dia berusaha menghapus kehadirannya dengan menjadi orang asing. dia berusaha membuat ku hilang ingatan dan lupa bahwa dia sempat melukis hari-hariku dengan penuh warna darinya. dia beri aku banyak pilihan agar lukisanku tidak hanya tentang hitam dan putih. dia berusaha menjadi dingin, agar aku menangis karena kehilangan panggilan darinya.
berawal dari rasa cinta yang kecil, dipupuk dengan sejuta cerita dan tawa akan menghasilkan ruang-ruang baru yang begitu besar. aku tak menyadari, ruang itu tercipta dengan semua senyum-senyum yang muncul dari bibir tipisnya itu. dia tak menyadari, aku sudah tenggelam. lebih tepatnya, tidak memperdulikan itu. tapi dengan segenap usaha, aku harus naik ke permukaan. samudera sudah terbentuk di mataku, sedang sudut mataku kini beralih fungsi menjadi ladang air terjun. kepalaku terus saja berat, setiap kali sekelebat bayang wajahnya muncul dalam pandang. telingaku kerap salah menafsirkan suara-suara di sekitar, karena yang ku dengar hanya tawanya yang besar.
caranya pamit tidak berhasil membuatku hilang ingatan. dia malah meninggalkan rindu yang sulit ku tuang dalam gelas yang mana. hari demi hari, ku kira tak akan ada kacau yang menemaniku. ku kira, kepergiannya hanyalah angin musim hujan yang sebentar lagi akan hilang. ternyata tidak. ternyata selama ini di mataku, dia mekar dengan indah, hidup tanpa mengenal musim dan tumbuh menembus akar logika ku. di beberapa waktu aku sulit bernafas, hanya dengan mengingat betapa mudah aku dilupakan olehnya. di tengah malam aku sulit memejamkan mata, hanya dengan berfikir bahwa aku tak pernah jadi suatu tujuannya. ku buat diriku sesibuk mungkin, agar mantra darinya untuk menghapus perasaan itu dapat bekerja lebih cepat. tapi selalu ku lihat dia di saat-saat tak terduga. kakiku lemas, mataku basah, aku termenung dan terdiam. dia hanya berlalu, melihat ku seperti orang asing yang tak pernah dijumpai. di saat itu aku terhenyuk, begitu mudah aku dihapus olehnya. semua ingatan yang berenang di memoriku, semua ingatan kecil yang memutar balik hidupku, baginya hanyalah film rusak.
aku berharap mantranya berhasil, sehingga aku tidak harus membenci kota ini. kepergiannya membuatku tak nyaman lagi berada di kota ini. seluruh kota ini, seperti menghancurkan semua sisa perasaanku. episode patah hati terakhir kalinya, terulang di tempat yang berbeda. aku tak sempat bilang padanya. tak sempat menjelaskan, mengapa dalam sedetik aku mampu menyayanginya. tak diberi kesempatan untuk katakan padanya bahwa kepergiannya seperti sebuah trauma, padahal sebelumnya dia adalah obat yang tak sengaja ku temukan namun menyembuhkan.
baginya, perasannya adalah yang paling penting. bagiku, menghargai keputusannya adalah yang terbaik. jika pilihannya adalah pergi dengan membakar semua alur cerita yang ada namaku di sana, aku akan berusaha pura-pura hilang ingatan untuknya. aku takkan menunjukkannya lagi, aku takkan tersenyum untuknya lagi, aku takkan menoleh kepadanya lagi dan aku takkan menunggunya di persimpangan lagi, agar nyaman hidupnya.
aku hanya tempatkan dia dalam doa, agar keputusanku ini tidak semakin melukai hatiku.
with love, itijonas
Komentar