"jangan katakan apa-apa lagi! cukup.. aku sudah lelah" teriakan dari Sarah membuat suasana semakin tak terkendali.
"jangan seperti ini sar, kita bisa bicara baik-baik" lirihnya sambil menggenggam tangan sarah.
"sudah cukuplah, biarkan saja seperti ini, aku lelah terus-terusan berkompromi dengan cerita ini!" berlari meninggalkannya dalam tanda tanya yang tak terjawab
***
"aku mau pergi bareng Jiji, maaf ya aku nggak bisa nemenin kamu hari ini"
"yaudah gak papa, have fun ya!!" sambil tersenyum sarah berlalu.
"mereka semua memang beruntung, bisa mencintai dengan bahagia, bisa di cintai dengan tawa. posisi yang indah" gumamnya dalam hati.
memang begitu, mencintai memang indah, tertawa, menangis, berdua. jatuh cinta memang hal yang paling menakjubkan. tuhan memberikannya pada setiap manusia. mencintai dan di cintai. begitu seterusnya berulang-ulang, sampai pada akhirnya jatuh pada pelabuhan terakhir yang bernama jodoh. bisa merasakan cinta berkali-kali sebelum menemukan jodoh mungkin indah, patah hati, diobati seperti itu. tapi, kenapa hanya beberapa yang tidak bisa seperti itu? ini salah manusianya apa tuhan? tidak mengerti.
"jalan sendiri aja?" tiba-tiba lamunan Sarah buyar mendengar suara dari belakangnya
"memang kenapa?"
"kenapa nggak sama pacar? nggak punya ya?" ledeknya dari belakang. langkah Sarah terhenti, membalikkan badan dengan muka memerah dia menyahut "so what? aku juga bisa sendiri kali tanpa pacar!!"
"santai dong, aku kan cuma bercanda. rumahmu kan searah sama aku, sini pulang sama aku aja biar hemat ongkos" tawarnya dengan lembut
"nggak usah, makasih!!" dalam emosi yang berbalut amarah itu Sarah berjalan lagi dengan cepat. menaiki bis dengan buru-buru "dasar laki-laki" sahutnya sekali lagi
***
Coklat muda, bercampur abu-abu tua. terlihat sederhana namun itulah yang membuat Sarah betah berlama-lama. Kamar adalah dunianya yang hanya bisa di mengerti oleh mereka yang mengenal baik sifatnya. dinding yang penuh dengan poster para kartun dan super hero. semuanya berkumpul di dalam kamarnya. susuran rak buku penuh dengan komik imajinasi, novel fiksi, buku-buku pelajaran tersusun rapi di sudut ruang kamarnya. didinding juga ada beberapa koleksi foto yang ia pajang, dia dan sahabat baiknya. dari atap kamarnya tergantung mainan perahu, burung dengan berbagai macam warna. begitulah dunianya.
"kakak, makan malam dulu"
"gak usah ma kakak lagi bikin tugas" Sarah sehari ini memang tidak keluar kamar, apalagi makan. ia hanya berdalih mengerjakan tugas, padahal dia sibuk berbaring memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu ia fikirkan.
***
"Sarah itu kenapa sih? marah-marah terus kerjaannya. tapi kadang-kadang ketawa-ketawa nggak jelas kayak orang gila"
"oh Sarah memang seperti itu, dia cuma tertutup. aku juga sampai sekarang belum bisa ngebaca karakter dia"
"apa dia sudah punya pacar?"
"tidak. dia hanya sedang patah hati"
"patah hati? gadis yang terlihat seperti itu patah hati?"
"iya. ceritanya lucu. tapi dia memang seperti itu, kalau sudah sekali mencintai sulit sekali untuk melupakan, dia perempuan yang sulit jatuh cinta"
"memang ceritanya seperti apa? boleh aku tau?"
"aku nggak bisa ceritain itu ke kamu, kalau kamu tau, mending aku tanya langsung. aku takut salah ngomong nanti semuanya jadi kacau. aku takut dia nangis lagi"
***
hari minggu yang menyenangkan. mungkin mencari miniatur super hero untuk tambahan koleksi lebih bagus dari pada duduk di dalam kamar seharian. sambil melangkah mencari apa yang ia perlukan, ternyata apa yang ia inginkan terpenuhi. teriknya matahari yang membuat perutnya lapar, mencari kafe di tengah ramainya pengunjung.
"sendiri aja Sar?" sahut lelaki dari belakangnya yang membuat ia menoleh kaget
"loh ? kamu lagi -.-" kenapa selalu di dateng tiba-tiba sih? stalkerin ya?"
"ah kebetulan kali. ngapain sendiri? tumben nggak marah-marah lagi?"
"oh yang kemarin-kemarin maaf yah. maklum lagi pms bawaannya marah melulu"
"yaudah nggak papa, wah miniatur super hero keren. kamu suka ya?"
