Jika pada mulanya Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, melewati badai agar bertemu, melewati segala reruntuhan agar bisa bertahan dan kembali mengapit semua jeda menjadi rasa yang tak terlepaskan. Bolehkah manusia menyalahkan keadaan atas apa yang telah disepakati manusia lain sejak dulu dan mematahkan segala kesalahan yang menyebabkan dua insan mati berdarah akibat aturan yang membelenggu kaki hatinya untuk berjalan menuju masa depan? Jika ada yang terlintas dalam fikirikanku mengenai isi hati yang tersirat, bolehkah ku salahkan semua yang sudah tercipta sebelum aku terlanjur di lahirkan?
***
“Roida bangun kau, sudah jam berapa ini. Anak gadispun tak bisa lagi bantu mamaknya bersihkan rumah“
Itu mamakku yang suka teriak dengan lantam ketika matahari belum jua muncul. Suaranya yang keras selalu menggema setelah azan subuh. Suara gaduh mamak akhir-akhir ini sering membangunkan tetangga. Ada yang marah karena tidur mereka terganggu ada pula yang senang karena ia bisa bangun pagi tanpa perlu dibangunkan jam weker. Pagi ini, genap dua puluh tahun kami pindah melintasi provinsi karena pekerjaan bapak dan mamak yang mengharuskan mereka untuk menetap mungkin lebih lama dari yang akan ku perkirakan. Setiap kali aku terbangun, tak lagi ku temukan aroma pagiku yang gigil sewaktu di Siantar sana. Sejauh mataku memandang hanya rumah dan jalan raya saja yang terlihat. Tak ada lagi pegunungan, babi-babi yang melenggang di depan rumah. Tak lagi dengar lonceng gereja.
“Roida, belum juga bisa kau delikkan mata kau itu?“ seru mamak lagi
“Iya mak, tunggu bentar lah. Hepot kali pagi-pagi“ balasku
Sambil membuka jendela dan membersihkan kamar ukuran 4x4 itu ku ambil handuk lalu menuju kamar mandi.
“Mak, aku pigi dulu ya“ buru-buru ku sambar roti dan pamit untuk berangkat memulai hari.
“Kau ya, tiap hari bikin mamaknya marah-marah. Udah nggak betol ini lagi“ serunya sambil mencubit pinggangku. Aku hanya tersenyum dan menciumi pipinya.
“Assalamualaikum” seruku setengah teriak.
***
Bangsa kita terkenal sebagai bangsa yang multikultural, itu artinya kita memiliki banyak sekali keanekaragaman suku dan budaya. Karena itulah kita selalu memegang teguh bineka tunggal ika yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu. Namun, problematika yang kita hadapi kadang tak sesuai pada slogan yang telah kita tuliskan. Meski zaman sudah begitu modern, adat dan istiadat adalah hal yang paling utama yang mampu menentukan identitas seseorang. Jika kau mengerti adatmu, maka baiklah perilakumu. Karena ajaran adat sudah berlangsung turun temurun.
Ada tiga jenis tipe masyarakat yang menanggapi persoalan kebudayaan ini. Pertama, keberagaman yang kita hadapi ini kadang membuat kita saling membanggakan kebudayaan masing-masing tanpa disadari. Kedua, cenderung tidak peduli dan melupakan apa yang dimiliki. Ketiga, ingin memiliki dan dibanggakan namun secara tak sadar kita tak memilikinya.
Dulu berbicara persoalan kebudayaan sewaktu belajar di kelas, merupakan hal yang paling membosankan bagiku. Terlahir dengan darah setengah Jawa dan setengah Batak itu dimata orang lain memang unik. Namun, disisi lain kau akan merasa berbeda berada di tengah-tengah orang yang beradat murni. Tak pernah ku sangkal, mempelajari budaya adalah hal yang membosankan. Karena aku sendiri tak tahu apa yang ingin ku gali. Budaya siapa yang harus aku cari tahu. Bapak bilang, kebudayaan bukanlah hal yang begitu penting untuk kau fikirkan, yang terpenting agamamu. Mamak pun sependapat begitu.
Kini setelah tumbuh dewasa dan berkembang di tanah Minangkabau, hatiku risau tiap kali mereka berbicara mengenai adatnya. Bapak tak memperbolehkanku menggunakan bahasa daerah Minangkabau di rumah. Mamak bilang, orang Padang itu pelit. Dua puluh tahun lebih ku habiskan hidupku untuk berburu pengetahuan umum tanpa menyinggung sedikitpun mengenai adat. Sampai di waktu Lina seorang teman mengatakan bahwa aku miskin budaya. Apakah ada seseorang yang salah berkembang di daerah penuh budaya seperti di sini?
“Mak, kenapa tak kau ajarkan aku mengenai adat kita?“ seruku dalam hati.
***
bersambung
with love, itijonas
Komentar