Langsung ke konten utama

Seperti cinta pertama #2


***
Komplek Perumahan Asri Jaya no. VI

"masuklah" 
Robi mempersilahkan Sarah untuk masuk. dengan ragu-ragu ia mengikuti Robi dari kejauhan ia melihat figura mantan kekasihnya di atas meja hias. tangisnya belum juga reda. sampai pada sudut rumahnya, Robi membuka pintu kamar, kamar yang juga mirip sekali dengan kamar yang dimiliki Sarah, ia heran setengah mati, sampai ia melihat sebuah kursi roda. di atas tempat tidur ada lekaki muda tanpa rambut. lesu, pucat, dan tak bisa berbicara apa-apa
"Radit!!!" teriaknya histeris. berlari menuju mantan kekasihnya itu, memeluknya dengan air mata yang tak bisa ia bendung. 
"kamu kenapa bisa seperti ini? selama ini kamu kemana aja? kamu bilang kamu punya pacar baru, itu sebabnya kamu memutuskan hubungan kita. Radit kenapa Rob?"
"Radit sakit, maaf dia tidak bisa berbicara dan mendengar lagi. dokter sudah memvoniskan umurnya hanya sebentar lagi. maaf aku selama ini memang sudah mengenali mu sejak awal, tapi aku hanya ragu bagaimana karaktermu yang sebenarnya. kau memang sulit terbaca, itu sebabnya aku dekat denganmu. aku ingin tahu seberapa besar rasa yang kau punya untuk kakak ku. aku hanya ingin memastikan, cinta kakak ku tidak bertepuk sebelah tangan"
"kenapa kamu tidak bilang dari awal? jadi aku bisa merawatnya, memberikan dia kebahagiaan tanpa ada hati yang dibunuh oleh tanda tanya sebesar ini. walaupun seperti ini aku takkan pernah bisa, meninggalkannya hanya karena penyakit ini, aku akan terus mencintai dia. selagi tuhan masih mengizinkan aku untuk tetap mencintainya akan ku lakukan!" dengan air mata ia menggenggam jemari Radit
"ini ada surat untukmu, sebelum dia seperti ini dia pernah menitipkan ini padaku, aku belum membacanya. tapi dia hanya mengatakan padaku, kalau kau boleh membacanya setelah ia pergi." sambil memberikan subuah surat kepada Sarah. menjelang malam, ia masih disana menemani kecintaannya yang terbaring lemah itu.
"sudah malam, besok saja menjaganya sepulang sekolah, biar aku antar kamu pulang"
"baiklaah"
dan hari itu, tanpa ia duga adalah hari terakhir pertemuannya bersama Radit. tepat di pukul 03:45 WIB tuhan menanggilnya meninggalkan segala dengan cintanya.
***

"belum kamu baca juga suratnya? ini sudah sebulan kepergiannya Sar" sahut Robi lembut
"aku takut" jawabnya singkat
"sudahlah, tak ada yang perlu kamu takutkan, lebih baik kamu mengetahuinya sekarang" 
sampai pada malam harinya ia terbangun dari mimpi yang mengejutkan, ia merintih, menangis. dengan segenap keberaniannya ia mulai membaca isi surat tersebut

Untuk Princess penggila dongeng yang aku sayang,
aku minta maaf jika selama ini, aku meninggalkan banyak tanda tanya besar di hidupmu. aku mungkin sudah menjadi lelaki terburuk yang pernah kau ketahui. aku tidak menuntutmu memaafkan kesalahanku. hanya saja satu hal yang perlu kau tahu, aku begitu mencintaimu, segenap jiwa dan ragaku sudah aku berikan untukmu. aku yang menjadi pengecutlah yang tidak bisa, mengatakan kebenarannya. aku terlalu takut kau khawatir akan keadaanku, maka dari itu aku mengarang segala cerita agar kau bisa membenci dan melupakanku dengan mudah.

Untuk Peri kecilku yang lucu,
memasuki kehidupanmu adalah hal paling gila yang pernah aku lakukan. bercengkrama dengan negri dongeng yang sering kau sebutkan. aku mencintai duniamu, sama hal nya aku mencintai dirimu. terimakasih untuk kisah cinta yang indah yang telah kau berikan. aku tidak ingin kau menunggu ketidak pastian, aku tidak ingin mengikatmu dengan cinta yang buta, belajarlah kembali mencintai pelangi yang lain sayang, aku ikhlas dan aku akan menjagamu dari atas sana. karena aku menyayangimu, jangan berfikir aku sudah mati, aku ada disana, dihatimu, aku akan menjaga tidurmu, dan memelukmu ketika kau ketakutan, hanya rasakanlah kehadiranku.

Untuk Super Hero tercantik yang pernah aku miliki,
Aku mencintaimu dari awal, dan pada akhirnya aku masih mencintaimu. Hanya namamu yang bisa membuat jantungku berdebar, hanya senyummu yang membuat ku kuat. tanpa alasan gombal aku menyatakan, dari mana tuhan menciptakan cinta, sesakit apapun luka, mencintaimu adalah bagian yang bisa ku abadikan selamanya. aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu 

pertama dan terakhir, cintaku  hidup karena namamu
i love you,  Princess Aurora


Pangeran Phillip
Raditya Anugrah
***
"dengan seperti itu, air matanya tak berhenti berlinang. pemikirannya tentang cinta, salah besar. cinta sejati memang ada. aku salah satunya, bagian yang sulit orang lain temui, dimana semua orang sibuk terus-terusan mencintai dan patah hati, aku hanya terus sibuk mencintai, hingga akhir namanya hidup dalam nadiku, dia bersamaku melewati waktu tanpa keinginan untuk menghapusnya. pusaranya adalah bukti bahwa dia milikku, dulu dan seterusnya. di sebelah pusaranyalah suatu saat nanti aku akan ditempatkan, menemaninya dalam kegelapan. hari ini, aku kan mencari penggantinya, walau tidak seperti dia, yang jelas aku bahagia bisa mengenalnya. dari hati terdalam, seterusnya cinta untuknya takkan pernah hilang, seperti cinta pertama yang tiada habisnya."


THE END



write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...