Langsung ke konten utama

tidak diberi judul.

dalam hening yang menyekap mata, aku menanti dan menanti kabarmu. di ujung telfon selalu ku ucapkan kata rindu, namun tiada balas yang tersangkut di telingaku. dering telfon tak lagi mendominasi, pesan singkat pun mulai pudar. inikah, tanda hati ikut mundur? bagaimana bisa kita berjanji menuai rasa bersama dalam alunan hujan dan menghentikan waktu seolah hanya kita yang berjalan. benar, waktu begitu egois memisahkan isi kepalamu dari rindu. bukan karena mau tapi kita percaya waktu memang begitu. 
singkat memori yang tersusun bagai jutaan puzzle. aku memilah satu per satu memori mana yang sedang kita lupakan. sebelumnya dalam puzzle pertama, aku menemukan kita pada usia yang belia. saling menemukan rasa dalam malu-malu yang sering melanda. sudah delapan tahun berlalu, sudah banyak pula lika dan liku yang menggaris jalan-jalan waktu kita. sudah banyak hati-hati yang terluka karena perasaan kita yang ku pikir selalu meruncing kedalam. sudah begitu banyak lontaran kalimat indah terdengar ditelingaku mengenai perjalan kisah kita yang digemari khalayakmu. bertemu dengan orang dan tempat baru tidak bisa menggoyah yang disebut orang rindu. 
sebelumnya, ku kira kita akan sekuat baja dan berlian. 
namun sayang sekali, dunia tak pernah menginginkan manusia memiliki kekuatan melebihi-Nya.
pada akhirnya, aku menemukan puzzle terakhir yang hanya berisi tanda tanya. jadi beginilah singkatnya.
apa yang tengah kita jalani hari ini?
mengapa semua terlihat kusam tiada henti?
siapa sebenarnya yang membuat aku bertanya begini?
kenapa tidak berakhir?
saat itu, cinta tak selamanya mematikan akal sehat.

with love, itijonas

Komentar

Wahyu Ramadhan Koto mengatakan…
War biasyah kakak ku ini

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...