Langsung ke konten utama

senja bukan milik kita


“Takkan ada yang berbeda. Takkan ada yang berubah. Selama kau percaya aku disana” itu yang selalu kau ucapkan ketika aku gelisah.
Katamu kita akan melihat pelangi setelah hujan. Katamu kita akan merubah warna senja.
Katamu.. katamu..dan lagi-lagi katamuu…

Kau buat ku percaya akan segala hal yang mustahil. Kau buat aku mengerti tentang hidup dan cinta. Kau buat aku mengingat semuanya dengan jelas tanpa ada satu hal yang harus aku lupakan. Bagaimana caramu berjalan. Bagaimana caramu tersenyum. Bagaimana caramu menyebut namaku. Dan semua tentang mu kau buat aku mengingatnya tanpa bisa aku tepiskan. Kau buat cinta tumbuh dihatiku, kau ukir begitu dalam hingga aku tak bisa lagi melihat kebelakang. Kau tutupi luka masa lalu ku. Kau berikan padaku selembar kertas putih dan kau meminta izin melukisnya sesuka mu. Aku percaya kau akan membawa ku ke tempat yang benar. Karena aku terlalu percaya padamu, aku bahkan terlalu yakin cinta yang kau tumbuhkan di hatiku akan berbalas. Seperti yang kau katakan kau menyayangiku terlalu banyak. Begitu pun aku.
Kau ukir kenangan seperti bagaimana kita bersentuhan dengan hujan, berkata bahwa semua terlalu indah untuk dilupakan atau lain halnya sebagaimana kau mengetuk pintu rumahku. Berlama-lama bercerita berbagai hal. Atau berkhayal bagaimana masa depan kita bahkan dalam beberapa lelucon yang sempat kau katakan  “kau masa depanku” yang membuat jantungku terhenti sejenak. Tak terbayangkan alangkah sejuk relung jiwa ku mendengar ucapanmu barusan. Walaupun kau hanya menganggapnya  sebuah lelucon tapi bagiku itu sangat berarti. Yang sempat membuat ku berfikir untuk tidak akan pergi dari mu. Aku ingat semuanya. Aku ingat bagaimana kau memberiku jaket hitam yang selalu kau banggakan untuk ku pakai. Kau katakan “itu lebih baik kau kenakan dari pada kau kedinginan” lagi-lagi kau membuat ku menghentikan nafas sejenak. Rasa sejuk kembali membasahi hatiku. Kau membuat ku hilang akal hingga detik ini rasa rindu yang selalu ku simpan masih belum terobati.

Tapi kini aku merasa menjadi orang asing. Aku merasa aku tak lagi mendapatkan posisi itu. Posisi yang dimana hanya ada kau dan aku. Aku merasa aku tak lagi mengenal senyummu. Aku merasa ada yang salah. Semuanya hambar. Aku rasa kau ingin mencoba mengatakan selamat tinggal tapi kau tak tau bagaimana caranya. Aku hanya terdiam melihatmu seperti itu. Pelangi yang kau janjikan padaku akan terlihat setelah hujan itu tak ada. Senja yang kau janjikan untuk kau ubah itu sama sekali terlupa. Sejenak aku berfikir ini seperti de javu. Iya ini seperti mimpi yang pernah ku ceritakan padamu! Awal yang begitu jelas terlihat. Mimpi yang kau katakan itu hanya bunga tidur. Dan takkan terjadi kepada kita. Dan kau katakan semua akan baik-baik saja. Kini sepertinya terjadi. Aku tak bisa berfikir jernih saat ini. Buliran hangat dari mataku sudah terlanjur membasahi pipi. Ia sulit di hentikan. Tanpa sadar terlihat tangan yang sudah berlumuran dengan darah. Aku hancur. Aku rusak. Aku mati. Begitulah kira-kira yang terpikirkan. Aku merasa dunia bukan lagi milik kita. Semuanya berbeda sejak terakhir kau ucapkan selamat malam padaku dan sedikit doa untuk menenangkan batinku. Dan setelah itu semuanya pudar tak lagi sama bahkan aku rasa itu mulai menghilang. Memang dunia bukan punya kita. Memang status spesial bukan milik kita. Memang waktu tidak berpihak pada kita. Dan memang hatimu sudah berubah. Meninggalkan luka, hujan, pelangi, senja dan bulan untuk ku nikmati sendiri. 
Jika memang seperti itu, kau katakan saja agar semuanya jelas. Aku tak pernah meminta mu untuk bertanggung jawab atas hatiku. Aku menikmatinya. terluka atau tidak itu urusan ku. Tapi aku mohon tegaslah aku juga perempuan. Sepertinya jika ini sudah jelas tak ada yang perlu kau katakan lagi. Tak perlu lagi kau beriku nasehat-nasehat yang selalu buat ku percaya. Aku tau itu tak lagi untukku. Tak lagi untuk hatiku dan tak lagi dari hatimu. Cintamu sudah berakhir. Aku sadar aku sudah terlalu banyak tertidur. Aku percaya takdir bukan milik kita. Tapi kali ini biar aku yang mengatakan padamu “aku dan hati ku. Kupastikan takkan berubah walau rindu akan berjuta menumpuk. Takkan pernah hilang”

Senja bukan milik kita. Menyerah saja tak perlu di teruskan. Itu sama-sama akan menyakitkan


 write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...