Langsung ke konten utama

Mereka belum tentu mengerti kita


“siapa yang tahu perasaan manusia? Siapa yang berhak melarang kita? Ini cerita kita bukan mereka dan mereka belum tentu mengerti kita”



Sepertinya kisah kita jika di gambarkan seperti “romeo dan Juliet” yang cerita cintanya banyak menuai kontra dari bebagai pihak, yang kisahnya begitu klasik hingga terlalu banyak yang menentang mereka bahkan banyak hati yang terluka olehnya. Tapi apakah kita se-dramatis itu? Apa kita memberikan darah kepada mereka atas dasar cinta kita? Siapa yang tau ..
Cinta tak seharusnya jadi bahan pembicaraan yang penuh sensasi. Mereka itu hanya hati yang bekerja melumpuhkan logika hingga membuat deretan senyum yang patut untuk dikatakan “wow”. Mereka itu gila, sehingga mereka yang terkena sengatannya pasti akan merasakan kegilaannya. Itu hal yang wajar. Aku mencintaimu..
Jadi apa yang salah dengan kita? Aku mencintaimu dan kau pun mencintaiku.  Simple. Itu sama sekali  tidak salah. Tapi apa yang membuat mereka mencoba merusak ­harmonisasi kita? Ucapan mereka terlalu membakar hati. Deskripsi mereka terlalu mendongeng tentang kita. Bahkan mereka tidak berfikir dengan wajar apa jalan cerita kita. Mereka tertawa bersama kita belum tentu mereka mengerti kita. Mereka hanya segelintir semut yang berusaha untuk merebutkan roti manis di depannya.

Ucapan bisa membunuh. Iya mereka membunuh batin menginjak dan meracuni hanya dengan beberapa dongeng nya. Aku tak begitu memikirkan tanggapan mereka. Karena aku tau belum tentu semua yang mereka katakan benar. Dan belum tentu juga yang mereka katakan itu adalah kita.  Karena mereka sama sekali tidak mengerti kisah kita. Tidak mengerti cinta kita. Bolehlah mereka mengucilkan perasaan kita, tapi sesungguhnya mereka sendiri belum bisa becermin untuk melihat dirinya sendiri.
Hey kamu, bersabarlah. Ini hanya sementara. Mereka juga akan menyadari cinta itu terkadang buta terkadang gila bahkan terkadang indah. Hanya saja mungkin mereka masih belum pernah merasakan kisah seindah kita. Kita yang punya cerita kita yang mengendalikannya. Bukan mereka. Karena mereka belum tentu mengerti kita :)


write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...