Langsung ke konten utama

Aku ingin berhenti menulis kisah mu

Aku ingin berjalan lebih jauh lagi, menutup segala lentera yang sempat menggelapi ku. Waktu itu, kutemukan dirimu dalam gelap dan pengapnya hidup. Kau ulurkan tangan dan biarkan aku bersandar pada pundakmu. Kurasakan nyaman berlebihan, kehangatan bersamaan serta rasa yang tak biasa ku ucapkan hadir. Aku jatuh cinta pada setiap yang kau lakukan. Aku tak pernah memikirkan bahwa aku akan menjadi seperti ini, segila ini padamu. Aku berdiam dalam hening perasaan yang sudah kau bangun diam-diam. Aku merasa bersamamu saja aku sudah cukup. Aku berjalan lagi, kali ini tak lagi sendiri. Karena kau selalu mengikuti tapakanku dan pastikan aku takkan merasa sepi lagi. Kau menyuguhkan cinta yang tak bisa kulihat dari orang lain. Senyum dan tawa mu yang terkadang membuatku tak bisa tidur semalaman. Nada bicaramu yang selalu terngiang bebas dalam pendengaranku. Namamu yang ku sebutkan berulang-ulang tanpa bosan. Beginikah rasanya mencintai tanpa perlu memiliki?

Tidak munafik, aku ingin jadi milikmu suatu saat nanti.

Seiring waktu bertambah, kita semakin dewasa, akupun mulai gusar. Perasaan ini mulai meluber tumpah, tanpa bisa ku kontrol baik-baik. Aku mulai mengikuti arah jalanmu yang mulai berbelok. Kali ini, aku yang mengikutimu dari belakang. Berusaha menjagamu baik-baik agar tak jatuh. Namun, semakin aku berjalan, semakin kau berlari hingga kau memilih untuk terbang meninggalkan aku yang masih menapaki bumi. Aku berontak untuk ingin terbang juga, tak perlu cepat namun sampai. Aku berusaha berkali-kali namun aku masih terjatuh saja tanpa peduli luka-luka mulai memenuhi badanku. Aku masih bersemangat mengejarmu, masih bersemangat meraih tanganmu. Aku ingin menggenggam tangan itu, seperti kemarin-kemarin. Waktu itu aku tak lelah bertahan meski banyak yang menarikku turun saja. Katakan aku takkan bisa terbang setinggi itu, tak mungkin mendapatkan puncak kepalamu. Apa aku menyerah? Belum saatnya.

Aku memilih berlari saja, sembari menunggu mu mendarat lagi. Namun setelah ku hitung waktu-waktu yang terlewati kau tak kunjung turun. Kau hanya melihatku dari atas sana, lalu kembali tertawa menarik para bidadari terbang lebih tinggi. Disaat itu aku sadar lebih baik menyimpan perasaan ini saja, tanpa perlu berjuang untukmu.

Kali ini aku benar-benar berlari sambil menutup mataku. Aku tak mengerti arah mana yang akan aku lalui. Aku cukup lama bertahan pada sesuatu yang terlalu kuharapkan. aku jatuh terguling-guling, dan mendapati hatiku patah berserakan. Aku mengumpulkannya pelan, tapi dari pojokan sana pria itu membantu memungutinya. Katanya aku keterlaluan sekali memecahkan kepingan hati ini hingga benar-benar hancur. Yang benar saja, akupun tak berfikir akan hancur begini. Pria itu menghampiri lalu menyusun kepingan itu satu persatu hingga mereka menyatu kembali walau tak begitu utuh. Lalu pria itu menarik tanganku dari jurang pelan-pelan meski tak banyak yang dilakukannya, aku berterima kasih untuk itu.

Katanya melihatku dari atas itu menyakitkan, pria itu turun dan menggopohku untuk bangkit lagi.

 

with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...