Langsung ke konten utama

Cerpen - Batimbang Tando #2

 ***

“Bahri sudah berkenalan dengan orang tua kau, Roida?“ tanya Fatimah tiba-tiba saat kami sedang makan siang di kantin kantor.

“Belum Fat, aku masih takut.“

“Kenalkan sajalah Ro, sayang sekali. Padahal keluarga Bahri sudah sangat kenal betul dengan kau. Percuma saja kalian menjalin kasih selama ini tapi tak juga ada ujungnya.“

“Aku mau saja Fat, tapi aku belum siap. Kau tau lah bapak dan mamak ku sama kerasnya mereka berdua.“

“Memang kau menjamin mereka menolak calon seperti Bahri?“

“Ya bisa saja, Bahri kan orang Minang,“

Lagi-lagi pikiran mengenai perbedaan ini yang membuatku enggan memulai sesuatu yang serius dengan Bahri. Sebenarnya kami sudah bisa dibilang sangat serius. Aku dan Bahri bertemu saat kami masih sama-sama bersekolah di sekolah menengah pertama nasional di kotaku. Kami sudah menjalin cinta sejak itu sampai hari ini. Aku sudah mengenal karakter Bahri lebih dari lelaki lain yang ada. Aku sudah mengenal keluarganya sama seperti keluargaku. Tapi, entah kenapa setiap aku mendengar persoalan adat hatiku selalu bimbang entah bagaimana. Meski Bahri sudah berkali-kali mengatakan tidak masalah. Aku tak memungkiri, aku cemas saja. Was was.

Kini aku dan Bahri sudah sama-sama memulai karir. Aku dan Bahri sudah dipisahkan sekitar enam bulan sejak Bahri diterima kerja di Kalimantan. Aku yang masih setia tinggal dan menetap di sini membuatku sering mengangan-angankan mengenai pernikahan. Rasanya klise sekali jika aku takut hanya karena aku merasa kami berbeda secara adat. Bukankah secara agama kami sudah bisa dikategorikan sama? Dalam hal ini, hari-hari yang ku lalui terus saja penuh pertimbangan.

“Mak, kalau aku nikah sama orang Minang cemana itu mak?“ Seruku memulai perbincangan saat makan malam.

“Memang kau sudah punya calon? Ku tengok kau gak pernah laku“ seru Mamak sambil menyantap arsik kesukaannya.

“Ih sepele kali mamak ini bah..“ jawabku dengan nada sedikit kesal.

Bapak pun ikut bicara,

“Memangnya kau serius mau nikah dengan orang Minang? Apa kau gak takut?“ lanjut Bapak.

“Kenapa takut sih Pak, orang kita sama-sama muslim kok.“ Balasku

“Bukan masalah muslim atau tidaknya. Aku sih pribadi gak masalah. Tapi bagaimana nanti sama keluarganya?“

“Kau tau lah gimana laki-laki Minang. Mintak dijemput. Apalagi kalau kerjaan bojomu itu lumayan. Mau bayar dia pakai apa toh nak’e?“ sambil menyuap kepala ikan mas.

“Ya, kemarin-kemarin aku sudah bicara pak, mak, sama dia. Dia sih bilangnya sama ku gak masalah. Jadi aku gak pusing. Bapak bilang begitu aku tambah pening ini.“ Jawabku lagi

“Memang kau sudah yakin sama dia?“

“Kerja dimana?“ Mamak dan Bapak saling sambung menyambung.

“Dibilang yakin sih iyalah mak, pak, toh kami udah pacaran sejak kami esempe“ jawabku pelan. Kulihat raut wajah Mamak dan Bapak terkejut sambil geleng-geleng kepala.

“Ya maaplah kalau aku ga bilang. Jelas mamak sama bapak kalau dengar nama laki-laki ku sebut aja naik pitam terus. Siapa yang mau cerita coba“ lanjutku.

“Namanya Bahri, sekarang dia udah kerja di Kalimantan perusahaan minyak. Ya, baru enam bulan kerja sih pak, tapi kan setidaknya udah ada kerja. Aku juga udah kerja. Jadi tunggu apa lagi kan mak?“ tanyaku sambil mengode mamakku yang mulai ketawa geli.

“Nanti aku jadi perawan tua malu pulak kelen punya anak kayak aku.“ tambahku lagi sambil tertawa.

“Kau suruh saja dia dulu kerumah kenalan sama aku. Biar nanti aku yang tentuin boleh apa enggak“ jawab bapak menyelesaikan makan malamnya.

***

bersambung

 

with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...