Langsung ke konten utama

Champagne Problem

Aku mungkin bukan perempuan terbaik yang pernah kau temui. Aku juga mungkin belum apa-apa dibanding perempuan di luar sana yang sudah menjadi dewasa dengan jalannya. Yang sudah mampu berjalan tanpa perlu mengkhawatirkan resiko sebegitu besarnya. Dan mampu berdiri lagi mencari kebahagiaan lain. Mungkin saja aku kalah dari perempuan di masa lalumu.

Perlu kamu ketahui, aku salah satu perempuan yang sulit untuk menjalani hidup. Aku merasa-rasakan setiap luka yang orang lain berikan kepadaku. Aku teramat suka menyimpan apa yang kurasakan, hingga aku menjadi kecil di depan orang lain dan tidak pernah percaya bahwa orang lain akan menerimaku dengan baik.

Aku terbiasa sendiri menyelesaikan konflik batin dalam diriku. Aku sudah menentang hatiku terlalu banyak untuk selalu kuat dan mencoba tak memerlukan orang banyak. Aku menyikapi itu semua dengan egois karena aku tahu suatu saat aku akan ditinggalkan. Jadi aku selalu percaya semua yang datang hanya untuk pergi lagi.

Aku ingin mengutarakan semua yang ada dipikiranku agar aku bisa dimengerti dengan mudah oleh orang lain. Namun aku tidak bisa. Kali ini aku ingin memilih mu menjadi orang itu. Menjadi orang yang mampu membantuku menafsirkan keinginan tersirat yang selalu membebani hari-hariku. Karena aku juga ingin menangis di depan manusia, agar aku bisa ditenangkan dengan kasih sayang. Bukan dengan bantal yang selalu basah dalam kelamnya kamarku.

Aku ingin berbagi kisah-kisah dan semua imajinasiku denganmu. Agar kau lambat laun mampu mengerti kebiasaanku yang selalu bertentangan denganmu. Aku juga ingin kau mengerti aku, seperti aku juga akan mengerti keinginanmu. Aku benci berada dalam masalah, oleh karena itu aku ingin semua baik-baik saja mulai dari hari ini dan kedepannya. Aku tidak memiliki banyak keinginan lain selain, tetap disampingku saja dan tetap menatap aku seorang saja.

Ajak aku mengerti duniamu dengan baik dan akan aku lakukan semampuku.

Jangan katakan ingin pergi dengan mudah karena aku benci mendengarnya.

Aku tidak bisa berjanji banyak hal, namun untuk satu hal aku berjanji untuk menjadi diriku sendiri dalam menyayangimu. Dan terima aku apa adanya saja, karena ketika aku harus berubah menjadi sesuatu yang diluar diriku, aku tidak bisa memberikan yang terbaik untukmu.

 

with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...