Langsung ke konten utama

Hujan terindah

"aku ingin senja yang sewarna dan hujan terindah untuk kita berdua"

semalam aku bermimpi kau pergi
semalam aku bermimpi kau hilang
aku takut
aku takut tak bisa melihat senja yang sewarna
aku takut tak bisa merasakan hujan yang indah
aku takut kau pergi

aku menutup mata sejenak
merasakan hangat yang kau berikan
menikmati senyuman yang kau hadiahkan
aku ingin selalu seperti ini
aku ingin membekukan momen ini
momen yang dimana hanya ada kau dan aku
bercengkerama menikmati waktu
aku ingin seperti ini berdua hanya dengan mu

apa ini akan berlangsung selamanya?
atau kau lakukan ini hanya sebagai salam perpisahan?
maaf, aku paranoid

hujan terindah yang telah di berikan tuhan sabtu itu
ku abadikan dalam memori indah
yang ku selipkan dalam rentetan doa
tapi aku masih saja takut
aku takut kehilangan

aku takut berlabuh lagi
aku takut hujan yang akan kurasakan tak sama lagi
salah kah jika aku terlalu mempercayaimu,
menunjuk mu sebagai pelabuhan terakhir?
aku lelah mencari, aku ingin berhenti
karena aku sadar sosok yang kucari telah ku temukan sejak lama

akankah salam rindu akan selalu bermain-main di pikiranmu?
aku ingin menikmati hujan terindah sekali lagi denganmu
tidak!
bukan sekali lagi maksudku selalu bersama mu
rindu mu dan rinduku berpadu padan
menciptakan romansa indah yang hanya kita dan hujan mengetahuinya
semoga mimpi semalam hanyalah bunga tidur
yang melelapkan jiwaku dan membangunkan pikiran ku
yang selalu memikirkan mu, kita hujan dan masa depan itu


write by  @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...