hari itu, seorang perempuan tengah berdiri diantara badai ketidak tahuan mengenai dirinya. hari itu, ia menemukan sosok yang mampu menerima kebimbangan hatinya lalu mengubah segalanya menjadi rencana-rencana indah dalam imajinasi seorang perempuan. hari itu, akan selalu diingatnya. mengenal seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. hidup yang mungkin akan terasa hambar tanpa kehadirannya. apa yang terjadi jika waktu itu mereka tak pernah dipertemukan? mungkin perempuan itu tak pernah belajar melepaskan sebuah perasaan yang terpendam. mungkin perempuan itu takkan pernah menyimpan sebuah nama dalam hatinya dengan rapat. mungkin perempuan itu juga tidak akan pernah menyelam ke dasar yang disebut orang-orang penantian panjang.
hari itu, seorang perempuan merasa hatinya benar-benar berdebar kepada sesosok pria belia dan memilih menyimpan perasaannya saja. ia benar-benar tahu, jika semua dunia mendengar pria itu akan lari dan menghilang. demi tak kehilangan, perempuan itu memilih pergi terlebih dahulu. pergi membawa seluruh perasaannya yang tak sempat diucap. katanya, dunia ini akan terlalu sempurna jika ia bersama lelaki itu. alasan klise agar tak ketahuan, ia memilih pergi dan berlabuh ke tempat lain. jika aku memaksakan keinginanku, aku akan kehilangannya. lebih baik dia kehilanganku sebentar, daripada aku kehilangan dia selamanya. sahut perempuan itu.
hari itu, badai menghampiri perasaan keduanya. entah petir yang mana menyambar keduanya. mereka mengatakan segalanya. mereka menjalani berbagai hal kecil dalam bentangan jarak. mereka bercanda, bertukar kisah, mereka tertawa dan mereka bahagia. begitulah singkatnya.
dan hari itu datang, hari itu benar-benar datang. badai luar biasa diantara keduanya.
mereka terbelah dengan sempurna dan menghilang secepat angin. hati perempuan itu benar-benar terpecah belah. ia menyesal. menyesal mengatakan isi hatinya kala itu. menyesal karena ia sudah kehilangan, selamanya. ia mencoba memutar koordinat hidupnya perlahan, meski ia hidup dengan baik hari ini, namun hari itu tetap menggoyahkan perasaannya. rasanya, deru nafas lelaki itu selalu terdengar ditelinganya. suara berat itu masih menggetarkan hatinya, meski ia sudah katakan ia baik-baik saja. kakinya masih bergetar, tangannya masih tak karuan, dan jantungnya masih berdegup begitu cepat. tatapan matanya masih sama, hangat. hangat yang menggoyahkan ribuan tembok perempuan itu.
setelah hari itu ia percaya, perasaan manusia itu memang berubah. namun untuk beberapa situasi manusia tidak merubah hatinya namun, menutupi seolah tak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. meskipun ia menegakkan logikanya dengan hebat, ia tetap akan merasa rindu setiap kali mengingat nama lelaki yang sudah disimpannya baik-baik itu.
hari itu, ia menemukan cinta pertamanya dalam keheningan.
with love, itijonas
Komentar