Langsung ke konten utama

tentang 2011

"When he holds you close, when he pulls you near. When he says the words. You've been needing to hear, I'll wish I was him 'Cause these words are mine, to say to you 'till the end of time. -bon jovi, always-" 


sesingkatnya lirik lagu itu, seperti itulah yang kau tuliskan padaku di tahun 2011 lalu, awal. iya awal tahun memasuki 1 bulan hubungan kita. dulu.  

"aku nggak tau mau ngirim apa lagi, tapi ini satu-satunya lirik lagu yang aku suka. waktu itu aku pertama kali mendengarnya dari seorang teman. kamu tau kan, aku memang tidak bisa berbahasa inggris dengan baik, tapi lirik lagu itu aku ngerti kok artinya"
begitulah sepenggal ucapan yang kau lontarkan. aku memberikan senyuman bahagia ketika mendengar kau mengucapkannya.

"kamu suka sama lagu itu? mungkin sebelum aku tau lagu itu kamu sudah dahulu mendengarnya. tapi itu usahaku memasuki duniamu sayang. aku harus bisa menggapai mu, menjadikan kebiasaanmu sebagai pedoman kelangsungan hubungan kita. bagaimana menurutmu?"
lagi-lagi kau bertanya, genggaman ponselku mulai bergetar, aku tak kuasa menjawab pertanyaan itu. hari itu yang kurasakan satu. 'aku mencintaimu'. sulit sekali mengatakannya hingga beberapa menit barulah ucapan itu keluar dari bibirku, bergetar, menitikkan airmata, bahagia.

singkat cerita di pertengahan 2011 kau kembali mengirimiku secarik kertas yang ku temui dibalik buku pelajaran ekonomi, yang baru ku ketahui ketika semua sudah berakhir. entah kapan kau selipkan kertas itu, aku tak tahu. 
"Now your pictures that you left behind are just memories of a different life. some that made us laugh, some that made us cry one that made you have to say goodbye. What I'd give to run my fingers thru your hair Touch your lips, to hold you near, When you say your prayers, try to understand. I've made mistakes, I'm just a man"
sambungan dari lirik di awal tahun lalu yang kutemui. tertegun sesaat memikirkan apa yang telah kau berikan ini. dengan tulisan tangan yang cakar ayam, diselembar kertas putih tertutupi amplop hijau. kamu apa kabar?

berada di akhir tahun 2011 semuanya pudar, tak tersisa. tak kutemui lagi ucapan selamat pagi, ucapan selamat malam, serta pertengkaran kecil yang menghasilkan gelak tawa, bahkan tak ada lagi lirik-lirik lagu yang berusaha kau kirimkan. berakhir. hingga jika aku tidak salah tanggal 26 Desember 2011 terakhir kali kau mengirimi ku sebuah pesan singkat yang kembali berisi lirik lagu, tapi kali ini bukan berbahasa inggris. atau bahkan kalimat romantis. kali ini cukup membuat langkah ku berhenti
"Mungkin suatu saat nanti kau temukan bahagia meski tak bersamaku bila nanti ku tak kembali kenanglah aku sepanjang hidupmu"


dan, kau pergi.. 
seterusnya tanpa berbalik lagi, meninggalkan sebuah kenangan yang hanya bernama 'sisa'. dan kini kau bahagia menemukan kisah yang kau idamkan. berbagi cerita indah bersama kekasih barumu. selamat atas kalian berdua :) semoga itu jalan terbaik. kau dan aku tanpa KITA



when the sun goes down, 'till the earth fall apart
memories just be memories 
song always be the song
without us, everything  will keep running :)




write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...