***
“Bahri sudah berkenalan dengan orang tua kau, Roida?“ tanya Fatimah tiba-tiba saat kami sedang makan siang di kantin kantor.
“Belum Fat, aku masih takut.“
“Kenalkan sajalah Ro, sayang sekali. Padahal keluarga Bahri sudah sangat kenal betul dengan kau. Percuma saja kalian menjalin kasih selama ini tapi tak juga ada ujungnya.“
“Aku mau saja Fat, tapi aku belum siap. Kau tau lah bapak dan mamak ku sama kerasnya mereka berdua.“
“Memang kau menjamin mereka menolak calon seperti Bahri?“
“Ya bisa saja, Bahri kan orang Minang,“
Lagi-lagi pikiran mengenai perbedaan ini yang membuatku enggan memulai sesuatu yang serius dengan Bahri. Sebenarnya kami sudah bisa dibilang sangat serius. Aku dan Bahri bertemu saat kami masih sama-sama bersekolah di sekolah menengah pertama nasional di kotaku. Kami sudah menjalin cinta sejak itu sampai hari ini. Aku sudah mengenal karakter Bahri lebih dari lelaki lain yang ada. Aku sudah mengenal keluarganya sama seperti keluargaku. Tapi, entah kenapa setiap aku mendengar persoalan adat hatiku selalu bimbang entah bagaimana. Meski Bahri sudah berkali-kali mengatakan tidak masalah. Aku tak memungkiri, aku cemas saja. Was was.
Kini aku dan Bahri sudah sama-sama memulai karir. Aku dan Bahri sudah dipisahkan sekitar enam bulan sejak Bahri diterima kerja di Kalimantan. Aku yang masih setia tinggal dan menetap di sini membuatku sering mengangan-angankan mengenai pernikahan. Rasanya klise sekali jika aku takut hanya karena aku merasa kami berbeda secara adat. Bukankah secara agama kami sudah bisa dikategorikan sama? Dalam hal ini, hari-hari yang ku lalui terus saja penuh pertimbangan.
“Mak, kalau aku nikah sama orang Minang cemana itu mak?“ Seruku memulai perbincangan saat makan malam.
“Memang kau sudah punya calon? Ku tengok kau gak pernah laku“ seru Mamak sambil menyantap arsik kesukaannya.
“Ih sepele kali mamak ini bah..“ jawabku dengan nada sedikit kesal.
Bapak pun ikut bicara,
“Memangnya kau serius mau nikah dengan orang Minang? Apa kau gak takut?“ lanjut Bapak.
“Kenapa takut sih Pak, orang kita sama-sama muslim kok.“ Balasku
“Bukan masalah muslim atau tidaknya. Aku sih pribadi gak masalah. Tapi bagaimana nanti sama keluarganya?“
“Kau tau lah gimana laki-laki Minang. Mintak dijemput. Apalagi kalau kerjaan bojomu itu lumayan. Mau bayar dia pakai apa toh nak’e?“ sambil menyuap kepala ikan mas.
“Ya, kemarin-kemarin aku sudah bicara pak, mak, sama dia. Dia sih bilangnya sama ku gak masalah. Jadi aku gak pusing. Bapak bilang begitu aku tambah pening ini.“ Jawabku lagi
“Memang kau sudah yakin sama dia?“
“Kerja dimana?“ Mamak dan Bapak saling sambung menyambung.
“Dibilang yakin sih iyalah mak, pak, toh kami udah pacaran sejak kami esempe“ jawabku pelan. Kulihat raut wajah Mamak dan Bapak terkejut sambil geleng-geleng kepala.
“Ya maaplah kalau aku ga bilang. Jelas mamak sama bapak kalau dengar nama laki-laki ku sebut aja naik pitam terus. Siapa yang mau cerita coba“ lanjutku.
“Namanya Bahri, sekarang dia udah kerja di Kalimantan perusahaan minyak. Ya, baru enam bulan kerja sih pak, tapi kan setidaknya udah ada kerja. Aku juga udah kerja. Jadi tunggu apa lagi kan mak?“ tanyaku sambil mengode mamakku yang mulai ketawa geli.
“Nanti aku jadi perawan tua malu pulak kelen punya anak kayak aku.“ tambahku lagi sambil tertawa.
“Kau suruh saja dia dulu kerumah kenalan sama aku. Biar nanti aku yang tentuin boleh apa enggak“ jawab bapak menyelesaikan makan malamnya.
***
bersambung
with love, itijonas
Komentar