Langsung ke konten utama

Hari itu, perlu di ingat setidaknya selamanya

hari itu, seorang perempuan tengah berdiri diantara badai ketidak tahuan mengenai dirinya. hari itu, ia menemukan sosok yang mampu menerima kebimbangan hatinya lalu mengubah segalanya menjadi rencana-rencana indah dalam imajinasi seorang perempuan. hari itu, akan selalu diingatnya. mengenal seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. hidup yang mungkin akan terasa hambar tanpa kehadirannya. apa yang terjadi jika waktu itu mereka tak pernah dipertemukan? mungkin perempuan itu tak pernah belajar melepaskan sebuah perasaan yang terpendam. mungkin perempuan itu takkan pernah menyimpan sebuah nama dalam hatinya dengan rapat. mungkin perempuan itu juga tidak akan pernah menyelam ke dasar yang disebut orang-orang penantian panjang.

hari itu, seorang perempuan merasa hatinya benar-benar berdebar kepada sesosok pria belia dan memilih menyimpan perasaannya saja. ia benar-benar tahu, jika semua dunia mendengar pria itu akan lari dan menghilang. demi tak kehilangan, perempuan itu memilih pergi terlebih dahulu. pergi membawa seluruh perasaannya yang tak sempat diucap. katanya, dunia ini akan terlalu sempurna jika ia bersama lelaki itu. alasan klise agar tak ketahuan, ia memilih pergi dan berlabuh ke tempat lain. jika aku memaksakan keinginanku, aku akan kehilangannya. lebih baik dia kehilanganku sebentar, daripada aku kehilangan dia selamanya. sahut perempuan itu.

hari itu, badai menghampiri perasaan keduanya. entah petir yang mana menyambar keduanya. mereka mengatakan segalanya. mereka menjalani berbagai hal kecil dalam bentangan jarak. mereka bercanda, bertukar kisah, mereka tertawa dan mereka bahagia. begitulah singkatnya.

dan hari itu datang, hari itu benar-benar datang. badai luar biasa diantara keduanya. 

mereka terbelah dengan sempurna dan menghilang secepat angin. hati perempuan itu benar-benar terpecah belah. ia menyesal. menyesal mengatakan isi hatinya kala itu. menyesal karena ia sudah kehilangan, selamanya. ia mencoba memutar koordinat hidupnya perlahan, meski ia hidup dengan baik hari ini, namun hari itu tetap menggoyahkan perasaannya. rasanya, deru nafas lelaki itu selalu terdengar ditelinganya. suara berat itu masih menggetarkan hatinya, meski ia sudah katakan ia baik-baik saja. kakinya masih bergetar, tangannya masih tak karuan, dan jantungnya masih berdegup begitu cepat. tatapan matanya masih sama, hangat. hangat yang menggoyahkan ribuan tembok perempuan itu.

setelah hari itu ia percaya, perasaan manusia itu memang berubah. namun untuk beberapa situasi manusia tidak merubah hatinya namun, menutupi seolah tak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. meskipun ia menegakkan logikanya dengan hebat, ia tetap akan merasa rindu setiap kali mengingat nama lelaki yang sudah disimpannya baik-baik itu. 

hari itu, ia menemukan cinta pertamanya dalam keheningan.


with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...