Langsung ke konten utama

Cerpen - Batimbang Tando #1

 Jika pada mulanya Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, melewati badai agar bertemu, melewati segala reruntuhan agar bisa bertahan dan kembali mengapit semua jeda menjadi rasa yang tak terlepaskan. Bolehkah manusia menyalahkan keadaan atas apa yang telah disepakati manusia lain sejak dulu dan mematahkan segala kesalahan yang menyebabkan dua insan mati berdarah akibat aturan yang membelenggu kaki hatinya untuk berjalan menuju masa depan? Jika ada yang terlintas dalam fikirikanku mengenai isi hati yang tersirat, bolehkah ku salahkan semua yang sudah tercipta sebelum aku terlanjur di lahirkan?

***

“Roida bangun kau, sudah jam berapa ini. Anak gadispun tak bisa lagi bantu mamaknya bersihkan rumah“

Itu mamakku yang suka teriak dengan lantam ketika matahari belum jua muncul. Suaranya yang keras selalu menggema setelah azan subuh. Suara gaduh mamak akhir-akhir ini sering membangunkan tetangga. Ada yang marah karena tidur mereka terganggu ada pula yang senang karena ia bisa bangun pagi tanpa perlu dibangunkan jam weker. Pagi ini, genap dua puluh tahun kami pindah melintasi provinsi karena pekerjaan bapak dan mamak yang mengharuskan mereka untuk menetap mungkin lebih lama dari yang akan ku perkirakan. Setiap kali aku terbangun, tak lagi ku temukan aroma pagiku yang gigil sewaktu di Siantar sana. Sejauh mataku memandang hanya rumah dan jalan raya saja yang terlihat. Tak ada lagi pegunungan, babi-babi yang melenggang di depan rumah. Tak lagi dengar lonceng gereja.

“Roida, belum juga bisa kau delikkan mata kau itu?“ seru mamak lagi

“Iya mak, tunggu bentar lah. Hepot kali pagi-pagi“ balasku

Sambil membuka jendela dan membersihkan kamar ukuran 4x4 itu ku ambil handuk lalu menuju kamar mandi.

“Mak, aku pigi dulu ya“ buru-buru ku sambar roti dan pamit untuk berangkat memulai hari.

“Kau ya, tiap hari bikin mamaknya marah-marah. Udah nggak betol ini lagi“ serunya sambil mencubit pinggangku. Aku hanya tersenyum dan menciumi pipinya.

“Assalamualaikum” seruku setengah teriak.

***

Bangsa kita terkenal sebagai bangsa yang multikultural, itu artinya kita memiliki banyak sekali keanekaragaman suku dan budaya. Karena itulah kita selalu memegang teguh bineka tunggal ika yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu. Namun, problematika yang kita hadapi kadang tak sesuai pada slogan yang telah kita tuliskan. Meski zaman sudah begitu modern, adat dan istiadat adalah hal yang paling utama yang mampu menentukan identitas seseorang. Jika kau mengerti adatmu, maka baiklah perilakumu. Karena ajaran adat sudah berlangsung turun temurun.

Ada tiga jenis tipe masyarakat yang menanggapi persoalan kebudayaan ini. Pertama, keberagaman yang kita hadapi ini kadang membuat kita saling membanggakan kebudayaan masing-masing tanpa disadari. Kedua, cenderung tidak peduli dan melupakan apa yang dimiliki. Ketiga, ingin memiliki dan dibanggakan namun secara tak sadar kita tak memilikinya.

Dulu berbicara persoalan kebudayaan sewaktu belajar di kelas, merupakan hal yang paling membosankan bagiku. Terlahir dengan darah setengah Jawa dan setengah Batak itu dimata orang lain memang unik. Namun, disisi lain kau akan merasa berbeda berada di tengah-tengah orang yang beradat murni. Tak pernah ku sangkal, mempelajari budaya adalah hal yang membosankan. Karena aku sendiri tak tahu apa yang ingin ku gali. Budaya siapa yang harus aku cari tahu. Bapak bilang, kebudayaan bukanlah hal yang begitu penting untuk kau fikirkan, yang terpenting agamamu. Mamak pun sependapat begitu.

Kini setelah tumbuh dewasa dan berkembang di tanah Minangkabau, hatiku risau tiap kali mereka berbicara mengenai adatnya. Bapak tak memperbolehkanku menggunakan bahasa daerah Minangkabau di rumah. Mamak bilang, orang Padang itu pelit. Dua puluh tahun lebih ku habiskan hidupku untuk berburu pengetahuan umum tanpa menyinggung sedikitpun mengenai adat. Sampai di waktu Lina seorang teman mengatakan bahwa aku miskin budaya. Apakah ada seseorang yang salah berkembang di daerah penuh budaya seperti di sini?

“Mak, kenapa tak kau ajarkan aku mengenai adat kita?“ seruku dalam hati.

***

bersambung

 

with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...