***
“Hasianku, kau lagi apa?“
Ku telfon Bahri sambil tergeletak di kasur.
“Menerima telfon dari kesayangan.“ Balasnya sambil tertawa dengan suara berat itu.
Aku membicarakan semua yang telah ku perbincangkan dengan orang tua ku. Terdengar suara kaget dari Bahri seperti tidak yakin aku akan berkata begitu.
“Jadi, kamu sudah yakin?“ tanyanya sekali lagi memastikan.
Aku mengiyakan jawabannya. Akhirnya Bahri memutuskan pulang ke Padang akhir bulan ini untuk bersilaturahmi dengan orangtua ku.
Perasaan seperti melayangnya kupu-kupu pada perutmu ternyata benar-benar bisa dirasakan setelah menahan segala takut yang berujung (akan) indah pada waktunya. Banyak orang berspekulasi mengenai perbedaan yang sesungguhnya mampu menyatukan. Mampu menghilangkan rasa takut. Ya, kali ini aku merasakan jantungku bergetar lebih dari ubun-ubunku yang sejak tadi memanas, mendingin.
“Akhir bulan ini Bahri akan pulang.“ Seruku lalu tidur.
***
“Roi, Bahri sudah di Padang!“ saat tidurku terganggu akibat dering telfon dan ternyata itu dari kakak Bahri.
“Aduh kak mengagetkan ku saja. Eh tapi apa benar?“ ternyata menunggu akhir bulan bisa secepat ini. Jantungku benar-benar cenat-cenut luar biasa pagi ini.
Ku ambil handuk dan bergegas mandi. Ku ciumi pipi Mamak dan Bapakku mengawali minggu pagi ini. Aku gelisah manja, senang, dan bahagia tak bisa ku sebut ini namanya apa. Ku bersihkan seluruh isi rumah dan merapikan segala yang terlihat berantakan.
“Rajin kali kau pagi ini, mentang-mentang“ goda Mamak.
Memang tak salah kata orang, jatuh cinta yang utuh adalah ketika pasanganmu akan datang ke rumah untuk silaturahmi dengan kedua orang tuamu dan merencanakan masa depan kalian.
***
Bapak memanggilku dari dapur, ternyata Bahri sudah datang bersama kedua orang tuanya dan kedua kakaknya dan seorang adik perempuannya. Aku terkaget-kaget, Bahri menjanjikan hari ini akan datang tapi tak bersama keluarganya.
“Assalamualaikum“ seru Bahri. Bapakku menyambut mereka dengan hangat dan mempersilahkan keluarga itu masuk dan duduk di ruang tamu. Mamakku datang membawakan minuman dan makanan kecil. Jadi seperti kisah biasanya, ketika kedua keluarga sudah saling bertemu dan berbicara panjang lebar. Kau pasti tahu apa yang akan terjadi pada kisah kami. Betul, aku dan Bahri resmi bertunangan walaupun hanya melibatkan keluarga inti saja. Namun, ibu Bahri meminta syarat bahwa keluargaku harus datang setidaknya seminggu dari sekarang ke rumah mereka untuk persetujuan keluarga besar dari keluarga Bahri. Bapak mengiyakan, meski ia sedikit ragu.
“Jadi, saya berharap bapak dan ibu berkenan untuk mengunjungi kediaman kami minggu depan untuk menentukan kepastian tanggal pernikahan anak kita. Karena tidak mungkin kita tidak melibatkan adat dalam prosesi sakral ini.“ seru Ibu Bahri.
Setelah semuanya berjalan lancar, keluarga Bahri pulang. Aku nyaris tak berhenti tersenyum seharian. Namun bapak mulai membuka perbincangan serius denganku.
“Roi, mereka meminta kita untuk datang untuk bertemu keluarga besarnya kan?“ bapak bertanya dan aku mengiyakan.
“Bagaimana kalau kita ajak juga Paman dan Tulang kau buat datang minggu depan? Kita tidak bisa datang sendirian ke sana tanpa sanak saudara.“ Jelas bapak.
“Loh kenapa begitu pak? Tapi bapak tahu kan tulang Eben itu tak pernah bisa menerima orang dari adat lain. Kenapa harus diundang” balasku menggerutu.
“Ya siapa lagi kepala adatmu kalau bukan dia? Kau mau pakai adat Jawapun dia akan tetap meminta kau sebagai keponakan tersayangnya. Tidak mungkin dia tidak ikut campur sama masa depan kau nak.” Balas bapak
Aku diam saja. Lalu bapak mencoba untuk menghubungi tulang Eben. Aku hafal reaksinya akan memberontak, melarang dan mencoba mempengaruhi bapak. Bapak pasti dari dulu juga sudah menduga ini akan terjadi. Karena dulu saat Bapak melamar Mamak, Tulang Ebenlah yang pertama menentang. Tulang Eben memang kakak satu-satunya Mamakku yang paling keras. Apalagi sejak kedua Opungku sudah meninggal, hanya Tulang Eben yang mengurusi Mamak sejak kecil. Sampai hari ini tulang Eben tak memiliki anak meski sudah menikah puluhan tahun. Itu alasan utama mengapa ia sangat selektif untuk mencarikan jodohku. Bapak dan Mamak pun harus menikah diam-diam sebelum akhirnya ketahuan oleh Tulang Eben dan mereka melalui hari-hari yang panjang untuk mendapat maaf dari tulang. Kecemasan ini tak terfikirkan sebelumnya. Aku melupakan tulang Eben sejenak berharap ada angin surga yang menggetarkan hatinya untuk menyetujui hubunganku dengan Bahri.
