Aku ingin berjalan lebih jauh lagi, menutup segala lentera yang sempat menggelapi ku. Waktu itu, kutemukan dirimu dalam gelap dan pengapnya hidup. Kau ulurkan tangan dan biarkan aku bersandar pada pundakmu. Kurasakan nyaman berlebihan, kehangatan bersamaan serta rasa yang tak biasa ku ucapkan hadir. Aku jatuh cinta pada setiap yang kau lakukan. Aku tak pernah memikirkan bahwa aku akan menjadi seperti ini, segila ini padamu. Aku berdiam dalam hening perasaan yang sudah kau bangun diam-diam. Aku merasa bersamamu saja aku sudah cukup. Aku berjalan lagi, kali ini tak lagi sendiri. Karena kau selalu mengikuti tapakanku dan pastikan aku takkan merasa sepi lagi. Kau menyuguhkan cinta yang tak bisa kulihat dari orang lain. Senyum dan tawa mu yang terkadang membuatku tak bisa tidur semalaman. Nada bicaramu yang selalu terngiang bebas dalam pendengaranku. Namamu yang ku sebutkan berulang-ulang tanpa bosan. Beginikah rasanya mencintai tanpa perlu memiliki?
Tidak munafik, aku ingin jadi milikmu suatu saat nanti.
Seiring waktu bertambah, kita semakin dewasa, akupun mulai gusar. Perasaan ini mulai meluber tumpah, tanpa bisa ku kontrol baik-baik. Aku mulai mengikuti arah jalanmu yang mulai berbelok. Kali ini, aku yang mengikutimu dari belakang. Berusaha menjagamu baik-baik agar tak jatuh. Namun, semakin aku berjalan, semakin kau berlari hingga kau memilih untuk terbang meninggalkan aku yang masih menapaki bumi. Aku berontak untuk ingin terbang juga, tak perlu cepat namun sampai. Aku berusaha berkali-kali namun aku masih terjatuh saja tanpa peduli luka-luka mulai memenuhi badanku. Aku masih bersemangat mengejarmu, masih bersemangat meraih tanganmu. Aku ingin menggenggam tangan itu, seperti kemarin-kemarin. Waktu itu aku tak lelah bertahan meski banyak yang menarikku turun saja. Katakan aku takkan bisa terbang setinggi itu, tak mungkin mendapatkan puncak kepalamu. Apa aku menyerah? Belum saatnya.
Aku memilih berlari saja, sembari menunggu mu mendarat lagi. Namun setelah ku hitung waktu-waktu yang terlewati kau tak kunjung turun. Kau hanya melihatku dari atas sana, lalu kembali tertawa menarik para bidadari terbang lebih tinggi. Disaat itu aku sadar lebih baik menyimpan perasaan ini saja, tanpa perlu berjuang untukmu.
Kali ini aku benar-benar berlari sambil menutup mataku. Aku tak mengerti arah mana yang akan aku lalui. Aku cukup lama bertahan pada sesuatu yang terlalu kuharapkan. aku jatuh terguling-guling, dan mendapati hatiku patah berserakan. Aku mengumpulkannya pelan, tapi dari pojokan sana pria itu membantu memungutinya. Katanya aku keterlaluan sekali memecahkan kepingan hati ini hingga benar-benar hancur. Yang benar saja, akupun tak berfikir akan hancur begini. Pria itu menghampiri lalu menyusun kepingan itu satu persatu hingga mereka menyatu kembali walau tak begitu utuh. Lalu pria itu menarik tanganku dari jurang pelan-pelan meski tak banyak yang dilakukannya, aku berterima kasih untuk itu.
Katanya melihatku dari atas itu menyakitkan, pria itu turun dan menggopohku untuk bangkit lagi.
with love, itijonas
Komentar