"apa kabar kau disana? rindu ku disini tak memiliki jeda. mereka berkepanjangan meminta pertemuan. iya pertemuan yang abadi...."
pertemuan.. pertemuan.. rindu.. rindu..
begitulah hatiku terus meronta-ronta. tak terbendung. air mata setiap tetesnya menginginkan pertemuan. pertemuan bersama mu yang telah di surga. tak kuasa menghilangkan setiap debaran rindu yang kian lama semakin membelenggu. berkarat. tak terbalas. keabadian yang sudah meluluh kan setiap inci rindu yang tersemat namamu disana. wajahmu, tawamu, tingkahmu, bahkan amarahmu masih jelas terekam di benakku. situasi apa yang telah ku lupakan? tidak ada! genggaman tangan mungilmu, sandaran bahu kecilmu, seulas senyum yang selalu kau perlihatkan padaku. setiap harinya.
"apa kabar kau disana?" seperti itulah setiap harinya aku bertanya padamu. walau tanpa jawaban aku masih setia merapalkan pertanyaan itu pada sang malam. berharap kau mendengar ucapan terbata dalam kegelapan malam ku, dan berdiri disisiku seperti dulu yang telah lama berlalu. adakah kau memperhatikan aku dari atas sana? seperti dulunya kau yang selalu betah berada di sampingku? aku merindukan mu sahabat! aku rindu bagaimana caramu membangunkan ku dari tidur, aku rindu situasi dimana kau menarikku untuk bermain dengan hujan, aku rindu paksaanmu yang selalu menyuruhku makan pedas, merindukan mimpi-mimpi mu yang selalu berharap bisa selalu berada di samping ku hingga tua, menghiasi masa-masa muda hingga tua bersama, tinggal di rumah yang bersebelahan, memiliki jutaan tulip kuning dan mawar merah, setiap akhir pekan tamasya ke kebun stawberry, berdiri di atas atap rumah sambil menghitung bintang. aku rindu itu semua! sama seperti halnya kau yang tak pernah bosan memberi ku bekal ketika pagi datang, memaksaku untuk shalat berjamaah di mesjid. perlakuanmu yang selalu menomer satu kan kebaikan untukku. apa yang bisa aku lupakan dari mu?? bocah ingusan seperti kita dulu, menurut mereka apa yang membahagiakan? aku bahagia! demi apapun aku bahagia bisa mengenalmu!! kau selalu mengatakan kematian takkan merubah keadaan. tapi kini bagaimana? aku kehilangan, bahkan jauh kehilangan. aku sakit mendengar kepergianmu, hingga 7 tahun kepergianmu aku tak berhasil bangkit atas rasa kehilangan, semuanya hilang bersamamu di dasar laut itu.
sahabatku, datanglah lebih lama dalam mimpiku, temani hari-hariku lagi walaupun itu hanya bayanganmu yang takkan pernah kasat di mataku. jika ku putar lagi, kenangan mendalam apa yang kau ukirkan, aku berani mengatakan semua yang kau lakukan adalah yang terindah yang hingga detik ini pun aku belum bisa menemukan pengantinya. bagaimana caramu merawatku, ketika sakit yang aku benci itu merasuki tubuh kecil ku dulu, empat hari yang kau luangkan, berlari dengan tergopoh menuju kamarku, memelukku dan duduk di sebelah ranjangku, dengan tangisan sendumu kau meminta izin untuk merawatku, kau rela meninggalkan empat hari pelajaran mu demi memberiku suapan demi suapan bubur, empat hari kau rela terbangun di malam hari demi menggantikan kompres ku, ditengah malam kau merintih berdoa untuk kesembuhan ku yang membuat aku tersenyum geli melihat perhatian mu yang terkadang berlebihan. empat hari di setiap malamnya kau selalu bercerita tentang dongeng putri salju dan putri aurora yang kau karang sendiri. betapa manisnya empat hari itu. apa akan ada lagi? sudah jelas tidak!
sahabatku, jika aku tau pusara terakhirmu ada di atas pijakan tanah sumatra ini, aku akan berusaha mencarinya. memberi 5 tangkai tulip kuning yang kau senangi. setiap ada kesempatan pasti aku, akan mengunjungi tempat tidur abadimu itu. tapi kini? dasar laut sulawesi yang entah dimana aku bisa menemukannya. dasar laut yang terlalu dalam, aku tak bisa menjangkaunya. jika kala itu aku lebih keras menahan mu, aku yakin kau masih bisa berada di sisiku, bersama ku melihat purnama. tapi, terlambat sudah mengambil alih kebersamaan itu. terenggut dan tak bisa berputar balik.
sahabatku, hingga detik ini namamu masih ada dalam setiap doa-doaku, dan kenanganmu masih tertulis jelas dalam semua diary-diary ku. aku menunggu dan terus menunggu hingga rindu yang sudah menua terbelenggu, aku merindukanmu. namamu yang indah itu, takkan pernah hilang dari sel-sel otakku yang selalu bertumpuk pada senyummu. ada tangis di balik bahagia ku, kehilanganmu adalah satu-satunya hal terburuk yang pernah aku rasakan. aku merindukamu sahabat, aku merindukan mu syifa. rest in peace :')
"kematian sudah benar-benar membunuh rindu. keabadian sudah benar-benar memisahkan kau dan aku"
untuk sahabat tercinta, bahagialah kau disana
aku merindukan "KITA" bercengkrama dengan bintang
aku harap kau ada di salah satunya.
my beloved best friend-rest in peace
Syifa.A
write by @istiqasuwondo
Komentar