Minggu yang ditentukan sudah tiba. Tulang Eben dan istrinyapun sudah di rumah. Siang ini kami semua berangkat ke kediaman Bahri. Ternyata keluarga besar Bahri sudah menunggu. Terlihat jelas banyaknya mamak-mamak Bahri sudah menunggu kedatangan kami. Aku berharap semua akan lancar sesuai rencana.
“Selamat siang semua“ sapa Tulang Eben dengan suara lantangnya. Kau bisa bayangkan bagaimana nada suara tulangku berbicara.
Suasana hening terus hadir di pertemuan ini. Aku dan Bahri sudah mulai cemas sampai akhirnya Tulang Ebenlah yang mulai membuka kesenyapan ini.
“Jadi, kami dari keluarga keturunan Batak tulen ini sudah memenuhui permintaan saudara untuk hadir. Tapi, saya tidak tahu harus mengatakan apa kali ini. Apakah kita lanjut saja mengenai tanggal pernikahan mereka?”
“Maaf sekali bapak, sebenarnya pertemuan ini di rencanakan untuk meminta pihak perempuan melamar anak kami Bahri. Bukan sebaliknya. Setelah itu barulah kita semua bisa menyepakati pertunangan ini. Dalam adat kami begitu pak.” Seru salah satu mamak Bahri.
“Jadi kita mengikuti adat kalian ini?“ tanya tulang Eben menaikkan nada suaranya
“Warno bagaimana ini, kemarin kau janjikan pada saya pernikahan mereka nanti akan meleburkan kebudayaan berbeda. Bukan malah mengalah.“ Tanya Tulang Eben sambil melirik Bapak.
“bukankah kemarin kesepakatannya begitu bapak, ibu?“ tanya bapakku balik kepada orang tua Bahri.
“Maaf Pak, saya rasa kemarin bapak sudah mengerti. Jika saya meminta bapak untuk menyanggupi datang minggu ini bertemu keluarga besar Bahri, itu artinya keluarga bapak bersedia mengikuti adat kami pak. Adat Minangkabau setelah itu kita bisa resmikan batimbang tando ini.“ Jawab Ayah Bahri.
Sontak aku terperanjat kaget mendengar penjelasan Ayah Bahri ini. Ku kode Bahri, ia pun tak kuasa menjawab apa yang tengah di dengarkannya ini.
“Maaf sebelumnya pak, dalam adat jawa maupun batak perempuanlah yang akan mengikuti laki-laki. Jadi saya bisa menyimpulkan jika Roida akan bersama Bahri nantinya Roida akan mengikuti Bahri. Itu makanya saya meminta keluarga Roida hari ini menyetujui permintaan kami untuk menggunakan adat Minangkabau.“
“Kerena pada hakikatnya, lelaki minang tidak diperbolehkan menikah dengan wanita di luar sukunya. Karena kita lelaki minang tidak bisa menurunkan adat pada anaknya kelak. Namun karena saya melihat Bahri sudah cinta sekali pada anak bapak, saya beri jalan tengah. Jadi bagaimana keluarga Bapak apakah setuju melanjutkan acara Batimbang Tando ini?“ jelas Mamak Bahar, mamak Bahri yang paling tua.
“Saya tidak bisa terima ini. Kenapa dari awal bapak dan ibu tidak membahas masalah ini?“ seru mamakku tiba-tiba. Aku sambil menoleh cemas.
“Maafkan saya bu, sayapun lupa menyampaikan itu karena sebelumnya saya belum berdiskusi dengan mamak-mamaknya Bahri.“ Jawab Ibu Bahri
Saat itu suasana menjadi hening kembali. Namun isi kepalaku terus berteriak tidak percaya. Entah apa permasalahan sebenarnya yang terjadi di sini. tapi, mulutku sudah kelu saja. Benar kata orang, kita tidak bisa mengharapkan adat menyelesaikan masalah yang tak rumit begini. Tinggal saling mengalah saja tidak bisa. Aku muak dan langsung berlari meninggalkan perdebatan sia-sia ini. Ku lihat Bahri ikut menyusul. Tapi kali ini hati aku terasa begitu sekarat akibat ketidakberdayaan Hasianku.
“Roida, tunggu dulu. Kemana kau mau pergi?“
“Sudahlah Hasian, aku sudah dapat jawaban dari keluargamu. Keluagaku juga sudah secara jelas menolak ini.”
“tapi masalah ini kan belum selesai. Kau mau menyerah begitu saja?”
“Ku lihat kau tak melakukan apa-apa Bar. Kau niat tidak sih menikahiku?“ lalu aku kabur dari kesenyapan sore ini. Aku meninggalkan mereka berdebat dan menentukan masa depanku. Hari ini aku kalap dan menenggelamkan semuanya dalam hening yang mengacaukan.
***
“Hasianku, sudah pagi. Kamu tidak mau membuatkan sarapan untuk suamimu?“
Mataku terbuka pelan dan melihat sekeliling. Semua terasa berat saat berusaha untuk bangun. Ku lihat Anggi sudah rapi dengan kemeja dan jasnya. Sambil tersenyum aku bangkit dan memeluknya lalu berjalan menuju dapur menyiapkan sarapan untuknya. Pagi ini ku buatkan secangkir kopi dengan gula dua sendok dan roti panggang isi daging asap dan telur setengah matang, seperti kesukaan Bahri.
Bahri, Apa kabar?
***
with love, itijonas
Komentar