"banget" sambil menyeruput jus apelnya Sarah tertawa
"dasar wanita pemimpi"
"biarin, kadang kalau jadi pemimpi itu asik. kita sementara bisa ngelupain masalah yang ada di dunia. kita bisa tiba-tiba ketawa, kalau sebenernya hati kita pengen nangis Rob"
"bener juga sih, tapi kan kita juga nggak harus selamanya ada disana. perempuan dewasa itu bakalan menyelesaikan masalahnya dengan baik, bukan menghindar"
"ah Robi .. Robi bisa aja tumben dewasa"
"emang dewasa kali, pulang sama siapa? sama aku aja. udah lama nih nggak main ke komplek sebelah"
"emang mau nyari siapa? haha asalkan nggak bayar ya"
"sip boss"
***
-1 tahun kemudian- semua berjalan di jalur yang benar. sebagai langkah ternyata Robi berhasil memasuki dunia Sarah, mempelajarinya baik-baik, masih satu yang belum ia temukan, bagaimana hatinya.
"Robi!!! makasih, koleksi aku jadi nambah. kamu emang sahabat yang paling istimewa" sambil meletakkan miniatur para princess itu di atas meja koleksinya "tunggu aja disini aku ambilkan makanan dulu, nanti kita nonton film super hero baru yang aku beli kemaren" sambil berlalu sarah mengatakannya.
ini kesempatan untuk mencari tahu perempuan ini, ia menggeledah kamar sarah perlahan, membuka setiap lembaran buku, hingga berujung pada satu buku aneh bersampul abu-abu gelap, ukuran menengah, tebal dan sepertinya itu buatan sendiri. iya itu buku Diary Sarah! pelan-pelan ia membuka, membaca setiap helainya tertawa dan heran sampai pada akhirnya ia menemukan sepucuk surat yang masih belum di beli amplop ia membaca yang membuatnya tidak percaya
"tertulis untuk kau yang selalu mengisi hati,
hari ini apa kabarmu? aku begitu merindukanmu. hatiku masih saja seperti ini, menunggumu. aku sudah tidak bisa lagi berlabuh kepada hati yang lain. aku sulit. ini mungkin sudah lebih dari 2 tahun, tapi hasilnya sama, aku mencintaimu. dan aku terluka setiap harinya, mengingat namamu saja aku sudah menggila. kabarku selama ini tidak baik. mereka banyak menganggapku bodoh. tapi aku tidak memperdulikan mereka. karena aku tau, hati itu dipilih bukan memilih. dan hatiku sudah sejak dulu dipilih olehmu. aku masih mati rasa, kau disana bahagia bersama kekasih barumu. apa kau akan datang lagi? aku belum mengerti mengapa tuhan seperti ini. aku tidak tau sampai kapan aku bisa mencintaimu, yang jelas setiap harinya, tanpa kau di pandanganku pun, aku masih bisa jatuh cinta padamu.
'jika aku mulai rapuh, namamu yang mengokohkanku
jika aku mulai bimbang, kenanganmu yang membantuku
aku seperti ini saja, mencintaimu dalam diam
menunggumu dalam tanya
seperti cinta pertama yang tiada habisnya'
untuk, Raditya Anugrah
salam hangat padamu, dari hati terdalam
Sarah Amanda
kaget bukan main, ia bahkan tidak percaya apa yang ia baca. "Raditya Anugrah" tanpa diduga sarah melihat apa yang di lakukan oleh Roby, ia marah mengambil sepucuk surat itu lalu berbicara dengan nada amarah sambil terisak "kamu lancang! aku sudah bahagia bersahabat denganmu, aku sudah percaya padamu. kamu sudah aku izinkan masuk kedalam duniaku! tapi kenapa kamu harus lancang membaca privasi aku??!"
"tapi sar, dengar dulu..."
"jangan seperti ini sar, kita bisa bicara baik-baik" lirihnya sambil menggenggam tangan sarah.
"sudah cukuplah, biarkan saja seperti ini, aku lelah terus-terusan berkompromi dengan cerita ini!" berlari meninggalkannya dalam tanda tanya yang tak terjawab. Robi mengejarnya sampai benar-benar bisa meraih tangannya.
"Sarah berhenti! aku muak kekanak-kananakan kamu yang selalu lari seperti ini. aku bisa jelaskan!" teriaknya
"Raditya Anugrah, dia Kakak ku. aku hanya ingin mengenal bagaimana perempuan yang selalu ia ceritakan. kenapa kamu bisa seperti ini?"
dalam keterkejutan yang hebat Sarah terdiam lalu duduk dengan isakan tangis yang semakin menggila. "Dia jahat, lelaki yang dengan begitu saja meninggalkan ku demi perempuan lain. dia sudah tahu, aku perempuan yang paling sulit jatuh cinta. dia sudah berjanji tidak akan mematahkan hatiku, tapi kenyataannya? dia pergi. aku lelah menunggunya kembali, rasa cintaku sampai hari ini masih bergetar untuknya aku sakit Robi!"
"bagaimana bisa kamu tau dia bersama yang lain?"
"dia yang mengatakannya padaku"
"kamu salah besar. kakak ku bukan lelaki seperti itu"
"bela saja terus kakak mu itu. yang sudah jelas-jelas menghancurkan perasaanku"
tanpa berfikir panjang Robi memberhentikan taksi dari jalanan yang sepi itu, menyuruh Sarah masuk dan kemudian membawanya pergi.
"kita mau kemana?" sambil terus menangis
***
to be continued
write by @istiqasuwondo
Komentar