun sama. seperti yang kau tau kelabu yang takkan membiru. memar senja yang tertutup tak akan mengerti alurnya. biarkan waktu mengikhlaskan kepergiannya beriringan dengan detak amarah yang telah tercipta.

sekian ku tuliskan cerita ini, kisah luka tanpa air mata bersama awan kelabu yang masih memendung tanpa jeda

untuk sahabatku.
tersenyumlah, itu kerinduanku untukmu
N.A

write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...