“siapa yang tahu perasaan manusia? Siapa yang berhak melarang kita? Ini cerita kita bukan mereka dan mereka belum tentu mengerti kita”
Sepertinya kisah kita jika di
gambarkan seperti “romeo dan Juliet”
yang cerita cintanya banyak menuai kontra dari bebagai pihak, yang kisahnya
begitu klasik hingga terlalu banyak yang menentang mereka bahkan banyak hati
yang terluka olehnya. Tapi apakah kita se-dramatis itu? Apa kita memberikan
darah kepada mereka atas dasar cinta kita? Siapa yang tau ..
Cinta tak seharusnya jadi bahan
pembicaraan yang penuh sensasi. Mereka itu hanya hati yang bekerja melumpuhkan
logika hingga membuat deretan senyum yang patut untuk dikatakan “wow”. Mereka itu
gila, sehingga mereka yang terkena sengatannya pasti akan merasakan
kegilaannya. Itu hal yang wajar. Aku mencintaimu..
Jadi apa yang salah dengan kita? Aku
mencintaimu dan kau pun mencintaiku. Simple.
Itu sama sekali tidak salah. Tapi apa yang
membuat mereka mencoba merusak harmonisasi kita? Ucapan mereka terlalu
membakar hati. Deskripsi mereka terlalu mendongeng tentang kita. Bahkan mereka
tidak berfikir dengan wajar apa jalan cerita kita. Mereka tertawa bersama kita
belum tentu mereka mengerti kita. Mereka hanya segelintir semut yang berusaha
untuk merebutkan roti manis di depannya.
Ucapan bisa membunuh. Iya mereka
membunuh batin menginjak dan meracuni hanya dengan beberapa dongeng nya. Aku tak
begitu memikirkan tanggapan mereka. Karena aku tau belum tentu semua yang mereka
katakan benar. Dan belum tentu juga yang mereka katakan itu adalah kita. Karena mereka sama sekali tidak mengerti kisah
kita. Tidak mengerti cinta kita. Bolehlah mereka mengucilkan perasaan kita,
tapi sesungguhnya mereka sendiri belum bisa becermin untuk melihat dirinya
sendiri.
Hey kamu, bersabarlah. Ini hanya
sementara. Mereka juga akan menyadari cinta itu terkadang buta terkadang gila
bahkan terkadang indah. Hanya saja mungkin mereka masih belum pernah merasakan
kisah seindah kita. Kita yang punya cerita kita yang mengendalikannya. Bukan mereka.
Karena mereka belum tentu mengerti kita :)
write by @istiqasuwondo
Komentar