ku pangkas habis harapan yang ku simpan untuknya. tiada lagi tangis yang akan ku keluarkan disela-sela malam yang sepi ini. ku hentikan mendengar lagu-lagu yang menyayat hati. memberikan hati pada orang yang sulit mencintaimu adalah hal yang sia-sia. memberikan yang terbaik untuk membuatnya nyaman berada di dekatmu juga hal yang terlalu berlebihan. dia terbiasa bersinar di mata banyak bunga, dia terbiasa menerima kenyataan bahwa dia takkan terluka hanya karena mawar berduri sepertiku. meskipun saat bersamanya aku dapat menjadi diriku sendiri, tapi aku tak bisa leluasa mengungkapkan perasaanku, demi sebuah perasaan yang harus ku jaga kenyamanannya. saat aku memiliki alasan untuk terus menjalin sebuah emosi, kupu-kupu dalam perutku terus menerus bermekaran. setiap ku tatap matanya yang besar itu, setiap ku dengar suaranya yang bercerita tentang hal-hal tidak penting, perasaan debar selalu jadi penguat bahwa, apa yang terjadi pada hatiku bukan hanya alasan untuk mengubur kesepian. debar itu hadir sebagai hadiah bahwa hatiku memang sedang dimiliki olehnya.
sampai pada waktu aku tak lagi memiliki alasan untuk bertemu dengannya. aku tak memiliki alasan lagi untuk bercerita tentang recehnya meme yang ku temukan di tiktok. tak memiliki alasan lagi untuk melihatnya serius bermain game favoritnya. ruangku benar-benar dibatas hanya karena hal yang masih menggantung di kepalaku.
rasanya, aku ingin memutarbalikkan waktu. harusnya, saat ku berikan surat cinta itu, aku tidak mencoba untuk melihat ke arahnya lagi. harusnya, aku tak terima panggilan darinya setelah itu. harusnya aku sudah bisa menebak seperti apa benang yang akan dia putus saat aku mulai mengikat kuat namanya. pepatah pernah mengatakan, "yang lebih cinta akan selalu kalah" dan hal itu terbukti dengan sempurna. aku selalu melihat dia dari sisi terbaiknya. meskipun dengan segudang cerita yang ku dengar tentangnya, tak pernah ku dengarkan mereka. bagiku, mengenalnya melalui dirinya sendiri adalah jawaban terbaik untuk melihat warna asli dari dirinya. aku mempelajarinya setiap hari, aku menandai apa-apa saja yang dia gemari dan apa yang tidak dia sukai. aku menjaga namanya dari setiap lapis lingkar pertemananku, ku rahasiakan dia sebagai orang yang sedang mengisi hatiku, agar dia tidak merasa terbebani dengan hatiku yang sebenarnya sangat menggebu-gebu. tapi aku tak cukup kuat untuk menariknya masuk dalam dunia ku. sembilan bulan mencintainya belum cukup kuat, untuk membuktikan betapa aku tak pernah bermain-main atas dirinya. energiku tiba-tiba sirna saat alasanku untuk mencintainya dibabat habis.
rasanya, ada waktu-waktu dimana aku harus bertemu dengannya lagi di saat perasaanku sekacau ini. hal yang bisa ku lakukan adalah berakting seolah aku tak keberatan dengan kepergian itu. aku melewatinya dengan gagah, dia membuang mukanya. kita seperti dua orang yang sedang mengikuti kontes, siapa yang bisa bertindak seolah menjadi orang yang paling tidak peduli. padahal sebelumnya yang ada di antara kita hanyalah tawa yang menyenangkan. tapi, aku tak punya alasan lagi untuk menjelaskan padanya bagaimana sulitnya hari-hariku untuk berusaha baik-baik saja setelah itu. aku mengerti pada setiap cerita akan banyak subjektivitas karena banyaknya sudut pandang. tapi, tulisan ini tidak lantas membuatnya menjadi pribadi yang buruk dan aku adalah orang yang paling dia sakiti. aku tidak mengkonsepkan hal-hal seperti itu. hal ini, menunjukkan betapa menyenangkannya mengenal dia hingga mampu membuatku jatuh cinta dengan benar dan tidak berlebihan.
tak ada alasan lagi yang bisa ku katakan selain, berharap dia selalu sehat dan bahagia dengan semua pilihan yang dia buat.
with love, iti.
Komentar