"bulan hari ini terang, ya" sahutku sambil menatap matanya yang hangat.
"iya, cantik. seperti kamu malam ini." jawabannya sambil mengusap kepalaku pelan. aku mengembalikan pandanganku ke atas sambil sesekali melirik ke arahnya.
"Noel, kamu tau gak, sejak aku ketemu kamu, hidupku jadi penuh warna. aku jadi lebih banyak ketawanya. tingkah kamu kadang buat aku ngerasa, bersyukur banget udah dipertemukan sama kamu." ku coba utarakan lagi isi hatiku, kali ini sambil menggenggam tangannya.
"tapi Noel, pundakku sebenarnya sangat berat. walaupun aku tidak pernah menceritakan apapun padamu, tapi aku selalu merasa ringan ketika kita saling berbicara dan tertawa. aku seperti berada dalam dimensi yang berbeda. penatku seolah lenyap dan senyummu selalu jadi alasan aku buat terus bersemangat." ku tatap lagi matanya. ku liat matanya berkaca, seolah ingin membalas tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar. aku kemudian memeluknya. merasakan nadinya yang mulai memanas. merasakan deru nafasnya yang cepat di telingaku. tak ku lepaskan. begitu lama ku peluk erat tubuh bidangnya itu, aku meneteskan air mata.
"Noel, aku takut kehilanganmu." seruku pelan.
Noel pun mengusap kepalaku pelan.
"hei, kita akan baik-baik saja." aku tetap memeluknya erat dan dia tetap mencoba menenangkan ku. aku melanjutkan perbincangan ini dengan masih bersandar di dadanya.
"kamu tahu tidak, dulu sebelum aku jatuh cinta padamu, aku sudah berjanji untuk tidak bertemu siapa-siapa. aku tidak ingin jatuh cinta, itu intinya. tapi, hanya dalam sekali pandang, dinding ku roboh. seperti tak tau diri, aku terus berusaha memasuki duniamu. awalnya, aku pikir jatuh cinta pada pandangan pertama itu tidak ada. aku berfikir, rasa itu akan hilang dalam beberapa bulan. tapi Noel, sampai hari ini, aku masih saja menyayangimu. tak ada satu orangpun sampai hari ini yang bisa menarikku dari perasaan membingungkan ini. apakah aku berlebihan? padahal kau dan aku sama-sama tak berusaha akan apapun. namun hatiku selalu saja berat, kepalaku isinya kamu semua, aku seperti disihir." jelasku sambil melepaskan pelukan itu. lalu melanjutkannya kembali.
"aku tidak ingin berbohong Noel. maksudku selama ini aku tidak berusaha apapun, karena aku tau bagaimana semua ini akan berakhir. aku dipaksa mundur walaupun kadang kau lebih sering menarikku terlebih dahulu. aku merasa sedikit dicintai, tapi lebih banyak keraguan muncul. kata orang, jika seseorang malah membuat bingung, semua itu hanya delusi. menurutmu, perbincangan hari ini apakah hanya ilusi ku saja?"
Noel kembali menggenggam tanganku, menatapku lama dan tatapan semakin hangat. senyumnya lebih manis dari pada gula, dia mengecup keningku dengan lembut dan membisikkan.
"bangun Dinda, kamu terlalu banyak bermimpi."
aku pun bangun dari lamunan panjang ini.
with love, itijonas
Komentar