Langsung ke konten utama

dibuat hilang ingatan

dia berusaha menghapus kehadirannya dengan menjadi orang asing. dia berusaha membuat ku hilang ingatan dan lupa bahwa dia sempat melukis hari-hariku dengan penuh warna darinya. dia beri aku banyak pilihan agar lukisanku tidak hanya tentang hitam dan putih. dia berusaha menjadi dingin, agar aku menangis karena kehilangan panggilan darinya. 

berawal dari rasa cinta yang kecil, dipupuk dengan sejuta cerita dan tawa akan menghasilkan ruang-ruang baru yang begitu besar. aku tak menyadari, ruang itu tercipta dengan semua senyum-senyum yang muncul dari bibir tipisnya itu. dia tak menyadari, aku sudah tenggelam. lebih tepatnya, tidak memperdulikan itu. tapi dengan segenap usaha, aku harus naik ke permukaan. samudera sudah terbentuk di mataku, sedang sudut mataku kini beralih fungsi menjadi ladang air terjun. kepalaku terus saja berat, setiap kali sekelebat bayang wajahnya muncul dalam pandang. telingaku kerap salah menafsirkan suara-suara di sekitar, karena yang ku dengar hanya tawanya yang besar. 

caranya pamit tidak berhasil membuatku hilang ingatan. dia malah meninggalkan rindu yang sulit ku tuang dalam gelas yang mana. hari demi hari, ku kira tak akan ada kacau yang menemaniku. ku kira, kepergiannya hanyalah angin musim hujan yang sebentar lagi akan hilang. ternyata tidak. ternyata selama ini di mataku, dia mekar dengan indah, hidup tanpa mengenal musim dan tumbuh menembus akar logika ku. di beberapa waktu aku sulit bernafas, hanya dengan mengingat betapa mudah aku dilupakan olehnya. di tengah malam aku sulit memejamkan mata, hanya dengan berfikir bahwa aku tak pernah jadi suatu tujuannya. ku buat diriku sesibuk mungkin, agar mantra darinya untuk menghapus perasaan itu dapat bekerja lebih cepat. tapi selalu ku lihat dia di saat-saat tak terduga. kakiku lemas, mataku basah, aku termenung dan terdiam. dia hanya berlalu, melihat ku seperti orang asing yang tak pernah dijumpai. di saat itu aku terhenyuk, begitu mudah aku dihapus olehnya. semua ingatan yang berenang di memoriku, semua ingatan kecil yang memutar balik hidupku, baginya hanyalah film rusak.

aku berharap mantranya berhasil, sehingga aku tidak harus membenci kota ini. kepergiannya membuatku tak nyaman lagi berada di kota ini. seluruh kota ini, seperti menghancurkan semua sisa perasaanku. episode patah hati terakhir kalinya, terulang di tempat yang berbeda. aku tak sempat bilang padanya. tak sempat menjelaskan, mengapa dalam sedetik aku mampu menyayanginya. tak diberi kesempatan untuk katakan padanya bahwa kepergiannya seperti sebuah  trauma, padahal sebelumnya dia adalah obat yang tak sengaja ku temukan namun menyembuhkan. 

baginya, perasannya adalah yang paling penting. bagiku, menghargai keputusannya adalah yang terbaik. jika pilihannya adalah pergi dengan membakar semua alur cerita yang ada namaku di sana, aku akan berusaha pura-pura hilang ingatan untuknya. aku takkan menunjukkannya lagi, aku takkan tersenyum untuknya lagi, aku takkan menoleh kepadanya lagi dan aku takkan menunggunya di persimpangan lagi, agar nyaman hidupnya. 

aku hanya tempatkan dia dalam doa, agar keputusanku ini tidak semakin melukai hatiku.


with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...